Minggu, 24 Jan 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Nestapa Suraji, Kuli Angkut Pabrik Pupuk yang Lumpuh usai Kecelakaan

Tak Bisa Bekerja, Ditinggal Anak dan Istri

12 Januari 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Sosok

TAK BERDAYA: Suraji, 46, menunjukkan hasil foto rontgen dari RSUD Dr Soetomo Surabaya, di rumahnya Desa Kenep, Loceret (9/1). (WAHYU ARI YULIANTO - radarkediri.id)

Share this          

Kecelakaan yang dialami Suraji 2016 lalu jadi mimpi buruk berkepanjangan bagi pria berusia 46 itu. Tak hanya lumpuh dan menjadi pengangguran, dia juga ditinggalkan anak dan istrinya karena tak lagi berpenghasilan.

WAHYU ARI YULIANTO, LOCERET. JP Radar Nganjuk

Duduk di salah satu kursi ruang tamu rumahnya di Desa Kenep, Loceret, Suraji terlihat mengobrol dengan Jaerah, sang ayah, dan dua saudara laki-lakinya, sekitar pukul 09.30 Sabtu (9/1) lalu. Sesekali tawa muncul di sela perbincangan pagi itu. “Setiap hari ya begini ini. Mau apa lagi,” ujar Suraji kepada Jawa Pos Radar Nganjuk yang berkunjung ke rumahnya.

Sepintas tidak ada yang aneh pada pria yang memakai kaus tanpa lengan itu. Dia seperti orang normal kebanyakan. Hanya saja, jika diperhatikan mendalam terlihat ukuran kakinya yang jauh lebih kecil dibanding pria seusianya.  

Mengetahui koran ini memperhatikan kakinya, pria berusia 46 tahun itu langsung mereka ulang kejadian yang dialaminya 2016 lalu. “Saya lumpuh setelah mengalami kecelakaan,” lanjutnya dengan nada suara dan raut muka yang mendadak berubah.

Tatapan matanya tajam. Wajahnya sedikit memerah seolah menyimpan amarah. Demikian juga dengan bibirnya yang beberapa kali bergetar saat bercerita tentang petaka yang membuat hidupnya menjadi suram itu.

Pada suatu siang di tahun 2016 lalu, pria yang bekerja sebagai kuli angkut pabrik pupuk di Nganjuk itu mendapat tugas mengantarkan pupuk ke Kertosono. Duduk di belakang bersama beberapa rekannya, mereka mengantarkan satu truk pupuk. 

Setibanya di Desa Jetis, Tanjunganom, truk yang ditumpanginya mengalami patah as roda depan. Akibatnya, roda menggelinding sendiri dan truk langsung menabrak pohon di tepi jalan hingga terguling. “Muatan pupuk sembilan ton jatuh ke jalan,” kenangnya.

Suraji yang saat kejadian tengah tertidur di tumpukan pupuk tak bisa menyelamatkan diri. Dia tertimpa tumpukan pupuk tersebut. Dalam kondisi tersadar, anak nomor dua dari empat bersaudara itu sempat mengira jika dirinya sudah meninggal.

Apalagi, saat itu kedua kakinya tidak bisa digerakkan. Sejurus kemudian dia langsung mengerang kesakitan saat tumpukan pupuk yang mengenai kakinya dipindahkan. “Saya dibawa ke Puskesmas Tanjunganom, setelah itu dibawa ke RSUD Nganjuk,” lanjutnya.

Seminggu menjalani perawatan di RS milik Pemkab Nganjuk itu, dia dirujuk ke RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Di sana dia menjalani perawatan selama sebulan dan harus dioperasi tulang belakangnya.

Dia masih ingat betul perkataan dokter RSUD Dr Soetomo, Surabaya kepadanya. “Kalau dalam waktu empat bulan tidak menunjukkan kemajuan, berarti akan lumpuh selamanya,” tuturnya.

Perkataan dokter tersebut menjadi kenyataan. Hingga awal 2021 ini atau hampir empat tahun berselang dia memang lumpuh. Tidak bisa berjalan lagi. Bahkan, dua kakinya kini semakin mengecil.

Hingga saat ini, menurut Suraji dua kakinya itu kadang masih terasa sakit. Yang bisa dilakukannya hanyalah menahan rasa itu. Sebab, untuk pengobatan pada tahun 2016 lalu dia sudah mengorbankan banyak harta bendanya.

Tidak hanya harus menjual tanah, motor miliknya hingga sapi milik keluarganya juga habis terjual. Tetapi, dia tetap tidak bisa berjalan kembali seperti sebelum musibah itu datang.

Yang membuat pria berambut lurus itu lebih sakit, adalah saat dia mengingat kepedulian perusahaan yang menurut bapak dua anak itu masih kurang. Selama proses pengobatan yang menelan banyak biaya itu, menurut Suraji dia hanya mendapat bantuan Rp 3 juta.

Selebihnya, tidak ada lagi santunan atau bantuan dari perusahaan. Pun hingga dirinya tidak bisa lagi bekerja akibat musibah tersebut. “Menjenguk ke sini juga sudah tidak,” bebernya sedih.  

Yang membuat pria bertubuh kekar itu lebih sedih bukan itu saja. Yakni, kehidupan keluarganya yang berubah 180 derajat. Lumpuh yang diderita Suraji membuatnya kehilangan istri dan dua anak laki-lakinya.

Tiga orang yang disayanginya itu meninggalkan Suraji. Kini, Suraji hanya bisa tinggal di rumah bersama Jaerah dan Suratemi, orang tuanya. Dua lansia ini pula yang membantu aktivitasnya sehari-hari.

Untuk sekadar berpindah dari kursi roda ke kursi biasa di rumah, dia juga harus merangkak. Sesekali dia digendong karena tidak bisa beraktivitas sendiri.

Dalam keputusasaannya, masih tersisa asa agar dirinya bisa kembali sembuh. Suraji berharap ada orang yang peduli dan membantu pengobatannya. Sebab, berbagai upaya pengobatan yang pernah dilakukan tidak membuahkan hasil. “Saya ingin sehat lagi. Saya ingin bekerja kembali agar bisa bersama dengan anak-anak,” tuturnya dengan suara bergetar.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia