Jumat, 04 Dec 2020
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Tantangan Kota Kediri menuju Kota Layak Anak (KLA)

Perlu Ada Shelter dan Forum Anak

20 November 2020, 18: 21: 53 WIB | editor : Adi Nugroho

Tentang KLA

Tentang KLA

Share this          

Kota Kediri memang telah menyandang gelar sebagai KLA Madya. Namun, masih ada tiga tingkatan  lagi yang harus ditempuh agar Kota Kediri benar-benar ditetapkan menjadi Kota Layak Anak (KLA). Tentu saja, bukan hal mudah. Banyak indikator yang harus dipenuhi.

Berdasarkan data dari Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak (Kemenpppa) RI, penghargaan madya berada di peringkat dua dari bawah. KLA yang paling dasar biasa dikenal dengan istilah pratama.

Berkaca dari penghargaan tersebut, Kota Kediri masih perlu meningkatkan peringkatnya lagi untuk benar-benar dinyatakan sebagai KLA. Karena ada tiga tingkatan lagi yang harus dilalui. Yaitu tingkatan Nindya, Utama dan akhirnya menjadi Kota Layak Anak. 

Kondisi tersebut mengundang Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Kediri untuk bersuara. Pihaknya menegaskan bahwa masih ada beberapa hal yang perlu diupayakan seluruh stakeholder di Kota Tahu. Terutama untuk pemenuhan hak-hak anak.

Salah satu yang menjadi sorotan LPA adalah belum adanya shelter atau rumah aman bagi anak berhadapan dengan hukum (ABH). “Shelter tersebut bisa digunakan juga untuk pembinaan anak-anak yang berkonflik dengan hukum,” ujar Divisi Advokasi dan Pendampingan ABH LPA Kota Kediri Heri Nurdianto.

Heri menilai bahwa instansi terkait belum mampu melakukan pembinaan terhadap anak tersebut sesuai dengan putusan hakim. Baik dalam perkara anak yang berujung diversi maupun yang terpaksa dilanjutkan ke pengadilan.

Menurutnya, ABH tersebut biasanya dikirim ke beberapa panti rehabilitasi yang ada di Magelang maupun Jombang. “Seharusnya instansi terkait dapat melakukan pembinaan di dalam Kota Kediri jika memiliki shelter khusus anak sebagai pelaku,” imbuh Heri kepada Jawa Pos Radar Kediri.

LPA Kota Kediri juga mencatatkan beberapa kasus anak yang sering terjadi selama setahun terakhir ini. Antara lain kasus kekerasan psikis, fisik, hingga seksual. Ada pula beberapa kasus yang berkaitan dengan dunia pendidikan.

Berdasarkan data tersebut, tercatat ada 17 kasus yang terjadi pada tahun 2019 lalu. Lalu, pada tahun ini pihaknya mencatatkan ada 10 kasus. Namun data tersebut hanya sampai medio April saja. Pasalnya setelah itu kegiatan belajar mengajar di sekolah dilakukan secara daring. “Perundungan atau bullying termasuk ke dalam kekerasan psikis,” sambungnya.

Selain shelter, pihaknya juga menyoroti belum terbentuknya forum anak di semua kelurahan yang ada di Kota Kediri. Meskipun untuk pelibatan anak dalam proses perencanaan pembangunan sudah dilakukan. Mulai dari pelibatan anak dalam musyawarah rencana pembangunan (musrenbang).

Sementara itu, Kasi Anak dan Lansia Dinas Sosial Kota Kediri Bambang Soebatamaji mengamini bahwa shelter dan forum anak memang belum ada. “Masih dalam proses. Kami (Pemkot Kediri, Red) sedang mengupayakannya,” aku Bambang kepada koran ini.

Lebih lanjut, pihaknya juga membenarkan bahwa salah satu tantangan besar untuk mencapai predikat KLA adalah masih banyaknya kasus anak. Bahkan kasus tersebut selalu meningkat setiap tahunnya. Tak terkecuali tren peningkatan pada tahun ini.

“Di tahun 2020 saja kami sudah melakukan pendampingan lebih dari 30 kali,” ungkap Bambang kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Menurutnya, kasus anak yang paling banyak ditangani hingga kini ada tiga. Yakni kekerasan psikis, fisik, dan seksual. Dari ketiganya, kasus perundungan menjadi yang paling banyak ditangani. (tar/dea)

Tentang KLA

Kategori KLA:

Indikator KLA:

Kasus Anak yang Umum Terjadi:

Sorotan LPA:

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia