Jumat, 04 Dec 2020
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Makan Roti, Bocah SD Tewas

19 November 2020, 14: 08: 23 WIB | editor : Adi Nugroho

Keracunan

Kronologi (Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk– Suasana duka menyelimuti Dusun Tosari, Desa Kebonagung, Sawahan kemarin siang. Puluhan petakziah memadati rumah Velga Febra Mahardika, 11. Bocah yang duduk di bangku kelas VI SDN Kebonagung 4 itu berpulang akibat keracunan roti kedaluwarsa yang dimakannya Selasa (17/11) sore lalu. 

Peristiwa tragis itu berawal ketika anak nomor tiga dari lima bersaudara tersebut hendak berangkat mengaji sekitar pukul 15.00 Selasa sore lalu. Kepada orang tuanya, dia meminta bekal roti. “Dibelikan lalu dia berangkat mengaji,” ujar Burhan, 60, kakek Velga.

Meski membawa dua bungkus roti sejak pukul 15.00, hingga pukul 17.30 baru satu bungkus yang dihabiskan oleh Velga. Muryani, 53, kerabat Velga lainnya menambahkan, anak yang dikenal baik itu mulai merasakan mual pada pukul 18.00. Selebihnya, dia juga muntah.

Keracunan

PERSIAPAN: Warga menata keranda jenazah Velga Febra Mahardika, 11, sebelum memberangkatkannya ke TPU kemarin. (Iqbal Syahroni- radarkediri.id)

Rasa sakit di perutnya menurut Muryani terasa semakin parah sekitar pukul 20.00. Pihak keluarga lantas berupaya menghubungi bidan setempat. Tetapi, tidak bisa dihubungi sehingga urung diperiksakan.

Melihat kondisi Velga yang kesakitan, keluarga curiga jika roti yang dikonsumsi sore hari kedaluwarsa. Apalagi, Velga tidak mengonsumsi makanan lain hingga malam hari. “Ternyata benar. Memang sudah kedaluwarsa,” jelas Muryani sembari menyebut roti kedaluwarsa sejak Oktober 2020.

Rabu (18/11) pagi, kondisi Velga tak kunjung membaik. Selain muntah, mulut Velga juga mengeluarkan busa. Muryani dan Rendi, ayah Velga, lantas membawa anaknya ke RSI ‘Aisyiyah Nganjuk untuk mendapatkan pertolongan.

Saat dibawa ke RSI ‘Aisyiyah Nganjuk menurut Muryani Velga masih dalam kondisi sadar. Tiba sekitar pukul 09.00 Velga langsung menjalani perawatan di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Selang 90 menit kemudian atau sekitar pukul 10.30, dia dinyatakan meninggal dunia. “Jenazah langsung dibawa ke rumah duka,” jelas Muryani dengan wajah bersedih.

Pantauan koran ini kemarin, sekitar pukul 13.00 jenazah mulai dimandikan. Setelah melalui serangkaian prosesi, jenazah dibawa ke makam sekitar pukul 14.50. Selanjutnya, prosesi pemakaman selesai pukul 15.20.

Sebelumnya, puluhan orang tua dan anak-anak yang tak lain adalah teman sekolah dan mengaji Velga memadati rumah duka. Mereka juga mengantar kepergian teman mereka ke tempat pemakaman umum (TPU). 

Hingga proses pemakaman selesai, sejumlah pelayat masih berdatangan di rumah yang bagian depannya merupakan salon tersebut. “Mohon doanya untuk keluarga juga,” tutup Muryani yang kemarin memakai kemeja biru itu.

Terpisah, Humas RSI ‘Aisyiyah Nganjuk Pitayatun membenarkan tentang perawatan Velga di IGD akibat keracunan makanan. “Tidak sempat dibawa ke ruangan perawatan (meninggal, Red),” ujar Pitayatun sembari menyebut untuk detailnya ditangani IGD langsung.

Kronologi:

-Selasa (17/11) sore Velga makan roti dalam kemasan kemudian sekitar pukul 18.00 mengeluh mual dan muntah.

-Saat dicek di kemasan roti yang tersisa, roti sudah kedaluwarsa sejak bulan Oktober 2020.

-Sekitar pukul 20.00 kondisi Velga semakin parah, sempat menghubungi bidan setempat tapi belum bisa ketemu.

-Rabu (18/11) pagi Velga yang tetap merasakan mual dibawa ke RSI ‘Aisyiyah Nganjuk, dalam perjalanan tiba-tiba mulutnya mengeluarkan busa.

-Tiba di IGD sekitar pukul 09.00, Velga langsung menjalani perawatan di IGD, pukul 10.30 dinyatakan meninggal dunia

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia