Minggu, 24 Jan 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

'Mbak Rini', ODGJ Asal Kediri yang Sembuh dan Kembali Hidup Normal

13 Januari 2021, 17: 14: 53 WIB | editor : Adi Nugroho

Mbak rini kediri

MANDIRI: Dyah Sulistyorini di depan rumahnya di Kelurahan Balowerti, Kota Kediri (22/12). Ia mengikuti jejak adiknya yang membuka jasa pijat. (DEWI AYU NINGTYAS - radar kediri)

Share this          

“Sini, masukkan motornya…,” suara halus dan pelan itu keluar dari bibir perempuan berdaster merah jambu, Selasa siang (22/12). Wajahnya teduh. Tenang. Dengan rambut yang memutih di beberapa bagian. 

DEWI AYU NINGTYAS, Kota, JP Radar Kediri 

Berdiri di depan pintu, ia mempersilakan wartawan koran ini untuk masuk ke rumahnya. Di salah satu gang sempit, lebarnya hanya sekitar satu meter, di Kelurahan Balowerti, Kecamatan Kota, Kediri. 

Dyah Sulistyorini, nama lengkap perempuan kelahiran 1960 itu. Ia terlihat sebagai sosok aslinya. Selazimnya orang dengan usia tersebut. 

Saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri siang itu, Rini sudah menyelesaikan aktivitas hariannya. Berbelanja ke pasar, memasak, lalu menghidangkannya untuk para penghuni rumah. “Ini tadi masak sop dan bikin perkedel kentang,” katanya. 

Bahan-bahan ia beli sendiri dari pasar. Terkadang dengan berjalan kaki karena jaraknya tak terlalu jauh dari rumah. Terkadang dengan menumpang becak. 

Dengan diantar tukang becak pula Rini biasa pergi ke kantor pos. Mengambil bantuan uang dan sembako. Mewakili sang ibu. “Kadang sepedaan. Saya mandiri sekarang,” ucapnya. Ia memang tinggal serumah dengan sang ibu, Sumiasih, yang sudah berusia 80 tahun. Ada pula dua saudara kandung dan seorang keponakan laki-laki. 

Semua aktivitas itu bisa dia jalani setelah pulang dari serangkaian rehabilitasi yang difasilitasi Dinas Sosial (Dinsos) Kota Kediri. Prosesnya tak sebentar setelah ia ‘diselamatkan’ oleh Satpol PP Kota Kediri dari jalanan, Februari 2019 lalu. 

Perempuan yang dulu lebih dikenal sebagai ‘Mbak Rini’ dengan rambut pirang serta dandanan menor itu sempat dikirim ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Radjiman Widiodiningrat Lawang, Malang. Tiga minggu ia dirawat di sana. 

Setelah membaik, ia dibawa pulang ke Kediri. Lalu, pengobatan dilanjutkan di RS Bhayangkara. Kemudian, diteruskan lagi di Puskesmas Balowerti yang lebih dekat dengan rumahnya. 

Selama perawatan dan rehabilitasi, Rini harus mengonsumsi obat-obatan. Juga harus menjalani sejumlah terapi. Selama itu pula, ibu dan saudara-saudaranya cukup telaten mendampingi. “Di rumah kami ajak melakukan aktivitas sehari-hari. Menyapu, mencuci, memasak,” kata Putut, sang adik. 

Selain itu, mereka gantian mengajak ngobrol Rini. Sebisa mungkin memperlakukannya seperti biasa. “Yang penting juga makannya, gizinya diperhatikan,” lanjut Putut.  

Dari dinsos, ada monitoring dan pendampingan rutin dari tim reaksi cepat (TRC) dinsos. Seminggu sekali ada obat yang diantar langsung petugas puskesmas ke rumah. 

Semua itulah yang membantu mempercepat pemulihan cedera jiwa yang dialaminya. “Sudah sembuh delapan bulanan ini,” ungkap Putut.

Kasi Rehabilitasi Sosial Dinsos Kota Kediri Sumarni mengatakan, dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran dalam mendampingi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Salah satu kuncinya adalah menyelami permasalahan yang menjadi beban pikiran yang bersangkutan. “Kita harus bisa menjadi teman curhat,” katanya.

Keluarga sebagai orang terdekat juga berperan sangat penting. Utamanya untuk memberikan kasih sayang. Begitu pula dengan para tetangga. Sebab, merekalah yang bergaul setiap hari. Pasien harus dibuat nyaman. Jangan sampai distigmatisasi. Sebab, stigma hanya akan semakin membuat sakit. 

Selain itu, jika ada problem ekonomi juga harus diselesaikan. Pada kasus Rini, pemerintah dan sejumlah pihak ikut memberikan bantuan untuk meringankan beban ekonomi keluarganya. Wujudnya berupa uang dan sembako. “Intinya harus ada sinergi dan kepedulian bersama. Pemerintah, keluarga, dan lingkungan sekitar,” kata Kepala Dinsos Kota Kediri Triyono Kutut. 

Kini, Rini juga sudah bisa bersosialisasi dengan tetangga sekitar. Pada waktu-waktu luang, tak jarang ia ngobrol bersama mereka. Pembicaraannya pun ‘nyambung’. 

Seperti saat berbincang dengan wartawan koran ini, Rini bisa mengisahkan perjalanan hidupnya dengan runtut. Meski, jika ditanya, jawabannya singkat. Dengan kalimat pendek-pendek. 

Setamat salah satu SMA swasta di Kediri, Rini pernah bekerja menjadi karyawan pabrik sepatu di Surabaya sampai Jakarta. Ia juga pernah menjadi sales produk kosmetik. 

Rini sekarang bahkan sudah berpenghasilan sendiri. Mengikuti jejak sang adik, ia membuka jasa pijat urat di rumahnya. Ongkos jasanya yang berdurasi satu jam sekitar Rp 50-60 ribu. 

Pelanggannya khusus ibu-ibu dan anak-anak. Wartawan koran ini sempat merasakan pijatannya yang lumayan enak. “Sudah ada pelanggan tetap yang datang sebulan sekali,” kata anak kedua dari enam bersaudara itu. Penghasilannya ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 

Sejauh ini Rini nyaman dengan pekerjaannya. Sebab, tak perlu keluar rumah. Tinggal menunggu. Lalu, mempersilakan masuk siapa saja yang sudah rela menyusuri gang sempit demi mendapatkan jasa pijatnya. “Sampai nanti tetap akan mijat,” tandas Rini. 

Cedera jiwa yang membuatnya sakit sudah mulai ia lupakan. Rini membuktikan bahwa orang-orang sepertinya bisa kembali hidup normal. Sebuah kebahagiaan tak terkira pula bagi sang bunda. “Terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu,” ucap Sumiasih. (hid)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia