Jumat, 04 Dec 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Minyak Goreng Naik Rp 4 Ribu Per Liter

Pasokan di Setonobetek Turun Sebulan Terakhir

21 November 2020, 16: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

TINGGI: Salah satu merek minyak goreng kemasan di Pasar Setonobetek (20/11). Sebulan terakhir harganya naik Rp 4 ribu per liter.

TINGGI: Salah satu merek minyak goreng kemasan di Pasar Setonobetek (20/11). Sebulan terakhir harganya naik Rp 4 ribu per liter. (ILMIDZA A. NADZIRA-jp radar kediri)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Harga minyak goreng (migor) naik cukup tinggi dalam sebulan terakhir. Kenaikannya mencapai Rp 4 ribu per liter. Padahal, biasanya hanya berkisar Rp 500 sampai Rp 700 per liter.

Untuk minyak goreng kemasan, saat ini pedagang menjualnya Rp 15 ribu-Rp 16 ribu per liter. Sementara, untuk yang curah, Rp 13,5 ribu sampai Rp 14 ribu per kilogram. “Bulan lalu untuk kemasan masih Rp 11 ribu sampai Rp 12 ribu. Kalau yang curah Rp 10 ribu,” ujar Wahyu Hari Santoso, 47, pedagang minyak goreng di Pasar Setonobetek, saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri, Jumat (20/11) sore.

Wahyu mengakui, kenaikan saat ini cukup tinggi dibanding biasanya. Sebelum ini, kalaupun naik hanya di kisaran Rp 500 sampai Rp 700. Akan tetapi, dia tidak mengetahui pasti penyebab kenaikan tersebut.

Wahyu hanya memperkirakan, hal itu dipengaruhi oleh harga kelapa sawit yang juga naik. Sehingga, produsen ikut menaikkan harga jualnya. “Musim hujan, produksi sawit juga turun. Sebagian harus diekspor,” ungkapnya mengutip keterangan yang dia dapat dari agen.

Yang jelas, seiring kenaikan harga tersebut, pasokan yang dia dapat berkurang. Khususnya untuk jenis curah. Jika sebelumnya mendapat 3 jeriken berkapasitas 25 liter setiap kirim, sekarang tinggal 1-2 jeriken. “Kirimnya setiap hari. Tapi ya itu, sekarang turun jadi 1-2 jeriken saja,” ungkap lelaki berambut gondrong tersebut.

Kalau untuk yang kemasan, stoknya tidak terlalu terpengaruh. Setiap kali kulakan, dia mengambil lima dus. Ini terdiri dari kemasan 1 liter dan 2 liter. Akan tetapi, lakunya lebih lama. “Bisa sampai tiga minggu baru habis,” terang Wahyu seraya menambahkan bahwa migor kemasan 2 liter naik dari Rp 21 ribu menjadi Rp 27 ribu.

Wahyu menambahkan, pandemi memengaruhi omzet jualannya. Untuk migor curah, jika sebelumnya bisa menjual 40 kilogram sehari, kini tinggal 25-30 kilogram. “Rata-rata yang beli memang pedagang makanan,” tambahnya.

Nur Aini, 40, pedagang migor lainnya, mengamini hal itu. Sekarang, rata-rata dia hanya bisa menjual 19 kilogram sehari. Padahal, sebelum pandemi bisa mencapai 30 kilogram. “Langganan saya banyak penjual gorengan,” katanya. (c3/hid)

(rk/jpr/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia