Minggu, 24 Jan 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Budi Daya Bunga Mawar di Desa Ngliman, Sawahan Jadi Tumpuan

Harga Anjlok, Masih Raup Ratusan Ribu Rupiah

13 Januari 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Mawar

TURUN TEMURUN: Suwarni menunjukkan bunga mawar yang baru dipanen di kebunnya kemarin. Para petani di lereng Wilis menggantungkan pendapatannya dari hasil budi daya mawar. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Kebun bunga mawar yang banyak didapati di Desa Ngliman, Sawahan tak hanya sedap dipandang. Selama pandemi Covid-19 ini, para petani menggantungkan roda perekonomian mereka dari hasil bercocok tanam tersebut.

REKIAN, SAWAHAN, JP Radar Nganjuk

Menanam bunga mawar jadi pilihan mayoritas warga Desa Ngliman, Sawahan. Hawa dingin di daerah yang terletak di bawah Air Terjun Sedudo ini menanam bunga yang sering kali menjadi simbol cinta itu.

Aktivitas memanen bunga mawar pun jadi pemandangan yang jamak setiap pagi. Seperti dilakukan Suwarni, kemarin. Perempuan berusia 41 tahun itu tengah memetik satu per satu bunga yang sudah mekar sempurna.

Memakai topi untuk berlindung dari panas matahari, perempuan berjaket merah itu terlihat beberapa kali bolak-balik dari rumah ke kebun setelah berhasil memanen banyak bunga. “Orang tua saya sudah menanam bunga sejak tahun 80-an (1980, Red),” ujar Suwarni tentang budi daya bunga mawar yang dilakukannya.

Dia merupakan generasi kedua yang menanam bunga mawar. Tak hanya mewarisi tata cara menanam bunga, istri Sugeng Winarto bertekad untuk terus melanjutkan usaha orang tuanya itu.

Mayoritas warga Dusun Bruno, Desa Ngliman memang bekerja sebagai petani. Hampir setiap rumah di sana menanam cengkih. Sembari menunggu panen cengkih setahun sekali, warga di ujung selatan Nganjuk itu memutar otak agar bisa mendapat penghasilan tambahan selama masa tunggu tersebut.

Pilihan mereka jatuh pada bunga mawar yang dianggap sesuai dengan hawa dingin di sana. “Ada petani yang punya ribuan pohon bunga mawar,” lanjut Suwarni sembari menyebut dirinya hanya memiliki tanaman yang tak terlalu banyak.

Dengan lahan yang terbatas, setiap hari dia hanya bisa memanen sekitar dua kilogram bunga mawar. Meski hanya sedikit, dia tidak kesulitan memasarkannya. Sebab, sudah banyak pengepul yang setiap hari mengambil bunga di sana.

Dengan harga Rp 10 ribu per kilogram, ibu dua anak itu bisa mendapat uang Rp 20 ribu per hari. Penghasilannya akan naik berlipat saat puasa Ramadan atau menjelang lebaran. Harga bunga yang saat ini anjlok, naik menjadi Rp 100 ribu hingga Rp 125 ribu per kilogram. Dia pun bisa mendapat Rp 250 ribu dalam sehari selama Ramadan.

Penghasilan yang lebih besar didapat oleh petani yang memiliki lahan lebih luas. Misalnya, petani yang memiliki lahan sekitar satu hektare bisa memanen 20 kilogram bunga tiap hari. Uang jutaan rupiah pun langsung di tangan saat Ramadan.

Dengan hasil yang relatif menjanjikan, perempuan yang sudah akrab dengan perawatan tanaman bunga mawar sejak muda ini beranggapan budi daya bunga tidaklah ribet. Dia cukup memberi pupuk kimia atau pupuk kandang secara periodik. “Dua bulan sebelum puasa biasanya kami lakukan peremajaan,” tuturnya.

Semua tangkai bunga yang sudah tua dipotong agar berganti dengan yang muda. Selang dua bulan kemudian, sudah mulai bisa menghasilkan bunga-bunga segar.

Selain melakukan perawatan tanaman, Suwarni juga harus menata jarak tanaman bunga mawar untuk mendapatkan hasil yang baik. “Jarak satu tanaman minimal 1 meter,” jelasnya menyebut jarak tanaman tidak boleh terlalu dekat karena bunga bisa tumbuh dengan lebat.

Dengan pengaturan tanaman yang baik, Suwarni bisa mendapatkan hasil yang baik. Sayangnya, selama pandemi Covid-19 sejak tahun lalu, harga bunga mawar tak sebagus biasanya.

Dia mencontohkan saat Ramadan yang biasanya bisa menyentuh Rp 125 ribu per kilogram, tahun lalu hanya mencapai Rp 75 ribu per kilogram. Turunnya permintaan membuat harga tidak bisa naik setinggi sebelumnya.

Meski demikian, dia mengaku tetap bersyukur menjadi petani bunga. Sebab, tanpa perlu kesulitan memasarkan hasil lahannya, para pembeli dari Kediri, Madiun, dan Blitar sudah berdatangan ke sana. Bahkan, pada musim-musim tertentu petani dari Surabaya dan Boyolali, Jawa Tengah juga membeli panenannya.

Walaupun harga tak sebagus biasanya, Suwarni senang memiliki tanaman bunga mawar dalam kondisi wabah korona seperti sekarang. Sebab, saat perekonomian tak menentu, dia masih bisa mendapat penghasilan rutin setiap harinya. “Kami memilih menjual bunga mawar untuk tabur (di makam, Red). Karena beberapa kali membuat teh mawar atau dodol mawar juga mandek karena biaya,” jelasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia