Minggu, 24 Jan 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Mereka yang Berusaha Menyelamatkan Diri dari Banjir Rabu Malam

08 Januari 2021, 17: 06: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

TERJANG BANJIR : Basroh menunjukkan lokasi rumah Lilik. Ani menyelamatkan barang-barang dari rumahnya yang tergenang kemarin (foto kanan)

TERJANG BANJIR : Basroh menunjukkan lokasi rumah Lilik. Ani menyelamatkan barang-barang dari rumahnya yang tergenang kemarin (foto kanan) (DEWI AYU NINGTYAS / JPRK)

Share this          

Lilik dan anak-anaknya panik. Luapan air Sungai Konto sudah mulai masuk rumah. Seandainya Basroh tak segera datang, entah apa yang terjadi pada keluarga ini.

M. DIDIN SAPUTRO-DEWI AYU NINGTYAS, Kabupaten, JP Radar Kediri.

Batang-batang kayu masih berserakan di bawah Jembatan Pucang kemarin pagi. Sisa yang terbawa banjir Rabu (6/1) malam. Menumpuk dan hampir menutup Sungai Konto itu, sungai yang membelah wilayah Kecamatan Kepung dan Kandangan.

Melihat batang-batang kayu itu, banjir yang terjadi Rabu malam tersebut terasa dahsyat. Sungai yang berhulu di kaki Gunung Kelud ini debit airnya naik. Akibat hujan yang mengguyur selama berjam-jam. Permukaan air nyaris menyentuh permukaan jembatan.

“Mirip banjir setelah letusan Kelud tahun 2014,” ujar Basroh. Basroh adalah ketua Paguyuban Kahuripan, sebuah paguyuban yang menaungi pencari pasir di Kali Konto. Tepatnya di  daerah dam Damarwulan.

Dari Basroh cerita banjir hebat Rabu malam itu tersaji. Hujan deras yang terjadi sejak sore membuat volume air semakin tinggi. Beberapa lokasi yang dilalui Sungai Konto tak luput dari sapuan derasnya air. Tak terkecuali di Jembatan Pucang yang masuk wilayah Kecamatan Kandangan.

Debit air yang naik itu memang tak setinggi ketika banjir lahar dingin Kelud pada 2014 yang sempat merendam rumah warga dan musala. Namun, Rabu malam, banjir yang terjadi sempat merendam salah satu rumah warga yang berada di bantaran Kali Konto.

“Malam itu, di dalam rumah ada seorang ibu dan lima anaknya. Sedangkan suaminya sedang bekerja di Satak, (Kecamatan) Puncu,” terang Basroh.

Mengetahui kabar air sungai semakin tinggi, Basroh kemudian memantau situasi di bantaran sungai. Yang menjadi tujuan utamanya memang rumah warga bernama Lilik. Warga yang rumahnya berada persis di bantaran Kali Konto.

Rumah lilik terendam air hingga paha. Saat itu, semua penghuni tak ada yang berani keluar.

“Lek aku gak iso metu (Paman, saya tidak bisa keluar, Red),” ujar Basroh menirukan ucapan anak-anak penghuni rumah.

Saat itu juga Basroh dan Symasul Huda, rekannya, melakukan evakuasi keluarga Lilik. “Dua anak saya gendong, dua lagi saya arahkan ke sawah yang lokasinya lebih tinggi,” jelas Basroh sembari menunjukkan lokasi sawah yang memang lebih tinggi dari rumah.

Saat evakuasi, Basroh sempat kesulitan karena air begitu deras. Apalagi satu-satunya jalan adalah lewat bantaran sungai yang saat itu sudah terendam banjir. Banyak ranting dan kayu mengenai kakinya. Salah melangkah sedikit saja bisa berakibat fatal.

Malam itu juga Basroh mengajak keluarga Lilik ke belakang musala yang lokasinya sekitar 200 meter. “Karena saya sudah hapal medan dan kondisi sungai, Alhamdulillah diberi keselamatan,” ungkap pria asal Dusun Jatirejo, Desa Damarwulan, Kecamatan Kepung ini. Yang ada di benak Basroh, yang paling penting adalah keselamatan nyawa anak-anak yang terjebak banjir tersebut.

Sementara, bagi Supraptiani, banjir bukan hal baru di rumahnya yang berada di Perumahan Griya Persada Permai, Desa Kwadungan, Kecamatan Ngasem. Selama tiga  tahun tinggal di tempat itu dia sudah mengalami banjir sebanyak dua kali. Namun yang paling hebat adalah banjir Rabu malam itu.

Air menggenangi rumahnya hingga tiga puluh sentimeter. Semuanya terendam air, mulai teras, dapur, hingga warung makan yang menjadi ladang usahanya.

Sebelum air menggenangi rumahnya, saat itu Ani, panggilannya, tengah bersantai usai menutup warung. Hujan deras yang lama membuatnya memilih menutup warung lebih awal. Beristirahat.

Perasaan Ani sudah tak enak. Dia merasa banjir akan terjadi seperti tahun sebelumnya. Dia pun berusaha mengecek saluran pembuangan air untuk mesin cuci. Dari tempat itu air terus naik. Upayanya meredam dengan kain lap tak berhasil.  Air masih terus menggenang.

Saat hujan mulai mereda, ada kelegaan sejenak. Dia sempat membersihkan diri setelah peluh membersihkan rumah. Namun, tak berselang lama, genangan air justru memasuki rumahnya dari arah depan. Tepatnya dari jalan menuju teras, kemudian masuk ke dalam rumahnya. Sekitar pukul 20.00 WIB itulah debit air mulai meninggi. Setelah sekitar empat jam hujan deras dan angin kencang terjadi.

Saat itu, perempuan beranak dua tak memiliki persiapan apapun. Tidak menyangka jika akan terjadi banjir. Alhasil, barang-barang di dalam rumahnya pun terpaksa terendam air. Termasuk alat memasaknya.

Genangan air yang tinggi itu membuat dia dan keluarganya memilih mengungsi. Yang dituju adalah rumah teman suaminya di Desa Sambiresik, Gampengrejo. “Anak saya ungsikan semalam, ini cek barang,” ungkap perempuan berusia 41 tahun ini.

Ani sehari-hari menjual makanan, aneka jus buah, gorengan, katering, dan menitipkan gorengan di warung-warung lainnya. Kondisi banjir ini pun lantas membuatnya sementara berhenti berjualan. “Ya gimana, tidak jualan dulu,” ungkap Ani, di sela-sela memperlihatkan kondisi rumahnya. (fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia