Jumat, 04 Dec 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Puluhan Pegawai PN Kota Jalani Rapid dan Swab Test

Ruang Rawat Korona Penuh

20 November 2020, 18: 09: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

Puluhan Pegawai PN Kota Jalani  Rapid dan Swab Test

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri- Kasus positif Covid-19 terus mengalami peningkatan dalam dua minggu terakhir. Akibatnya, tak hanya ruang isolasi bagi pasien tak bergejala saja yang penuh. Lokasi perawatan pasien korona di rumah sakit rujukan juga nyaris penuh. 

Di Kabupaten Kediri ada tiga rumah sakit rujukan untuk korona. Dua milik pemerintah, yaitu RSUD Kabupaten Kediri dan RS SLG. Di dua rumah sakit itu daya tampung untuk pasien korona bahkan sudah dikabarkan penuh. Sedangkan satu rumah sakit swasta yang juga berstatus rujukan korona, RS HVA Toeloengredjo Pare, kapasitasnya juga hampir penuh.

Data terakhir menyebutkan, jumlah kasus terkonfirmasi positif adalah 1.079. Bertambah 11 dari sebelumnya. Dua di antara tambahan baru itu dirawat di rumah sakit.

Peningkatan itulah yang membuat rumah sakit rujukan penuh. Di RSKK misalnya, kapasitas mereka adalah menampung 21 pasien korona. “Jadi kalau kondisi penuh seperti ini maka jika ada pasien datang (harus) menunggu di ruang dekontaminasi terlebih dulu,” kata Direktur RSKK dr Ibnu Gunawan.

Hal itu sampai menunggu hasil swab atau melihat kondisi pasien lain yang tengah dirawat. Jika ada yang sudah pulang maka pasien baru akan menempati ruang perawatan. Kondisi seperti itu bahkan sudah berlangsung beberapa pekan terakhir ini. Bahkan, RSKK juga sempat merujuk pasien korona ke RS rujukan lain seperti RS HVA Toeloengredjo.

Di RSKK ada lima ruang perawatan dengan kapasitas tempat tidur yang berbeda-beda. Ada ruangan yang harus diisi satu orang karena kondisi yang kurang bagus dan pasien tersebut harus dirawat di ruang khusus.

“Kemarin (Rabu, 18/11), dari hasil swab pasien ada 16 positif dan yang 5 masih suspect  menunggu hasil swab. Jadi total ada 21 orang,” tambahnya.

Rata-rata, penderita menjalani perawatan selama 10 hari plus tiga hari. Itu sesuai revisi kelima penanganan Covid-19. Sebenarnya, bila selama dua minggu kondisi pasien baik tidak perlu swab ulang. Namun, menurut Ibnu, khusus di Kabupaten Kediri tetap perlu swab ulang. Untuk memastikan apakah yang bersangkutan benar-benar sembuh. 

Di RSUD SLG beberapa minggu ini kondisinya juga sama. Ruang perawatan pasien Covid-19 juga sudah penuh. Dari 9 kamar perawatan semuanya sudah terisi. 

Dari Kota Kediri, tren peningkatan kasus Covid-19 sedikit mengalami penurunan kemarin. Setelah sebelumnya per hari mencapai belasan kasus, kemarin hanya ada dua penambahan saja.

Dua orang itu, yang pertama, adalah pria 53 tahun asal Kelurahan Ringinanom, Kecamatan Kota. Kasus bernomor 336 ini diperkirakan karena yang bersangkutan bepergian ke luar kota. Kini lelaki ini dirawat di RS Kilisuci.

Sedangkan yang kedua perempuan 49 tahun asal Kelurahan Burengan, Kecamatan Kota. Kasus ke-337 tersebut masuk klaster keluarga. “Yang bersangkutan merupakan istri dari kasus ke-280,” terang Wali Kota Abdullah Abu Bakar melalui akun Instagram pribadinya kemarin.

Di sisi lain, pencairan kartu Sahabat tahap V sudah dimulai pada hari Senin (16/11) lalu. Pencairan tersebut nantinya akan terakhir pada Jumat (4/12) depan. Sebanyak 25.760 penerima mendapatkan uang tunai masing-masing Rp 200 ribu.

“Bila sampai tanggal 4 Desember 2020 uang tidak diambil, maka dana akan dikembalikan menjadi kas negara,” tandas Kepala Dinas Sosial Kota Kediri Triyono Kutut.

Menurut Kutut, jumlah penerima pada tahap V ini mengalami perubahan. Pada tahap IV, penerima sejumlah 25.794 kepala keluarga (KK). Selain mendapatkan uang tunai,  warga juga mendapat pembagian bansos berupa beras sejumlah 10 kg per KK sudah dilaksanakan. 

“Dengan ini kami ingin memastikan semua warga yang terkena dampak Covid-19 mendapatkan bantuan,” tandas Kutut. Bantuan diberikan selama 4 bulan terakhir sejak pandemi Covid-19. Setiap tahap, jumlahnya berbeda-beda sebab pembaruan data penerima secara bertahap. 

Sementara itu, puluhan karyawan Pengadilan Negeri (PN) Kota Kediri menjalani rapid dan swab test kemarin. Tes itu dilakukan sebagai antisipasi setelah salah seorang panitera dinyatakan positif korona beberapa waktu lalu.

Total yang mengikuti tes untuk mendeteksi korona itu sebanyak 53 karyawan. Terdiri dari 37 pegawai negeri sipil (PNS) dan 16 tenaga honorer. Sebagian besar hanya menjalani rapid test. Sebagian lagi menjalani swab test. Yaitu yang diketahui melakukan kontak langsung dengan panitera tersebut dalam waktu dua minggu sebelum dinyatakan sakit. 

“Panitera yang terpapar ini sempat mengeluh demam seminggu sebelum dinyatakan positif korona. Dia diketahui terkena korona saat menjalani swab test di Bogor untuk keperluan fit and proper test,” terang Ibnu Sola, ketua Gugus Tugas Covid-19 PN Kota Kediri, usai pelaksanaan rapid test.

Mereka yang menjalani rapid test tak ada yang terdektesi terjangkit virus. Semua menunjukkan hasil non-reaktif. Namun, beberapa orang yang menjalani swab test belum diketahui hasilnya. Menurut Ibnu, hasil swab test itu baru bisa diketahui pagi ini.

Sebenarnya, PN selalu melakukan rapid test pada karyawannya secara berkala. Bila dihitung, telah lima kali pihak pengadilan menggelarnya. Pada rapid test terdahulu selalu menunjukkan non-reaktif. 

Selain itu pihak pengadilan juga sering melakukan penyemprotan disinfektan di lingkungannya. Baik di kantor pengadilan maupun masjid Nurul Adli. Ibnu berharap agar situasi tak memburuk. Sebab, bila terjadi lockdown maka pekerjaan di pengadilan bakal menumpuk. (din/tar/jar/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia