Minggu, 24 Jan 2021
radarkediri
Home > Sego Tumpang
icon featured
Sego Tumpang

Oper Tahun

31 Desember 2020, 13: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Oper Tahun

Oper Tahun (Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub)

Share this          

Ini yang sering bikin Yu Kanthil gething. Juga Dulgembul. Atau banyak penumpang angkutan umum lainnya. Yaitu jika di tengah jalan tiba-tiba dioper. Ke mobil lainnya. “Hiiiihhh…geregeten aku,” gerutu Yu Kanthil sambil nyincing rok dan nggedruk-nggedruk aspal.

Betapa tidak, banyak yang harus dikorbankan penumpang kalau sudah begitu. Terutama waktu. Tujuan belum sampai, tiba-tiba harus pindah kendaraan.

“Lha apa ndak dicek to sebelum berangkat?,” omelnya lagi. Itu jika gara-gara kendaraannya mogok. Ngeban. Aki sowak. Atau lampu mati saat malam.

Tapi, yang lebih nggregetne, harus dioper tanpa sebab yang pasti. Biasanya kalau penumpang ndak mencukupi. Sopir tiba-tiba berhenti. Nunggu armada di belakangnya buat ngoper. Lalu, balik lagi ke garasi. Ndak jadi narik.

“Daripada tekor ngono kuwi, Yu..,” kata Matkriwul mencoba menenangkan Yu Kanthil. Sekaligus membela paklik-nya yang kebetulan sopir.

Maklum, kalaupun dipaksakan terus jalan sampai tujuan, bisa tombok. Ongkos penumpang ndak nyucuk buat sekadar beli solar sekalipun. Padahal, sopir juga masih harus setoran ke juragan.

Kalau sudah begitu, Yu Kanthil cuma bisa mbethuthut. Manyun. Sampai bibir atas dan bawahnya bisa dikuncrit, “Lhu dukuru uku upu guk tukur yuun.. (Lha dikira aku apa gak tekor yoan..).”

Beda dengan oper penumpang, oper-operan bola justru membuat pemain juga penonton senang. Ndak digiring sendirian. Sebab, sepakbola adalah permainan tim. Bukan individu. Setajam-tajamnya striker, ndak bisa bikin gol kalau tidak dapat operan bola dari belakang.

Aksi solo hanya boleh sesekali dilakukan. Jika keadaan benar-benar memungkinkan. Kalau tidak, selain mboseni juga berisiko dicaci maki. Individualistis. Apalagi jika tidak berbuah gol. Atau, malah bikin kebobolan gawang sendiri. Seperti aksi Rene Higuita, kiper nyentrik Kolombia yang sering keluar dari gawangnya.

Kiper gondrong itu terkena batunya saat berhadapan dengan Roger Milla, striker Kamerun, yang berhasil mencuri bola dari kakinya dan kembali melesakkan bola ke gawang Kolombia untuk yang kedua. Itu terjadi dalam perdelapan final Piala Dunia 1990 di Italia.

Beda lagi dengan oper-operan stik dalam lari estafet. Itu jelas harus dilakukan. Ndak bisa ndak. Sebab, aturan permainannya memang begitu. Pelari, sekuat apa pun dia, yang nekat membawa stik dan berlari sendiri hingga finish bisa dikepruki. Wong aturannya harus diserahkan ke pelari berikutnya dan berikutnya lagi hingga ke finish.

Ini bukan sprint, lari jarak pendek. Bukan juga marathon, lari jarak jauh. Yang bisa dilakukan sendirian. Untuk menguji kecepatan. Speed. Juga daya tahan. Endurance. Dari hanya seorang pelari.

“Lalu, bagaimana dengan oper tahun nanti malam, Kang?,” tanya Dulgembul waktu Kang Noyo masuk tiba-tiba di warung Mbok Dadap.

Lelaki yang hendak pesan sepiring sego tumpang itu terkaget, “Oper tahun?”

“Iya. Nanti kan tahun 2020 mengoper kita ke tahun 2021,” jawab Dulgembul yang kewaregen usai menandaskan dua piring sego tumpang sekaligus dalam rangka menerapkan prinsip 3M (mongan mangan maneh) versi kades Kwadungan untuk menangkal virus korona itu.

Ini yang bikin Kang Noyo pusing. Sebab, belum sampai semua agenda dan rencana bisa dipenuhi sepanjang waktu tersebut, eh tiba-tiba 2020 sudah mengoperkan dia dan semua manusia di bumi ini ke 2021.

2020-nya sih ndak ada urusan. Dia bisa melenggang kangkung begitu saja meninggalkan Kang Noyo, Dulgembul, Matkriwul, Yu Kanthil, dan siapa saja di bumi ini tanpa bisa dipanggil kembali. Ndak peduli semua agenda dan rencana mereka bisa dipenuhi atau tidak.

Yang jelas, tepat pukul 00.00 nanti, segalanya sudah menjadi urusan 2021. Untuk menyaksikan segala tingkah polah manusia di sepanjang waktunya. Di sepanjang bumi berputar pada porosnya. Di sepanjang bumi mengitari matahari. Hingga tiba dia mengoperkan lagi Kang Noyo dkk ke tahun berikutnya. Tentu, jika mereka masih punya usia. Jika jasadnya belum ditanam ke bumi untuk ikut berputar mengelilingi matahari.

“Dalam oper tahun, ndak seperti Yu Kanthil yang bisa protes saat dioper armada oleh sopir, kita cuma bisa manut. Bisa ndak bisa ya harus dihadapi, Mbul. Harus tetap optimistis. Wong kita masih harus hidup,” jawab Kang Noyo kemudian.

Soal kesehatan. Soal ekonomi. Soal pendidikan. Semua jelas masih akan terdampak pandemi. “Tapi, di setiap kesulitan, pasti ada jalan keluar. Kemudahan,” lanjutnya memberi harapan.

Ia lantas mengutip Gus Miftah tentang empat pola yang perlu dijaga. Yakni, pola makan, pola pikir, dan pola hidup. “Yang terpenting adalah yang keempat, ojo kakehan polah,” tandasnya. (tauhid wijaya)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia