Jumat, 04 Dec 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Semua Impor, Tak Ada Bawang Putih Lokal di Setonobetek

Pandemi, Omzet Turun hingga 50 Persen

21 November 2020, 15: 45: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

LEBIH BESAR: Bawang putih impor di lapak pedagang Pasar Setonobetek (20/11). Semua dari Tiongkok.

LEBIH BESAR: Bawang putih impor di lapak pedagang Pasar Setonobetek (20/11). Semua dari Tiongkok. (WAHYU ARI YULIANTO-jp radar kediri)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri- Bawang putih lokal masih belum bisa diandalkan untuk melawan bawang putih impor. Selain produksinya masih terbatas, kualitasnya juga masih di bawah produk dari luar negeri tersebut.

Hal itu bisa dilihat di Pasar Setonobetek, salah satu pasar tradisional terbesar di Kota Kediri. Bawang putih yang dijual di sana didominasi oleh produk impor. Utamanya Tiongkok. Adapun bawang putih lokal hampir tidak ada. “Saya hanya jual kating (cutting, Red) dan sinco (Shin Chung, Red). Kalau lokal tidak jual,” aku Wasini, 55, pedagang asal Desa Blabak, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri di kiosnya, Jumat (20/11) sore. Kedua jenis bawang putih yang disebut Wasini berasal dari Tiongkok.

Dia mengatakan, para pedagang di Pasar Setonobetek sangat jarang yang menjual bawang putih lokal. Bahkan hampir tidak ada. Itu sudah berlangsung sejak lama. Kalaupun ada, kualitasnya jelek. “Bawang lokal itu gampang mbanyu. Ndak bisa disimpan lama,” tambah perempuan yang berjualan sayuran dan bumbu-bumbuan tersebut.

Senada dengan Wasini, Wahyu Hari Santoso, 46, pedagang asal Perumahan Bumiasri, Kelurahan Kaliombo, Kota Kediri mengatakan kalau bawang putih lokal memang tidak ada di pasar. “Barangnya memang tidak ada. Kalaupun ada, pembeli juga ndak mau,” katanya.

Menurut dia, bawang putih lokal berukuran kecil. Pembeli cenderung tidak suka karena tak mau repot saat mengupasnya. “Pasti pilih yang gampang aja,” lanjut pedagang yang juga berjualan sembako itu.

Makanya, mereka memilih bawang putih impor yang ukurannya besar. Meskipun, harganya lebih mahal hingga Rp 10 ribu per kilogram dibanding bawang putih lokal. “Yang impor juga bisa lebih awet. Bisa sampai satu bulan,” tambahnya lagi. Karena itu pula, pedagang lebih memilih berjualan bawang putih impor.

Wahyu menyebut, bawang putih kating dibanderol Rp 28 ribu per kilogram. Sedangkan sinco Rp 24 ribu. Sementara, bawang putih lokal jika ada stoknya, berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 18 ribu per kilogram.

Mengingat tingginya kebutuhan bawang putih impor tersebut, Wahyu berharap stok di pasar selalu terjaga. Sehingga, harganya bisa stabil seperti saat ini. “Kalau stok tipis, bisa naik sampai Rp 60 ribu per kilogram seperti dua tahun lalu. Bahkan pernah menyentuh Rp 90 ribu per kilogram,” pungkasnya.

Lalu, bagaimana volume penjualan selama pandemi ini? Wasini mengaku turun drastis. Hingga 50 persen. Jika sebelumnya bisa 20 kilogram per hari, kini hanya 10 kilogram per hari. “Satu karung (20 kilogram) baru habis dua hari. Sebelum pandemi sehari habis,” akunya.

Penurunan itu terutama berasal dari pelanggannya yang merupakan pemilik warung. Sejak pandemi menghantam, banyak warung makan sepi. Alhasil mereka mengurangi produksi. Hal itu berimbas pada volume belanja mereka. “Makanya, penjualan bawang putih saya juga turun,” katanya.

Sekarang, pembeli bawang putih di lapaknya mayoritas adalah kalangan rumah tangga. Untuk kebutuhan masak sendiri. Bukan untuk warung. Volume pembelian mereka tidak sebanyak pemilik warung makan. (c5/hid)

(rk/jpr/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia