Selasa, 19 Jan 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Kisah Personel BPBD Kota Kediri Disengat Lebah saat Evakuasi Sarang

14 Januari 2021, 18: 11: 35 WIB | editor : Adi Nugroho

sarang tawon

DEMI TUGAS: Jaenal terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena mendapatkan sengatan lebah Vespa Affinis. (Dok Pribadi for radar kediri)

Share this          

Keganasan lebah Vespa Affinis tidak perlu disangsikan lagi. Tidak sembarangan orang bisa mengevakuasi sarang lebah tersebut. Bahkan yang telah berpengalaman pun tak lantas aman dari entupan sang lebah.

ANDHIKA ATTAR. KOTA, JP Radar Kediri.

“Meriang. Badan terasa panas-dingin. Terutama di bagian yang bengkak karena sengatan tawon Vespa Affinis.” Itulah penggalan pengakuan Jaenal Arifin. Salah satu personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri yang pernah disengat Vespa Affinis.

Keganasan lebah tersebut memang telah menjadi rahasia umum. Tak ada yang meragukannya lagi. Pada kasus yang relatif parah, korbannya tidak hanya akan merasa meriang saja. Bahkan, ada yang sampai meninggal dunia karena sengatan tersebut.

Oleh karena itu, setiap ada laporan sarang tawon tersebut masyarakat diminta tidak mengevakuasi secara mandiri. Pihak yang berkompetenlah yang melakukan evakuasi tersebut. Seperti petugas memadamkan kebakaran (PMK) dan BPBD Kota Kediri.

Jaenal mendapatkan pengalaman berharga tersebut pada akhir tahun lalu. Kala itu, pihaknya melakukan evakuasi sarang Vespa Affinis di Kelurahan Dermo, Mojoroto. Sesuai prosedur standar, ia bersama recuer lainnya pun telah memakai perlengkapan keamanan.

Sayangnya nasib kurang baik sedang menaunginya kala itu. Ditambah dengan cuaca sedang hujan. Praktis membuat proses evakuasi menjadi semakin susah. “Lokasi sarang tawonnya kebetulan juga susah dijangkau,” imbuh pria yang gemar bercanda tersebut.

Tak hanya sampai di situ saja. Atap yang dibuat pijakan Jaenal berbahan asbes. Ia mengaku sejatinya sedikit kebingungan untuk mengambil langkah. Takut ambrol katanya. Namun lantaran sudah menjadi tugas dan tanggung jawab, misi tersebut tetap dikerjakan oleh Jaenal dan rekan-rekannya.

Dewi fortuna ternyata benar-benar sedang tidak bersamanya kala itu. Bermaksud mengevakuasi, tanpa sengaja Jaenal justru menekan sarang tersebut terlalu keras. Dampaknya fatal. Sarang tersebut menganga lebih besar dari yang seharusnya.

Sepersekian detik. Gerombolan tawon yang merasa terusik itu pun langsung terbang berhamburan keluar sarang. Kondisi sempat tidak terkendali. Hanya saja, Jaenal berusaha tetap tenang dan menyelesaikan pekerjaannya.

Terlebih, alat perlengkapan keamanan telah dipakainya. Namun, secara tak disangka ternyata tawon tersebut agaknya terlanjur merasa marah dengan Jaenal. Dua sengatan didapatkannya kala itu. Ia tidak menyangka bahwa sengatan tersebut tetap dapat menembus jaket safety yang dikenakannya.

Satu sengatan didapatkan Jaenal di lengan sebelah kiri. Satu sengatan lagi di bagian tubuh yang cukup sensitif. “Satunya lagi di pantat sebelah kanan,” akunya dengan sedikit malu-malu.

Sengatan tersebut tidak lantas membuatnya tumbang. Bahkan, setelah misi dapat diselesaikan, ia dan rekannya kembali ke markas BPBD Kota Kediri dengan tenang. Namun, suasana berubah beberapa jam kemudian.

Tiba-tiba, Jaenal merasakan meriang pada badannya. Awalnya ia mengira efek kedinginan tidur di ruang ber-AC. Namun setelah ke luar dan berusaha menghangatkan badan, ternyata kondisi tersebut tak banyak berubah. Sontak ia menduga kondisi tersebut karena sengatan si tawon.

Ia langsung dilarikan ke rumah sakit. Di sana, Jaenal langsung mendapatkan perawatan dari tim medis. Benar saja, kondisi tersebut tidak lain disebabkan oleh dua sengatan yang didapatkannya saat evakuasi sarang tawon Vespa.

Jaenal menerangkan bahwa titik sengatan tersebut sampai membengkak. Rasanya panas. Terutama pada pada bagian tubuh yang bengkak tersebut. Namun, anehnya rasa panas tersebut hanya berpusat di situ saja. Di luar bengkak tersebut suhu tubuhnya normal.

Ia terpaksa harus menginap selama semalam di rumah sakit. Meski kondisi tubuhnya secara keseluruhan baik-baik saja, namun ia tidak diperbolehkan pulang. Barulah keesokan harinya ia benar-benar dinyatakan sehat.

“Tidak berselang lama, beberapa hari setelahnya saya ikut evakuasi sarang tawon Vespa lagi,” tandasnya sembari tertawa kecil.

Jaenal mengaku tak lantas kapok dengan pengalaman kurang mengenakkan tersebut. Rasa ingin menolong orang dan jiwa relawannya lebih membara dibanding sekadar dua entupan tawon saja.

Namun begitu, ia tetap tidak menyarankan masyarakat untuk melakukan evakuasi mandiri terhadap sarang tersebut. Biar pihaknya saja yang menangani. “Silakan melapor ke kami (BPBD, Red) atau teman-teman PMK Kota Kediri,” pungkasnya. (dea)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia