Rabu, 03 Mar 2021
radarkediri
icon-featured
Features

Anang Soetomo Mencari Kejelasan Identitas (2)

Sambung Hidup dengan Kerja di Bengkel

20 Januari 2021, 17: 23: 02 WIB | editor : Adi Nugroho

Anang soetomo

BERUSAHA: Anang, telah merasakan jati dirinya “seratus persen” laki-laki. Sudah dua bulan dia menjadi pekerja bengkel. Seperti saat ini dia menunjukkan kemampuannya memeriksa sepeda motor. (DEWI AYU NINGTYAS - radar kediri)

Share this          

Tidak tinggal diam. Begitulah kira-kira jalan hidup Anang Soetomo saat ini.  Meski kejelasan operasi ketiganya yang masih gulita, Anang yang berumur 21 tahun itu melanjutkan kehidupannya ‘menjadi laki-laki’ seutuhnya.

DEWI AYU NINGTYAS, KABUPATEN, JP Radar Kediri

“Menunggu dipanggil (operasi lanjutan, Red). Sampai kurus,” tutur Tutik. Begitulah kalimat yang terlontar dari ibunda Anang Soetomo saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri di kediamannya kemarin.

Dusun Tunggul, Desa Selopanggung yang terletak di antara hamparan hijau asri lereng Gunung Wiilis, Anang menjalani hari-harinya seraya menunggu kejelasan operasi ketiga. 

Tidak hanya berdiam diri di rumah, itulah sebutan yang tepat untuk sosok Anang Soetomo saat ini. Aktivitasnya sehari-hari tidak hanya di dalam rumah. Dia menjadi buruh tani di area persawahan sekitarnya. Itu sejak kondisi fisik Setu, sang ayah yang melemah. 

Ananglah yang sesekali menggantikan Setu pergi ke sawah bersama Tutik. “Ya, nggantosi Bapak niku teng sawah,” tutur  perempuan bertubuh tinggi kurus ini. 

Tidak hanya manjadi buruh tani lalu pulang ke rumah, remaja Desa Selopanggung itu juga berusaha menyempurnakan jati dirinya. Caranya dengan membagi waktu untuk bekerja di bengkel. 

Sejak pascaoperasi 2016 lalu, kesehariannya pun sudah layaknya laki-laki pada umumnya. Seperti saat ini, Anang yang sebelumnya memiliki nama Ani Khasanah menjadi pekerja bengkel. 

Jarak tempuh sekitar 2 kilometer ditempuhnya bersama Riski Rinaldo, keponakan yang juga pemilik bengkel tempat Anang bekerja. 

Setiap pagi hari sekitar pukul 07.00, Anang berangkat ke bengkel dengan menumpang motor Riski. Sebab dia belum memiliki motor sendiri. Bengkel yang berlokasi di Dusun Sumberagung, Desa Selopanggung, Semen itulah Anang menunjukkan kemampuannya. 

Sejak Desember tahun lalu Anang telah bekerja di bengkel tersebut. Menunjukkan kemampuan menangani berbagai keluhan konsumen. Seperti tambal ban, ganti kampas rem, dan ganti oli. Semua itu dipelajarinya secara otodidak. “Alhamdulillah, dapat pengalaman,” ungkap remaja yang saat ditemui mengenakan jaket putih itu. 

Dengan bekerja di bengkel, Anang mengantongi uang sekitar Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu. Kalau bengkel sedang ramai dia pun mendapat tambahan bonus. 

Tidak selalu berjalan lancar, selama bekerja di bengkel itu Anang merasakan kendala. Seperti kerumitan menangai sepeda motor yang harus mengganti gir. “Ya itu yang sulit, (ganti gir, Red),” ujar lulusan SMPN 2 Semen itu. 

Bahkan, saat ini Anang sudah mendapatkan amanah dari Riski untuk mengoperasikan bengkel sepeda motor itu seorang diri. Tiap hari pun Anang membuka, melayani konsumen, dan menutup bengkel itu sendiri. “Sekarang sendiri, Riski bekerja di Bandarmlati,” terang remaja tiga bersaudara itu. 

Saat selesai bekerja di bengkel itu, Anang juga diantar pulang oleh Riski. Sekitar pukul 19.00, bengkel telah tutup. “Kan belum punya motor  ,” ungkap lelaki berumur 21 tahun itu. 

Melihat kondisi Anang saat ini, Tutik berharap agar putra satu-satunya itu lekas menjalani operasi lanjutan. Itu agar Anang segera mengantongi identitas yang jelas. “Belum gadah KTP,” ungkap perempuan berbaju cokelat. (bersambung/dea)

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news