Minggu, 24 Jan 2021
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
SUDUT PANDANG

Bersahabat dengan Alam

20 Desember 2020, 16: 23: 25 WIB | editor : Adi Nugroho

Bersahabat dengan Alam

Bersahabat dengan Alam (Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub)

Share this          

Ada nasihat orang bijak yang sudah banyak didengar sejak dulu. Bila ingin hidup tenteram maka bersahabatlah dengan alam. Nasihat ini memang terkesan klise di zaman sekarang. Namun sejatinya justru mendapatkan maknanya saat ini. Saat populasi manusia sudah menyesaki bumi.

Tengok saja bencana alam yang bermunculan dari tahun ke tahun. Banjir di beberapa tempat di Kabupaten Kediri misalnya, selalu terjadi sebagai peristiwa rutin. Seperti tak pernah bosan kita merasakannya. Penyebabnya pun juga sama, debit air sungai yang melimpah, tanggul jebol, serta hal-hal yang terus berkaitan dengan alam.

Demikian pula dengan tanah longsor di lereng-lereng gunung, terutama di lereng Gunung Wilis yang seperti sudah langganan. Warga memang ketakutan. Upaya pun telah dilakukan pemerintah kabupaten. Toh, setiap tahun akan pula terjadi hal seperti itu.

Mengapa bencana selalu terjadi secara berulang? Salah satu faktornya adalah karena kita tak pernah bersahabat dengan alam. Kita, manusia, hanya melakukan eksploitasi demi kepentingan kita saja. Sementara kebutuhan alam tak pernah kita pedulikan.

Klise? Mungkin. Tapi tengok soal alih fungsi lahan yang terjadi saat ini di lereng Gunung Wilis. Lereng yang awalnya menjadi tempat tumbuh pohon-pohon berakar besar yang mampu mengikat tanah dan menahan air tanah berganti dengan lahan untuk tanaman pangan.

Di satu sisi kebutuhan tanaman pangan memang penting. Namun, mengorbankan kepentingan orang banyak untuk segelintir orang bukanlah tindakan bijaksana.

Karena itu, sudah saatnya kita kembali ke nasihat bijak itu. Bersahabatlah dengan alam. Setiap yang kita lakukan haruslah mempertimbangkan seperti apa reaksi alam nanti. Penebangan pohon, penggundulan hutan, perladangan berpindah, pembuatan permukiman, atau semua jenis pembangunan seharusnya benar-benar mempertimbangkan analisa mengenai dampak lingkungan.

Sudah jamak kita lihat saat ini pembangunan permukiman yang justru mengurangi keberadaan lahan sebagai penyerap air. Atau, justru mengurangi lahan pertanian yang ada di pinggiran kota. Akhirnya, membuka lahan baru dengan mengorbankan hutan yang menjadi pilihan.

Maka, bila konsep berkehidupan kita tetap tak memedulikan sisi kebutuhan alam, jangan salahkan alam bila bencana akan terus berulang dan berulang. Sekeras apapun upaya manusia untuk menanggulangi bila sikap sederhana tapi penting ini tak diindahkan maka segalanya akan menjadi percuma. Jadi, mari kita mulai minimal dari diri kita sendiri dahulu. (*)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia