Jumat, 04 Dec 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom

SPR, Sebuah Kemitraan Sosio-Bisnis

20 November 2020, 18: 17: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

SPR, Sebuah Kemitraan Sosio-Bisnis

Share this          

SPR atau Sekolah Peternakan Rakyat (SPR-1111)digagas dan dicetuskan 2013 oleh Prof Muladno SPt MSA PhD IPU, guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) kelahiran Kediri yang pernah menjadi dirjen peternakan dan kesehatan hewan di Kementerian Pertanian 2015-2016. Gagasan ini sangat baik mengingat kondisi peternak rakyat yang masih hidup dalam berbagai keterbatasan, khususnya dalam aspek bisnis. 

SPR menjadi strategi yang bersifat fundamental untuk membekali mereka agar dapat meningkatkan kemampuannya. Sebab, filosofi SPR adalah ‘memaksa’ komunitas peternak rakyat untuk menjalankan bisnis kolektif, berjamaah, sehingga ada skala minimum kepemilikan ternak agar dapat berdaya saing lebih tinggi. 

Membangun kebersamaan dalam melakukan usaha kolektif berjamaah di dalam komunitas peternak rakyat itu sendiri maupun berjamaah antara unsur pemerintah, akademisi/peneliti dan pelaku industri dalam membantu usaha kolektif peternak rakyat merupakan hal sangat penting. Hal ini tentunya sejalan dan merupakan implementasi dari sifat kegotongroyongan yang merupakan warisan tinggi leluhur bangsa Indonesia yang melibatkan lintas sektoral.

SPR-1111 sendiri bermakna bahwa dalam setiap unit SPR harus memiliki 1.000 ekor sapi indukan dan maksimal 100 ekor sapi pejantan pemacek yang dikelola menggunakan minimal 10 strategi untuk mewujudkan 1 visi peternak rakyat yang mandiri dan berdaulat. 

Jumlah minimal 1.000 ekor sapi indukan maupun maksimal 100 ekor sapi pejantan pemacek dapat dipenuhi dalam satu desa atau lebih. Maksimal satu kawasan kecamatan. Dan, dapat melibatkan 400-500 peternak rakyat. Mereka diorganisasi dalam SPR untuk menyusun dan menerapkan program secara benar berbasiskan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di sinilah peran dari akademisi/peneliti sangat besar, untuk melaksanakan pengabdian masyarakat dari hasil-hasil penelitiannya.

Sementara itu, untuk menghasilkan populasi sapi yang standar dalam aspek produktivitas dan reproduktivitasnya, minimal ada 10 strategi yang harus diterapkan, yaitu: (i) setiap tahun 1 sapi indukan beranak 1 pedet, (ii) perbanyak jumlah sapi indukan, (iii) reproduksi ternak indukan dipantau dan dicatat proses maupun perkembangannya, (iv) sediakan pakan sesuai takaran dan minum secara berlebih, (v) pergunakan semua limbah pertanian sebagai bahan pakan, (vi) racik bahan pakan untuk menghasilkan pakan sesuai takaran, (vii) susun rencana bisnis kolektif berdasarkan aset yang dimiliki, (viii) produktivitas sapi dicatat sejak lahir sampai siap potong atau siap jadi indukan baru, (ix) reorientasi dalam usaha peternakan dan revitalisasi kelembagaan yang ada, dan (x) ikuti petunjuk berharga dari pihak mana pun untuk suksesnya program di SPR.

Diharapkan 1 visi peternak rakyat bisa mewujudkan kemandirian dan kedaulatannya jika peternak berkomitmen tinggi dan didampingi aparat pemerintah maupun akademisi.

Oleh karena itu, keberhasilan dalam menerapkan konsep SPR ini sangat tergantung pada kolaborasi dan sinergi 4 pilar utama, yaitu: (i) aparat pemerintah sebagai pemilik otoritas dan pengendali anggaran negara, (ii) akademisi, termasuk peneliti, sebagai pemilik dan pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi, (iii) tokoh peternak yang dipilih secara demokratis sebagai penyampai aspirasi peternak, dan (iv) pelaku usaha sebagai mitra bisnis (investor) dalam usaha peternakan rakyat.

Sementara itu sosio-bisnis adalah suatu kegiatan yang memadukan unsur sosial dan bisnis. Sosial karena memang bertujuan membantu memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat. Bisnis karena memang ada aspek bisnis atau keuntungan melalui sistem bagi hasil yang aman, nyaman dan menguntungkan semua pihak. Jadi, sosio-bisnismerupakan kegiatan bisnis yang tidak semata mencari untung tetapi juga lebih mengedepankan kepentingan peternak rakyat untuk berkembang dan terus maju, mandiri dan berdaulat.

Di sini dapat dilihat bahwa SPR yang merupakan sekumpulan peternak rakyat yang telah diseleksi, direkomendasikam dan dalam pengayoman pemerintah daerah, serta di bawah binaan LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) suatu perguruan tinggi, menjadi sangat layak untuk dijadikan mitra bersosio-bisnis oleh masyarakat luas. Sebab, insya Allah aman, nyaman dan bisa saling menguntungkan. Apalagi juga sudah ada PT Jasindo, BUMN yang siap menjadi penjamin asuransi ternak sapi indukan.

Bagi masyarakat yang menginginkan menjalin kemitraan sosio-bisnis dengan komunitas peternak rakyat yang tergabung dalam SPR dapat mempersiapkan beberapa hal sebelumnya. Yakni dengan membentuk komunitas yang berjiwa sosial, mempunyai kesamaan niat dan visi ingin membantu peternak rakyat yang mayoritas hanya memiliki 2-3 ekor ternak saja. Komunitas ini bisa dimulai dari 3-5 orang dulu sehingga dana kemitraan yang harus disiapkan tidak memberatkan. 

Jenis kemitraan yang bisa dilakukan adalah usaha penggemukan, pembesaran, dan pembiakan. Kemitraan usaha penggemukan merupakan kemitraan yang paling sederhana. Dana yang terkumpul dari komunitas sosiobisnis diserahkan kepada pengurus SPR untuk dipelihara dan digemukkan selama 4-6 bulan dan dijual untuk keperluan kurban. 

Di sini ada dua keuntungan yang dapat diperoleh, yaitu penambahan berat badan hidup dan kenaikan harga daging yang cukup signifikan. Selisih antara harga beli dan harga jual dipotong biaya operasional adalah keuntungan bersama yang selanjutnya dibagi hasil dengan proporsi 65-70 persen untuk peternak dan 30-35 persen untuk komunitas sosio-bisnis. Bagi komunitas sosio-bisnis, bagi hasil yang diperoleh setara 1,5-3,5 persen per bulan, yang tentunya jauh lebih tinggi daripada bunga bank. 

Untuk kemitraan usaha pembesaran, dana yang terkumpul dibelikan pedet lepas sapih dan diserahkan kepada pengurus SPR untuk dipelihara dan dibesarkan sampai umur 2 tahun hingga siap dijual sebagai bakalan atau dilanjutkan kemitraan penggemukan. Adapun kemitraan usaha pembiakan, dana yang terkumpul dari komunitas dibelikan sapi indukan siap bunting atau sudah bunting untuk dipelihara hingga 4 kali beranak. 

Pola bagi hasilnya tetap memberikan porsi lebih besar bagi komunitas peternak SPR. Dengan demikian peternak sangat terbantu karena bisa mendapatkan ternak peliharaan tanpa harus membeli sendiri, sementara komunitas bisa beribadah membantu peternak dan memperoleh keuntungan bagi hasil yang relatif besar non-riba.

Kemitraan tersebut di atas sudah terbukti berdasarkan pengalaman Komunitas Lembu Kartini Sejahtera Palmturi (Paguyuban Alumni SMAN 1 Kediri) selama 4 tahun menjalin kemitraan sosio-bisnis dengan SPR Ngudi Rejeki Ngadiluwih, yang saat ini sudah menjadi anggota SASPRI (Solidaritas Alumi SPR Indonesia). 

Saat ini tiga SPR baru telah dideklarasikan di wilayah Kabupaten Kediri masing-masing di Kecamatan Plosoklaten, Kandat, dan Mojo menyusul 45 SPR yang telah ada di 23 kabupaten 12 provinsi di Indonesia. Kapan lagi kita bisa ikut berkontribusi dalam menggerakkan dan menumbuhkembangkan SPR, khususnya membantu meningkatkan kesejahteraan peternak?

*) Penulis adalah pegiat Sosio-Bisnis SPR, pengurus Komunitas Lembu Kartini Sejahtera Palmturi.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia