Minggu, 24 Jan 2021
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Masih Bergantung Kedelai Impor

Harga Melangit, Perajin Tahu-Tempe Menjerit

05 Januari 2021, 16: 12: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

TERPENGARUH IMPOR: Salah seorang penjual tahu di Pasar Stonobetek melayani pembeli. Harga tahu terpengaruh naiknya harga kedelai impor.

TERPENGARUH IMPOR: Salah seorang penjual tahu di Pasar Stonobetek melayani pembeli. Harga tahu terpengaruh naiknya harga kedelai impor. (HABIBAH A. MUKTIARA/JPRK)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri– Ketergantungan pengusaha tahu dan tempe pada kedelai impor masih tinggi. Hal ini yang menyebabkan harga bahan makanan paling populer di masyarakat itu menjadi tak stabil ketika harga kedelai impor mengalami fluktuasi seperti sekarang ini.

“Selama ini produsen tahu dan tempe menggunakan kedelai luar (negeri),” terang Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri Ita Sachariani.

Ita mengatakan para pengusaha tahu dan tempe memang wajar bila bergantung pada kedelai impor. Selain harganya yang justru lebih murah, kualitas kedelai impor lebih bagus dibanding kedelai lokal. Ukurannya lebih besar serta tahan disimpan dalam waktu yang cukup lama.  

Ditambah lagi produksi kedelai lokal belum memenuhi ekspektasi hingga saat ini. Kapasitas panen dari para petani lokal tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan industri tahu dan tempe. Penyebabnya adalah masih sedikit petani yang tertarik membudidayakan tanaman kedelai.

Yang menjadi alasan kenapa petani lokal enggan menanam adalah perawatan kedelai yang rumit. Kedelai bukan tanaman asli Indonesia dan memerlukan perlakuan khusus.

Pemerintah, menurut Ita, sebenarnya sudah melakukan upaya memberi stimulan pada petani kedelai. Seperti program pemberian subsidi bantuan benih bagi petani kedelai. Sayang, karena minat petani masih rendah, membuat program dari Kementerian Pertanian ini tidak berjalan.

Sementara itu, naiknya harga kedelai ini membuat pasokan tahu dan tempe di pasar mengalami penurunan. Berkurangnya pasokan ini diungkapkan oleh Ahmad, salah seorang pedagang di Pasar Setonobetek. “Biasanya 200 biji, setelah harga kedelai naik sekarang menjadi 150 biji,” terang laki-laki berusia 50 tahun itu.

Karena stok berkurang, harga tahu pun mengalami kenaikan. Berkisar antara Rp 500 per bungkusnya. Jika biasanya isi empat dijual Rp 3.500 kini Rp 4 ribu. Sedangkan yang satu bungkus dengan harga Rp 5 ribu dan berisi delapan biji, kini hanya berisi tujuh. “Ada pembeli tanya kok berbeda, saya jelaskan karena kenaikan dengan harga bahan baku,” imbuhnya.

Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Disperdagin Kota Kediri Anik Sumartini mengatakan bahwa naiknya harga kedelai dunia disebabkan  lonjakan permintaan kedelai dari AS oleh Tiongkok. “Semua kedelai berasal dari AS sebagai eksportir kedelai terbesar di dunia,” terang Anik.

Anik menjelaskan bahwa pada Desember 2020 lalu, permintaan kedelai oleh Tiongkok naik dua kali lipat. Yang semula 15 juta ton menjadi 30 juta ton. Selain itu, harga kedelai impor mengikuti kurs mata uang. Karena kedelai merupakan barang impor dengan kenaikan harga tidak bisa dilakukan operasi pasar. “Karena kedelai merupakan impor, kami mengikuti kebijakan pemerintah,” kata Anik. (ara/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia