Minggu, 24 Jan 2021
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Bawa Sajam, Pelaku Pakai Cadar saat Beraksi

Polres Nganjuk Merilis Sembilan Tersangka

08 Januari 2021, 15: 45: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

Pelaku

KENA BATUNYA: Kapolres AKBP Harviadhi Agung Prathama (3 dari kanan) dan Kasatreskrim Iptu Nikolas Bagas Y. K. (kiri) menunjukkan sejumlah bukti kasus pengeroyokan yang diamankan Polres Nganjuk bersama dua perwira lain kemarin. (Iqbal Syahroni- radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Pengamanan tujuh pemuda yang kedapatan membawa senjata tajam (sajam) pada Senin (4/1) lalu membuka fakta baru. Bersama dua tersangka lain mereka terlibat aksi pengeroyokan di sejumlah lokasi. Bahkan, sebagian pelaku juga nekat membawa sajam dan menutupi wajahnya dengan carat saat berbuat onar.

Sembilan pemuda yang terlibat pengeroyokan adalah BPS alias Gerandong, 22, warga Jalan Semeru Desa Kudu, Kertosono; BT alias Lalo, 26, asal Desa Banjaranyar, Tanjunganom; MR alias Saleho, 23 warga Desa Kudu, Kertosono. Kemudian,  RBS, 25, warga Desa Bungur, Sukomoro; dan FBA, 23, warga Kelurahan Kapas, Sukomoro.

Selain kelimanya, ada empat pelaku yang berstatus pelajar. Yaitu, MF, 15, asal Desa Sonobekel, Tanjunganom; EW, 17, asal Desa Ngadirejo, Tanjunganom. Kemudian,  DZ, 17, asal Desa Sugihwaras, Patianrowo; dan AM, 19, warga Desa Lambangkuning, Kertosono. “Tiga pelajar (yang usianya di bawah 18 tahun, Red) kami minta untuk wajib lapor didampingi orang tua,” ujar Kapolres Nganjuk AKBP Harviadhi Agung Prathama dalam rilis kasus pengeroyokan kemarin.

Adapun AM yang sudah berusia 19 tahun tetap ditahan bersama lima tersangka lainnya. Harvi menjelaskan, sembilan pemuda tersebut merupakan satu kelompok. Perbuatan mereka selama ini sering meresahkan masyarakat. Bahkan, dalam aksinya mereka tak segan melukai warga baik dengan tangan kosong atau memakai senjata tajam.

Perwira dengan pangkat dua melati di pundak ini menjelaskan, ada enam

tempat kejadian perkara (TKP) pengeroyokan yang mereka lakukan. Dua lokasi di Kecamatan Kertosono. Kemudian, di Kecamatan Patianrowo, Kecamatan Tanjunganom, Kecamatan Nganjuk, dan Kecamatan Baron masing-masing satu lokasi. “Motif pelaku melakukan pengeroyokan bermacam-macam,” jelas mantan Kapolres Kota Batu ini sembari menyebut aksi dilakukan pada 2019 dan 2020.

Dia mencontohkan Gerandong yang mengaku mengeroyok karena ikut-ikutan teman. “Sebelumnya kerja di Surabaya, buruh bangunan. Sudah tidak kerja lagi,” sambung Gerandong saat ditanyai Harvi.

Jika awalnya ikut-ikutan, Gerandong yang merasa dendam lantas mendalangi pengeroyokan di tiga lokasi. Mulai di Traffic Light Baron pada 29 Desember 2020, di pertigaan jalan Desa Juwono, Kertosono pada 19 Desember 2019, dan di dekat lapangan Desa Bangsri, Kertosono di hari yang sama.

Selain sembilan tersangka tersebut, menurut Harvi ada dua tersangka lain yang masuk daftar pencarian orang (DPO). Dua pelaku ini, menurut Harvi tergolong sangat berani. Bersama DZ, 17, mereka beraksi dengan mengendarai motor yang plat nomornya ditutup. “Pelaku memakai cadar dan membawa pisau penikam saat digeledah di Jl Ahmad Yani, Warujayeng,” jelasnya sambil menyebut DZ juga terlibat pengeroyokan di Desa Babadan, Patianrowo.

Untuk diketahui, selain mengamankan sembilan pemuda, polisi juga menyita sejumlah barang bukti. Mulai empat senjata tajam, dua pakaian, dan empat sepeda motor yang digunakan saat aksi penyerangan.

Kasus pengeroyokan, menurut Harvi menjadi atensi Polres Nganjuk. Sebab, mulai 2019 sampai akhir 2020 total ada 11 korban. Untuk mencegah hal serupa terjadi tahun ini, Harvi mengaku akan menggandeng para kepala desa di Nganjuk untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia