Minggu, 24 Jan 2021
radarkediri
Home > Events
icon featured
Events

Kiat Perajin Genting Manyaran, Banyakan Bertahan di Kala Pandemi

Kurangi Produksi hingga Coba FB untuk Jualan

12 Desember 2020, 12: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

MASIH MENTAH: Suprih, 35, keponakan Sugianto, membersihkan genting yang baru dicetak sebelum dijemur di Manyaran, Banyakan, Kamis (10/12). DEVIN RIZQI DWINANTIKA/JP RADAR KEDIRI

MASIH MENTAH: Suprih, 35, keponakan Sugianto, membersihkan genting yang baru dicetak sebelum dijemur di Manyaran, Banyakan, Kamis (10/12). DEVIN RIZQI DWINANTIKA/JP RADAR KEDIRI (DEVIN RIZQI DWINANTIKA /JPRK)

Share this          

Deretan genting tanah liat langsung menyambut mata begitu menyusuri jalan kampung di Dusun Mayarejo. Genting-genting itu dijajar di halaman rumah. Masih basah. Baru selesai dipress.

ILMIDZA AMALIA NADZIRA, JP Radar Kediri

Warnanya masih kecokelatan. Belum memerah. Sejumlah orang menata genting-genting itu dalam posisi berdiri. Saling menyangga. “Itu dijemur,” terang Sugianto, salah satu perajin genting tanah liat di dusun yang terletak di Desa Manyaran, Kecamatan Banyakan tersebut.

Agak ke belakang dari halaman, terdengar suara “krek…krek…krekk…” dari mesin press yang dioperasikan Sugianto. Ia mencetak tanah liat yang sudah diolah agar berbentuk genting.

Tak jauh dari situ tampak tungku pembakaran yang mengeluarkan asap putih. Di dalamnya dibakar genting-genting yang sudah kering usai dijemur di bawah terik matahari. Suhunya cukup tinggi. Biasanya sekitar 600 derajat Celsius. Ini dimaksudkan agar seluruh bagian genting benar-benar kering dan matang. Sehingga, strukturnya menjadi lebih padat dan kuat.

Meski hari-hari ini hujan turun hampir setiap hari, itu tak memupuskan semangat Sugianto dan pekerjanya. Ia berharap sinar matahari yang hari itu mampu menghalau mendung bisa lebih cepat mengeringkan genting buatannya.

Meski, risikonya, begitu mendung kembali datang lalu menumpahkan airnya dari langit, ia dan para perajin lain di dusun tersebut harus buru-buru mengangkat genting jemuran mereka. “Ya begini ini kalau musim hujan,” ungkap Sugianto sambil terengah-engah usai ikut memindahkan genting jemuran ke tempat penyimpanan yang teduh.

Ia tak tahu kapan mendung dan hujan akan datang. Begitu pun pandemi, tak tahu kapan akan berakhir. Tapi yang pasti, Sugianto dan para perajin genting di dusun tersebut harus tetap bekerja. Agar asap dapur mereka terus mengepul. Sebab, itulah satu-satunya pekerjaan yang bisa mereka lakukan. Sejak berpuluh-puluh tahun lalu. “Bagaimana lagi, ini mata pencaharian kami sejak dulu,” tuturnya.

Tidak mudah memang mempertahankan usaha di kala pandemi. Apalagi, kini genting tanah liat bikinan warga harus bersaing dengan genting multiroof bikinan pabrik yang harganya bisa lebih murah.

Hal itu turut membuat permintaan genting tanah liat dari Dusun Mayarejo turun. “Lagi musim multiroof,” lanjut pria 60 tahun ini yang otot-ototnya terlihat menonjol saat mengangkat bahan dasar tanah liat ke mesin press. Genting multiroof adalah genting yang terbuat dari baja berlapis aluminium dan zinc.

Namun, selalu, di balik musibah pasti ada hikmah. Sepinya permintaan di musim pandemi ini justru membuat Sugianto dan para perajin genting di Dusun Mayarejo punya banyak waktu merenung. Menyiasati berbagai tantangan tersebut, pertama yang mereka lakukan adalah bertahan. Agar omzet usaha tidak terus turun, apalagi sampai tutup. 

Dan, langkah awalnya adalah berhemat. Meminimalkan pos-pos pengeluaran yang tidak penting. Jumlah produksi juga dikurangi. Sehingga, ongkos tenaga kerja bisa dihemat. “Karena produksi dikurangi, tenaga kerja ya dikurangi,” ungkap Sugianto yang kini mengurangi produksinya tinggal 400 biji sehari. Sebelumnya bisa seribu per hari. 

Sementara, untuk meningkatkan penjualan, mereka mencoba memperluas pasar. Caranya, dengan mulai masuk ke online. “Ya, saya juga jual di Facebook,” sebut lelaki yang rambutnya memutih itu sambil sesekali menyeka keringat di dahi dengan lengannya. Meski hasilnya belum seberapa, ia berharap upaya itu bisa menambah jangkauan pasarnya.

Manyaran dikenal sebagai salah satu sentra perajin genting tanah liat di Kabupaten Kediri. Banyak warganya yang mengandalkan pendapatan mereka dari usaha turun temurun tersebut.

Kepala Desa Manyaran Budiarjo bahkan menyebut jumlah mereka mayoritas. “70 persen bermata pencaharian perajin genting,” sebutnya saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri di balai desa.

Makanya, ini menjadi perhatian khusus pemerintah desa. Ada program simpan pinjam desa yang diperuntukkan warga yang punya usaha rumahan. Khususnya produksi genting. “Mereka bisa mengajukan pinjaman modal,” kata mantan anggota Polri tersebut.

Apakah belum terpikir untuk menaungi usaha tersebut dalam BUMDes agar daya tawar perajin di sana meningkat? Di tingkat pemerintah desa, ini masih menjadi wacana. Meski, jika itu bisa dilakukan, harapan perajin agar harga lebih stabil dan tidak dipermainkan tengkulak bisa lebih terjaga.

“Tapi selama ini kami terus mendorong agar warga menggunakan genting produksi mereka sendiri kalau membangun rumah. Begitu pula dengan instansi pemerintah kalau membangun gedung kantor maupun sekolah,” ungkap Budiarjo.

Budi, panggilan akrabnya, mengakui akan ada banyak hal yang bisa dilakukan jika usaha genting rakyat itu bisa dinaungi oleh BUMDes. Bukan hanya melindungi perajin dari permainan harga oleh tengkulak, namun juga meningkatkan kualitas produksi dan membantu pemasarannya lebih luas. “Pasarnya selama ini tidak hanya di Kediri lo, tapi juga sampai Nganjuk,” tuturnya.

Usaha pembuatan genting tanah liat masih cukup menjanjikan di Desa Manyaran. Sebab, bahan bakunya tersedia banyak. Bahkan, di tingkat perajin, ongkos produksi yang dikeluarkan praktis hanya untuk tenaga kerja. “Tanah liatnya ambil dari tegalan atau sawah,” kata Sugianto.

Per hari, ongkos tenaga kerja Rp 50 ribu seorang. Dengan hanya satu tenaga kerja seperti sekarang, sebulan dengan 26 hari kerja hanya perlu ongkos Rp 1,3 juta. Sementara, jumlah genting yang terjual bisa mencapai 2-3 ribu dengan harga Rp 1.000 sampai Rp 1.500 per biji tergantung kualitas. Artinya, jika bisa mendapat omzet terbaik, masih ada sisa pendapatan sampai Rp 3,2 juta setelah dipotong ongkos tenaga kerja.

Makanya, Sugianto dan para perajin di sana masih terus bertahan hingga kini. Bagaimana pun caranya. Karena itu pula, tiap kali kita datang ke Dusun Mayarejo yang menjadi pusat pembuatan genting di Desa Manyaran, jajaran genting yang dijemur di halaman rumah warga akan tetap setia menyambutnya. Tak peduli hujan akan turun seperti hari-hari ini sekalipun. Suara krek..krekk.. dari mesin press juga akan tetap terdengar. (hid)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia