Minggu, 24 Jan 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Aryandra H. B. A.  dan Pengalamannya sebagai Duta Pemuda Indonesia

Sukses Kenalkan Kerupuk Pecel Kota Angin

08 Januari 2021, 15: 37: 06 WIB | editor : Adi Nugroho

Ary

BERTALENTA: Aryandra Hanggara B. A. mempraktikkan salah satu gerakan tari yang dibawakan di ajang Duta Pemuda Indonesia. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Berawal dari iseng, Aryandra berhasil mewakili Jawa Timur di ajang Duta Pemuda Indonesia. Kecakapan dan kepandaiannya membuat pemuda asal Kelurahan Werungotok, Nganjuk ini berhasil melewati berbagai tahapan seleksi yang tak mudah.

REKIAN, NGANJUK,JP Radar Nganjuk

Di usia 25 tahun, Aryandra Lucky Hanggara Bayu Ajie tak lagi bisa banyak bermain seperti sebelumnya. Hampir seluruh waktunya habis untuk bekerja. Kesibukannya membuat pemuda asal Kelurahan Werungotok, Kota Nganjuk itu tak mudah ditemui.

Di waktu senggangnya, pemuda dengan pembawaan santai ini menyempatkan diri untuk berbincang dengan Jawa Pos Radar Nganjuk di Gedung Juang 45. Sejumlah cerita tentang keikutsertaannya di ajang Duta Pemuda Indonesia mengalir di sana. “Sudah bawaan lahir, cara ngomongnya begini,” ujar pemuda komunikatif ini sambil sesekali melempar senyum.

Gaya komunikasinya memang termasuk salah satu kelebihan saat mengikuti rangkaian seleksi Duta Pemuda Indonesia hingga tingkat nasional. Andra, sapaan akrab Aryandra, menyadari betul jika komunikasi adalah hal yang sangat penting.

Ditambah dengan wawasan dan kepercayaan dirinya, pemuda kelahiran 30 Mei 1995 ini langsung mendapat poin plus. Meski demikian, dia tidak pernah menyangka bias melangkah hingga ke tingkat nasional dan mewakili Jawa Timur. “Bangga bisa mengenalkan Nganjuk dan Jatim ke daerah lain,” lanjut peraih cumlaude D3 Bisnis Pariwisata, Universitas Brawijaya (UB) Malang tersebut.

Sebelum dipilih mewakili Jatim, Andra memang harus menjalani semua tahap seleksi di Kabupaten Nganjuk. Waktu itu, dia mendapat informasi Duta Pemuda Nganjuk lewat Instgaram yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Nganjuk. Pendaftarnya mencapai ratusan orang.

Proses seleksi mulai wawancara, perform, dan tes tertulis dilalui tanpa hambatan yang berarti. Dia dituntut memiliki pengetahuan mulai kesehatan, wisata, dan seni. “Sejak awal saya selalu perform tarian modern,” aku lulusan SMKN 1 Nganjuk yang membawakanpopping dance itu.

Rasa optimistis langsung muncul saat pengumuman pertama. Dari tiga besar yang disebut, namanya di urutan pertama. Ia pun mewakili Nganjuk untuk seleksi Pemuda Indoesia tingkat Jatim.

Dia pun terus berlatih dan belajar. Andra harus melawan perwakilan dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur. Waktu seleksi di tingkat provinsi, ia diwajibkan mampu “menjual” daerah. “Tidak hanya presentasi, untuk unit usaha harus disertai dengan praktik,” kenangnya.

Ia lantas mempromosikan kerupuk upil untuk dijadikan kerupuk pecel. Ide membawa kerupuk upil itu pun tidak sengaja. Ia merasa aneh melihat pecel yang dipadukan dengan kerupuk upil.

Menjadi lebih unik karena kerupuk digoreng tanpa minyak alias disangrai.

“Dewan juri sangat tertarik mendengar penjelasan saya, begitu juga peserta lainnya,” tutur pemuda yang sukses menjual kerupuk nonkolesterol sampai habis itu.

Selain kerupuk upil, tenaga harian lepas di di dinas penanaman modal dan pelayanan terpadu satu pintu (DPMPTSP) itu juga menjelaskan soal Kawasan Industri Nganjuk (KINg). Dia sengaja mengenalkan KINg lantaran juri mengaku enggan mendengar penjelasan tentang budaya dan wisata.

Sesuai dengan pekerjaan yang dia geluti saat ini, Andra mampu memikat dewan juri karena presentasinya beda dengan lainnya. Lulusan UB tahun 2017 ini mampu menjelaskan soal investasi dan pertumbuhan ekonomi lewat KINg. “Keberadaan KINg ini memang bisa menciptakan pertumbuhan ekonomi, salah satunya serapan tenaga kerja,” tandasnya.

Menjadi pembeda dari yang lain, pemuda berkulit putih dan berambut lurus ini berhasil menjadi juara umum di Provinsi Jatim. Dia lalu diberangkatkan ke tingkat nasional mengikuti Jambore Pemuda Indonesia tahun 2019 di Sulawesi Utara. Tahun 2020 lalu sedianya dia berangkat ke Singapura untuk mengikuti ajang serupa.  Tetapi, acara tersebut batal karena pandemi Covid-19. “Sekarang saya menjadi pendamping. Membimbing adik-adik,” bebernya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia