Minggu, 24 Jan 2021
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Banjir Bandang di Lereng Kelud, Genangan Air di Permukiman Kota Kediri

Cuaca Ekstren Bisa Terjadi hingga Februari

08 Januari 2021, 16: 59: 20 WIB | editor : Adi Nugroho

PENUH KAYU: Warga melintas di dekat tumpukan kayu yang ada di Kali Tengah, Besowo, akibat terbawa arus banjir yang terjadi Rabu (6/1) lalu.

PENUH KAYU: Warga melintas di dekat tumpukan kayu yang ada di Kali Tengah, Besowo, akibat terbawa arus banjir yang terjadi Rabu (6/1) lalu. (MOCH. DIDIN SAPUTRO/ JPRK)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri- Bencana hidrometeorologi akhirnya benar-benar jadi ancaman di awal tahun. Seperti banjir yang terjadi Rabu (6/1). Banjir yang terjadi hampir merata di daerah-daerah Kabupaten Kediri ini terjadi akibat hujan deras yang turun hingga berjam-jam tanpa henti.

Ironisinya, kondisi seperti ini diperkirakan masih akan terjadi. Sebab, cuaca ekstrem masih berpotensi muncul hingga bulan depan. Karena itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan.

Khusus banjir yang terjadi Rabu malam itu, ada belasan daerah yang terdampak paling parah. Hingga kemarin masih ada genangan di permukiman warga yang belum surut. “Hingga hari ini (kemarin, Red) yang masih terdampak adalah di perumahan Kwadungan,” ujar Plt Kalaksa BPBD Kabupaten Kediri Slamet Turmudi.

Berdasar hasil peninjauan personelnya, bencana terjadi hampir merata di seluruh wilayah Kabupaten Kediri. Termasuk di Lereng Gunung Kelud. Beberapa sungai di tempat itu juga meluap airnya. Mengakibatkan beberapa jembatan di Desa Besowo, Kecamatan Kepung tersumbat material kayu yang terbawa dari hulu.

“Untuk yang di Besowo kami sudah kirim dua alat berat untuk membersihkan material kayu yang menyangkut di bawah jembatan,” katanya.

Kemudian, titik lain yang parah adalah terputusnya jembatan penghubung antardesa di Kecamatan Kayenkidul. Yakni jembatan yang berada di Desa Padangan. Putusnya  jembatan itu membuat arus sungai terhambat.

Selain itu, sejumlah tanggul sungai juga jebol. Seperti di Desa Datengan, Kecamatan Grogol dan di Desa Bangsongan, Kecamatan Kayenkidul. Kemudian cekdam di Desa Siman yang menghubungkan Kecamatan Kepung dan Kasembon, Kabupaten Malang juga jebol. Ada juga pohon tumbang di daerah Papar, Purwoasri, dan Kunjang. “Personel kemarin sudah keliling dan bekerja maksimal,” tandasnya.

Terkait cuaca di awal tahun ini, Slamet mengingatkan pada masyarakat untuk tetap mewaspadai cuaca ekstrem. Termasuk potensi bencana jika hujan deras terjadi di wilayah Gunung Kelud dan Wilis. Sebab, jika di daerah atas terjadi hujan lebat, maka daerah yang paling terdampak adalah di kawasan lereng.

Ia mengatakan bahwa masyarakat dihimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem hingga bulan Februari. Kewaspadaan itu terutama dari dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan juga kondisi jalan yang licin.

Untuk banjir, dari peta BPBD adalah di sekitar aliran sungai d Purwoasri, Papar, Tarokan, Banyakan dan Grogol. Kemudian longsor di Mojo, dan Semen. “Kami terus intensif komunikasi dengan pegiat kebencanaan dan tim siaga bencana desa untuk antisipasi bencana yang terjadi di musim penghujan ini,” pungkasnya.

Genangan air juga masih terlihat di Perumahan Griya Persada Permai dan Kwadungan Asri Gampengrejo. Menggenang sekitar 350 hunian.

Ketinggian genangan air di perumahan itu pun tidak sama. Di blok A, B, dan C genangan air sekitar 40 sentimeter, sedangkan di blok D, E, dan F capai 60 sentimeter.

Kades Kwadungan Abdul Kamid mengatakan, wilayah yang terdampak banjir di Perumahan Griya Persada Permai dan Kwadungan Asri Gampengrejo masuk dalam cakupan dua desa. Yaitu Desa Kwadungan dan Desa Sambirejo.

Sekitar delapan puluhan KK dalam catatan administratif Desa Kwadungan terdampak banjir. Sisanya merupakan warga Sambirejo maupun warga di luar daerah itu belum mengurus perpindahan tempat.

Melihat kondisi banjir yang belum surut hingga hari ini, pihaknya berupaya untuk subsidi logistik warganya. Dengan menyiapkan kebutuhan makan sehari-hari di warung sekitar. “Sudah booking, disiapkan untuk warga yang masih bermukim,” jelasnya.

Banjir juga merendam 5 hektare sawah. Untungnya tak banyak kerusakan yang diakibatkan karena rata-rata petani baru melakukan tanam padi.

Terkait dengan banjir ini, Kamid berharap pemkab segera membuat sudetan di sungai Kresek ke sungai Brantas. Hal itu diperlukan agar genangan air cepat surut tanpa menunggu debit air di bendungan surut.

Banjir juga menerjang wilayah Kota Kediri. Ada sembilan rumah di Kelurahan Ngampel, Kecamatan Mojoroto yang terendam. Meskipun begitu, kerugian akibat kejadian tersebut ditaksir minor.

Berdasarkan data yang dihimpun koran ini, banjir luapan cukup terasa di Kelurahan Ngampel dan Banjarmlati, Kecamatan Mojoroto. “Memang ada yang sempat masuk rumah tapi segera surut. Kerugian nihil, barang elektronik pun aman,” ujar Operator Tim Reaksi Cepat BPBD Kota Kediri Jaenal Arifin.

Saat pihaknya melakukan asesmen di wilayah tersebut, ketinggian air di jalan sempat mencapai ketinggian 50 cm. Sedangkan yang masuk ke rumah rata-rata sekitar mata kaki orang dewasa. “Beberapa petak sawah juga ada yang terendam tanaman padinya,” imbuhnya.

Lebih lanjut, banjir luapan di wilayah tersebut diduga kuat lantaran hujan deras yang mengguyur mulai pukul 16.00. Tidak hanya hujan dengan intensitas tinggi saja, kondisi tersebut juga diperparah dengan angin kencang dan petir.

Selain itu, pihaknya juga menemukan tanggul yang rusak di Perum Griya Melati Kelurahan Banjarmlati, Kecamatan Mojoroto. Menurut Jaenal, hal tersebut juga memperparah kondisi banjir luapan yang ada di wilayah itu.

Berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan pihaknya, tercatat ada 12 titik yang terjadi banjir luapan tersebut. Baik yang terjadi di jalanan maupun yang ada di permukiman warga. “Kami juga menemukan adanya beberapa titik pohon tumbang,” sambungnya.

Pada Rabu  malam tersebut, ada tiga titik pohon tumbang yang ditangani pihaknya. Yakni di Jalan MH Tamrin, Jalan Hayam Wuruk, dan Jalan Mauni. Lalu pada Kamis (7/1) pagi pihaknya kembali melakukan evakuasi pohon tumbang.

Pagi hari kemarin timnya melakukan pemindahan pohon tumbang di Perumahan Mojoroto Indah, Gedung GNI, dan di tribun utara Stadion Brawijaya. “Tidak ada korban jiwa akibat kejadian tersebut,” tandas pria yang juga aktif sebagai relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Kediri tersebut.

Sore harinya, meski hujan deras kembali mengguyur Kota Tahu, pihaknya mengatakan bahwa kondisi relatif aman. Tidak ada laporan banjir atau pohon tumbang yang masuk ke BPBD Kota Kediri. “Relatif aman, tetapi kami tetap melakukan pemantauan,” tandas Jaenal.

Sementara itu, banjir luapan yang menerjang perumahan juga terjadi di Bumi Asri, Kelurahan Kaliombo, Kecamatan Kota. Air sempat masuk ke dalam rumah setinggi mata kaki. Meskipun begitu, tidak ada barang berharga yang sampai rusak akibat kejadian tersebut.

“Hanya ada buku dan kertas yang basah karena belum sempat dipindah,” ungkap Ngesthy Wahyu, 41, salah satu warga setempat.

Ngesthy mengatakan bahwa luapan air terjadi lantaran hujan deras yang mengguyur daerah tersebut. Ditambah, sungai di dekat tempat tinggalnya tidak dapat menampung debit air yang tinggi. (din/c2/tar/fud)

Dampak Hujan Deras Rabu Malam

Wilayah Kabupaten :

Tanggul jebol        : Datengan, Grogol ; Bangsongan, Kayenkidul

Banjir Bandang     : Besowo; Damarwulan; Kandangan; Siman

Genangan             : Kwadungan, Ngasem; Persawahan Tarokan

Kota Kediri :

Beberapa wilayah tergenang, yaitu : Jalan Panglima Polim; Lingkungan Kelurahan Semampir; Jalan Semeru; Simpang 4 Muning; Jalan Brawijaya; Jalan Mayor Bismo; Lingkungan Kelurahan Balowerti; Jalan Penanggungan; Jalan Hasanudin; Daerah sekitar Kali Kresek Kelurahan Ngadisimo; Lingkungan Kelurahan Ngampel; Perum Griya Melati Kelurahan Banjarmlati

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia