Minggu, 24 Jan 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Jembatan Janeng di Desa Mlorah, Rejoso yang Jadi Spot Swafoto Dadakan

07 Januari 2021, 13: 35: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

Jembatan

SPOT FOTO BARU: Kades Mlorah Dodik Hermawan mengecek kondisi jembatan Janeng yang sejak beberapa minggu viral setelah jadi spot foto favorit warga. (Dewi Ayu Ningtyas - radarkediri.id)

Share this          

Puluhan tahun tak tersentuh pembangunan, jembatan Janeng di Desa Mlorah, Rejoso kini jadi spot swafoto baru. Bukan hanya karena jembatan itu baru dibangun. Melainkan karena lukisan warna-warni menarik yang membalutnya.

DEWI AYU NINGTYAS, Rejoso. JP Radar Nganjuk

Menyanding beberapa kaleng cat berukuran kecil, pria berambut cepak terlihat fokus mengecat badan jembatan Janeng, Selasa (29/12) siang. Tangan pria berbadan kurus yang memegang kuas itu seolah menari-nari di badan jembatan. Beberapa kali dia harus membersihkan kuasnya sebelum kemudian mengganti warna sesuai pola gambar yang direncanakannya.

Jarum jam menunjukkan pukul 11.00. Pria yang tak lain adalah Ariyanto itu belum juga beristirahat. Hanya sesekali dia berhenti. Memandangi lukisan yang dibuatnya selama beberapa detik. Seolah memastikan apakah gambar yang diinginkan sudah sempurna atau belum. Sejurus kemudian dia kembali melukis. “Sudah selesai 90 persen. Sebentar lagi selesai,” ujar alumnus SMK PGRI 1 Nganjuk itu tentang lukisan di jembatan Janeng itu.

Sepintas, pengecatan di jembatan memang terlihat seperti sudah selesai. Tak heran, banyak muda-mudi yang nekat berswafoto di sana pada akhir Desember lalu. Padahal, jika diperhatikan dengan seksama, masih ada beberapa bagian yang belum dicat.

Berkat kelihaian Vitra, sapaan akrab Ariyanto, jembatan dengan rangka dan badan besi itu memang menjadi tempat yang menarik. Tidak hanya berhias ikan koi warna warni di badan jembatan, pria berusia 32 tahun itu juga memberi gambar lain di sana.

Mulai gambar sajadah, air terjun, negeri di atas awan, labirin, hingga permainan tradisional engklek. Beberapa gambar yang ada di badan hingga pagar jembatan itu rupanya bukan asal menggambar saja. Melainkan ada makna khusus di dalamnya.  

Pria asli Desa Mlorah itu mencontohkan gambar sajadah yang jadi pengingat untuk menunaikan salat. Kemudian, negeri di atas awan yang mewakili deskripsi surga. Adapun labirin menggambarkan keruwetan hidup.

Selanjutnya, permainan engklek yang tak ubahnya teka-teki menggambarkan kehidupan yang sebenarnya hanya permainan. “Air terjun ini filosofinya kehidupan yang mengalir,” tuturnya sembari menunjuk gambar air terjun di sana.

Melalui gambar-gambar di jembatan Janeng itu, Vitra ingin memberi pesan jika umat muslim berkewajiban menunaikan salat. Mereka juga harus menjalani takdir kehidupan lengkap dengan lika-likunya karena kelak akan berbayar surga.

Perpaduan gambar dan filosofi dalam lukisan di jembatan itu, rupanya tak lepas dari pengalaman bapak dua anak tersebut dalam pengecatan. Sehari-hari dia memang melayani jasa pengecatan. Termasuk air brush di motor dan media lainnya.

Kesibukannya selama beberapa minggu di jembatan Janeng dilakukan setelah Kades Mlorah Dodik Hermawan mendatanginya. “Dimintai tolong Pak Lurah untuk ngecat. Ya saya sanggupi,” bebernya sambil melirik Dodik yang saat itu juga sedang mengecek kondisi jembatan.

Melihat pengecatan di jembatan hampir selesai, Dodik memastikan dirinya akan memoles bagian lain di sana. Selain menambah lampu, dia juga akan membangun taman di dekat jembatan ikonik itu.

Untuk merealisasikannya, kades dua periode itu mengaku sudah meminta izin pada pihak terkait. Selebihnya, dia tinggal menunggu anggaran untuk mewujudkan rencana tersebut.  

Setelah melihat beberapa bagian jembatan yang sudah berubah rupa, Dodik mengaku puas. Dia pun tak heran melihat animo warga yang nekat berfoto di jembatan tersebut meski pengecatan belum tuntas. “Dulu jembatannya tidak seperti ini. Jelek,” urainya.

Ya. Sejak puluhan tahun lalu jembatan Janeng hanya berupa kayu papan yang ditata berjajar. Padahal, jembatan itu tidak hanya menjadi akses warga ke sawah. Melainkan juga menjadi akses warga ke Dusun Tugu, Dusun Sugihwaras, dan Jatirejo.  

Melihat kondisi jembatan yang lapuk, pemerintah desa tidak punya pilihan selain mengajukan bantuan ke Pemkab Nganjuk. Rupanya, hingga puluhan tahun bantuan tetap tidak turun.

Angin segar baru muncul setelah desa digelontor danda desa. Ditambah dengan pendapatan asli desa (PADes), mereka sepakat membangun jembatan itu. Tak tanggung-tanggung, anggarannya mencapai Rp 400 juta.

Tak hanya sebagai tempat selfie, Dodik berharap ke depan jembatan itu bisa menjadi ikon desa. Sebab, jembatan warna-warni di dekat dam Janeng itu memiliki panorama indah. Berlatar sawah dan pegunungan. “Saya berharap jadi tempat wisata setelah nanti dibangun taman. Warga tidak hanya bisa rekreasi di sini. Tapi jadi ikon Desa Mlorah,” bebernya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia