Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Koptu Parnianto, Babinsa Balongan yang Terampil Membuat Wayang Kulit

02 Desember 2020, 14: 10: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

Hobi

BERKREASI: Koptu Parnianto mewarnai wayang kulit yang baru selesai diukir di rumahnya, Desa Pesudukuh, Bagor. (Iqbal Syahroni- radarkediri.id)

Share this          

Bagi Koptu Parnianto, wayang kulit memiliki banyak arti. Di antaranya, wujud kecintaannya akan seni asli Jawa itu. Belakangan, wayang kulit membawa Bintara Pembina Desa (Babinsa) Balongan, Berbek itu mendapat penghargaan dari Korem 081/DSJ Madiun.

IQBAL SYAHRONI, BAGOR. JP Radar Nganjuk

Jarum jam menunjukkan pukul 15.30 kemarin. Motor matic yang dikendarai Koptu Parnianto terlihat memasuki halaman rumah bercat putih di Desa Pesudukuh, Bagor. Begitu turun dari motor dan melepas helm, pria yang akrab disapa Anto itu langsung membawa masuk sepotong kayu yang di depan rumahnya. 

Baca juga: Apresiasi Pemuda dan Pelaku Seni Berprestasi

“Ini untuk alas membuat wayang kulit,” ujar Anto, sapaan akrab Koptu Parnianto membuka perbincangan dengan Jawa Pos Radar Nganjuk di rumahnya. Ruang tamu berukuran sekitar 5x3 meter di rumah pria berusia 36 tahun itu tak ubahnya ruang kerja.

Di sana ada belasan wayang hasil karyanya yang sudah jadi. Selebihnya, di dekat pintu masuk ke ruang tamu ada meja kotak berukuran 1x2 meter yang dipenuhi berbagai warna cat dan alat ukir. Di meja itulah Anto berkreasi selepas berdinas.

Banyak keajaiban yang terjadi di meja kayu itu. “Sudah ada ratusan wayang yang saya buat di meja ini,” lanjut pria kelahiran Desa Selorejo, Bagor itu sambil tersenyum.

Wayang kulit memang bukan hal baru bagi Anto. Sejak duduk di bangku SD, dia mengaku sudah tertarik dengan kesenian dari Jawa itu. Adalah kebiasaannya menonton pentas wayang sejak anak-anak yang membuatnya jatuh cinta.

Seiring dengan pertumbuhannya, Anto kecil tak hanya puas menonton wayang. Dia mendatangi perajin wayang di Bagor saat duduk di bangku SD. Saat itulah tebersit keinginan untuk membuat wayang. Dari sana dia belajar otodidak dengan membuat wayang dari kardus. “Kelas 5 SD pernah ikut lomba membuat wayang, saya dapat juara 2,” kenang alumnus SDN Kauman itu.

Setelah mendapat prestasi tersebut, kecintaannya pada wayang kulit semakin besar. Meski demikian, dia belum bisa fokus menekuni hobinya itu. Apalagi, saat dia mengikuti pendidikan TNI hingga dia ditugaskan di Malang.

Di kota dingin itu, Anto yang tinggal di asrama hanya sempat menggambar wayang saja. Kesempatannya pulang kampung pada 2017 lalu membuat bapak empat anak itu kembali menekuni hobi lamanya. Tak sekadar menggambar, dia mulai membuat wayang. Kulit sapi hingga kulit kerbau menjadi medianya.

Kecintaan pria yang berdinas di Koramil Berbek itu pada kesenian  berbuah penghargaan. Pada 25 November lalu dia mendapat penghargaan dari Komandan Korem 081/DSJ Madiun Kolonel Inf Waris Ari Nugroho.

Keterampilannya membuat wayang kulit dinilai sebagai salah satu upaya melestarikan kesenian dan membuat nama TNI AD harum. “Suatu kebanggaan juga. Hobi yang memang saya tekuni bisa bermanfaat bagi saya,keluarga, orang lain,” bebernya.

Meski sudah menghasilkan ratusan karya, Anto memang tak ingin tinggi hati. Hingga sekarang dia terus mempelajari teknik membuat wayang. Media sosial yang banyak menyajikan tutorial pun tak luput dari pengamatannya.

Selebihnya, selepas dinas dia akan menghabiskan waktunya di meja kerja untuk membuat wayang. Belakangan Anto semakin semangat berkreasi karena hobinya itu juga jadi ladang untuk menghasilkan pendapatan tambahan.

Pesanan wayang mengalir deras. Dia pun membanderol satu wayang buatannya sekitar Rp 1 juta. Harga tersebut dinilai sepadan karena dia menggunakan bahan pilihan. “Satu wayang baru selesai dibuat 15 hari,” paparnya.

Tak hanya pesanan dari lokal Nganjuk, pria berambut pendek ini juga mendapat pesanan dari berbagai daerah di luar Jatim. Di antaranya dari Jakarta dan Solo.

Meski disibukkan dengan aktivitas membuat wayang kulit, Anto menegaskan jika fokus utamanya tetap sebagai prajurit TNI-AD. Baginya, menjadi tentara bukan hanya pekerjaan. Tetapi, wujud pengabdiannya kepada negara. “Membuat wayang itu hobi. Sebagai prajurit saya tetap harus fokus pada tugas dan mengabdi pada negara,” tandasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news