Minggu, 24 Jan 2021
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Harga Kedelai Naik, Produsen Tempe Kurangi Ukuran

Siasati Bahan Baku yang Meroket

05 Januari 2021, 13: 35: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

Tempe

MAHAL: Salah satu pekerja di sentra tahu dan tempe di Desa Tanjungtani, Prambon mencampur ragi ke dalam kedelai yang baru saja direbus. Kenaikan harga kedelai membuat produsen harus mengurangi ukuran tempe agar mereka tetap untung. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Kenaikan harga kedelai sejak akhir tahun lalu membuat para pedagang tempe kelimpungan. Biaya produksi yang tinggi membuat mereka harus mengurangi ukuran tempe untuk menghindari kenaikan harga.

Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, harga kedelai impor biasanya mencapai Rp 6 ribu hingga Rp 6.500 per kilogram. Tetapi, sejak 25 Desember lalu harga terus terkerek naik. Kemarin, harga kedelai di tingkat pengecer Rp 9.500 per kilogram.

“Kenaikannya secara bertahap. Setelah tahun baru masih terus naik,” ujar Amanu, 56, produsen tempe asal Desa Tanjungtani, Prambon. Kenaikan harga kedelai tiap tahun menjadi dilema bagi para pembuat tempe.

Di satu sisi mereka harus tetap memproduksi tempe untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya. Di sisi lain, biaya produksi yang melonjak tajam membuat mereka terancam merugi.

Amanu pun harus mengatur strategi agar tetap bisa bertahan dalam kondisi sulit tersebut. “Saya tidak bisa menaikkan harga dalam kondisi seperti sekarang,” lanjutnya.

Menyiasati agar dia tetap bisa berproduksi, Amanu memilih untuk memperkecil ukuran tempe. Dua kuintal kedelai yang biasanya diproses menjadi 400 batang tempe, kini diperkecil ukurannya menjadi 480 batang.

Satu batang tempe yang sebelumnya sepanjang 27 sentimeter, kini menjadi hanya 25 sentimeter. “Harga jualnya tetap enam ribu rupiah,” tutur Amanu sembari menyebut dalam sehari dia bisa meraup omzet Rp 2,88 juta.

Terpisah, Sumiati, 53, produsen tahu di Desa Tanjungtani, Prambon mengungkapkan hal yang sama. Perempuan yang tidak bisa menghentikan produksi tahu ini mengambil langkah yang sama dengan Amanu. Dia menyesuaikan ukuran tahu agar tak merugi.

Menurut Sumiati langkah tersebut juga dilakukan belasan produsen tahu lain di Desa Tanjungtani. “Kami sesuaikan ukurannya agar pelanggan tidak kecewa (karena berhenti produksi, Red),” jelasnya.

Lebih jauh Sumiati menjelaskan, dengan bahan baku 40 kilogram kedelai, dia biasanya menghasilkan 960 potong tahu. Saat harga kedelai mahal seperti sekarang, dia memperkecil ukuran hingga menghasilkan 1.110 potong tahu. Harga per potongnya tetap Rp 400.  

Sementara itu, Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Nganjuk Agus Sulistyo mengatakan, kenaikan harga kedelai impor sejak akhir Desember lalu terjadi lantaran kedelai produk lokal yang kosong. "Kedelai kita tidak ada panen. Bahan baku tempe dan tahu bergantung pada produk impor,” tandasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia