Jumat, 04 Dec 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
DIALOG JUMAT

Hukum Suntik Vaksin

20 November 2020, 18: 11: 44 WIB | editor : Adi Nugroho

Hukum Suntik Vaksin

Share this          

Merebaknya wabah penyakit yang disebarkan virus membuat umat khawatir. Pemerintah berencana memberi vaksinasi untuk menangkalnya. Bagaimana hukumnya suntik vaksin dalam Islam? 

(Luluk, 082146764xxx)

Jawaban:

Vaksin Covid-19 adalah sesuatu yang sedang diupayakan pemerintah baik lokal maupun luar negeri. Dengan vaksin ini diharapkan manusia akan terlindungi dari bahaya Covid-19 yang telah membunuh jutaan orang di seluruh dunia. Lantas bagaimanakah hukum menggunakan vaksin ini?

Vaksin ini digunakan untuk menangkal penyakit yang berasal dari virus. Maka penggunaan vaksin sama dengan kegiatan berobat. Yang juga sebuah usaha/ikhtiar untuk menghilangkan/menangkal penyakit. Dalam Islam, berobat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan menurunkan obat, dan menjadikan setiap penyakit ada obatnya, maka berobatlah….” (HR Abu Dawud no: 3874)

Yang menjadi masalah selanjutnya adalah asal dari vaksin tersebut. Apakah vaksin yang diproduksi untuk menangkal Covid-19 berasal dari sesuatu yang halal, atau ia berasal dari sesuatu yang haram? Dalam lanjutan hadis di atas, Rasulullah melarang untuk berobat menggunakan sesuatu yang haram: “…..dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang haram” (Sunan Abi Dawud no: 3874). 

Namun kita diperbolehkan menggunakan sesuatu yang haram jika keadaan menuntut kita untuk menggunakannya. Seperti tidak adanya obat lain selain obat haram, dan jika tidak digunakan maka akan menyebabkan kerusakan dan ke-binasaan. Sesuai dengan qoidah:

الضرورة تبيح المخضورات

“setiap sesuatu yang membahayakan itu bisa membolehkan sesuatu yang dilarang”

Dalam kasus vaksin Covid-19, jika ia berasal dari sesuatu yang halal maka sudah pasti deperbolehkan untuk menggunakannya. Namun jika ternyata ia berasal dari sesuatu yang haram maka akan diperinci. Jika tidak ada vaksin lain yang halal dan jika kita tidak menggunakannya dikhawatirkan keselamatan jiwa kita akan terancam maka boleh menggunakannya. 

Di Indonesia, kita telah mempunyai lembaga yang berwenang untuk melakukan sertifikasi halal dan haram. Yakni Majlis Ulama Indonesia (MUI). (Dr Khamim MAg, dosen IAIN Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia