Jumat, 04 Dec 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Maskurun, Difabel yang Jadi Pengajar Kursus Jahit dan Bisindo

Muridnya dari Anak-Anak hingga Orang Dewasa

19 November 2020, 13: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

INSPIRATIF: Maskurun sedang mengajar bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) di tempatnya di Kelurahan Jamsaren, Kecamatan Pesantre, Kota Kediri kemarin.

INSPIRATIF: Maskurun sedang mengajar bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) di tempatnya di Kelurahan Jamsaren, Kecamatan Pesantre, Kota Kediri kemarin. (ANDHIKA ATTAR/JPRK)

Share this          

Maskurun lahir seperti anak pada umumnya. Saat berusia tiga tahun, dia mengalami insiden hingga pendengarannya terganggu. Dia tidak lantas menyerah. Justru kini perempuan asal Jamsaren ini ingin bermanfaat terhadap sesama.

ANDHIKA ATTAR, KOTA, JP Radar Kediri.

Gerakan tangan Maskurun terlihat sangat gemulai. Lincah dan tegas. Mimik mukanya ekspresif. Yuyun –sapaan akrabnya- sedang mengajar dengan menggunakan metode bahasa isyarat Indonesia (bisindo). Rumahnya di Kelurahan Jamsaren, Pesantren tersebut disulap menjadi tempat bimbingan belajar (bimbel).

Yuyun mulai mendirikan tempat kursus bisindo sejak Maret lalu.  Dia mengajarkan beberapa materi pelajaran kepada komunitas tuli di Kota Kediri. Tak hanya bimbel materi sekolah umum saja. Dia juga mengajar mengaji dengan bahasa isyarat.

“Setiap Senin sampai Rabu kelasnya,” ujar perempuan berumur 46 tahun ini.

Antara 5-10 anak tunarungu tercatat menjadi muridnya. Kelas dimulai dengan pelajaran agama dan mengaji sekitar pukul 09.00. Lalu disambung dengan bimbel. Beberapa mata pelajaran yang biasa diajarkan di sekolah, didalami di sana. Siangnya, dia mengajarkan bisindo kepada anak-anak tersebut.

Tidak hanya anak-anak saja. Orang yang belajar di tempatnya juga tidak sedikit yang berusia produktif. Bahkan ada yang seumuran dengannya. Beberapa muridnya juga bukan dari komunitas difabel. 

Salah satunya adalah Giovani Indah Giantoro Putri. Perempuan 25 tahun tersebut mengaku tertarik belajar bisindo agar dapat berkomunikasi dengan teman-temannya dari komunitas tunarungu.

Hebatnya, sebagai pengajar yang memiliki banyak murid, Yuyun sendiri juga seorang tunarungu. Namun kondisi tersebut tidak dialaminya sejak lahir. Perempuan berkerudung tersebut terlahir seperti anak pada umumnya. “Umur tiga tahun saya mengalami insiden,” ceritanya.

Kala itu, 43 tahun silam, ada sebuah kolam gamping di dekat rumahnya. Sewajarnya bocah seusianya, Yuyun kecil sedang aktif-aktifnya. Bermain dan berlari-larian di halaman. Nahas, ia terpeleset hingga akhirnya tercebur ke kolam gamping yang panas.

Kakinya mengalami luka bakar cukup parah. Dia sampai harus dilarikan ke RS Bhayangkara Kota Kediri. Selama tiga bulan lamanya, dia harus menjalani perawatan intensif. Namun cobaan yang dialami Yuyun tidak berhenti di sana.

Lantaran relatif parah, Yuyun dirujuk ke RSUD Soetomo Surabaya. Berbagai perawatan dan tahapan penyembuhan harus dilakoni bocah mungil tersebut. Tercatat, sekitar tiga bulan juga harus menjalani pengobatan.

Momen tersebut menjadi masa sulit baginya dan keluarga. Kakinya yang mengalami luka dinyatakan bisa sembuh. Ada jaminan pasti untuk normal kembali. Namun dia dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit.

“Ada saraf yang bermasalah akibat insiden tersebut,” sambung ibu dua anak itu.

Oleh dokter, Yuyun dan keluarga diberi pilihan. Untuk menyembuhkan saraf tersebut, dia harus memilih antara kehilangan pendengaran atau penglihatan. Keduanya bukan hal yang mudah untuk dipilih. Dia berada di persimpangan kebimbangan.

Di tengah pilihan sulit tersebut, dengan mata berkaca-kaca Yuyun menceritakan bahwa ia memilih kehilangan pendengarannya. Ia mengaku lebih tidak siap menjadi tunanetra. Ada beberapa pertimbangan personal menurut perempuan murah senyum tersebut.

Tibalah hari-hari sunyi baginya. Dia mengaku pertama kali kehilangan pendengaran rasanya cukup aneh. Tiba-tiba saja dunia menjadi hening. Tidak ada hiruk-pikuk di sekitarnya. Namun hebatnya Yuyun tidak lantas terjatuh dalam keterpurukan.

“Saya justru cuek. Semua sudah ada takdirnya sendiri,” tuturnya bijaksana. Beruntung, keluarganya juga sangat suportif. Dukungan dan kasih sayang terlimpah besar baginya. Hal itu diakui menjadi salah satu penguat baginya.

Yuyun mulanya belajar di sekolah luar biasa (SLB). Namun sewaktu SMP, dia memilih sekolah umum. Lalu, Yuyun melanjutkan pendidikannya di SMK jurusan tata busana. Sebuah keterampilan yang akhirnya membawanya mendapat banyak penghargaan.

Dia kini mendirikan sebuah kursus menjahit di rumahnya. Muridnya tidak hanya berasal dari komunitas tuli saja. “Sejak tahun 2000 saya membuka kursus,” kenangnya.

Dengan kondisinya tersebut, Yuyun justru mengaku semakin terpacu untuk membantu teman-teman senasibnya. Seperti sebuah panggilan baginya untuk dapat bermanfaat bagi orang lain.

Jiwa besarnya membawa Yuyun ke berbagai pengalaman hebat. Mulai dari menjadi narasumber, penerjemah, hingga fasilitator bagi komunitas tunarungu. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya penghargaan yang dipajang di dinding rumahnya. “Saya ingin bermanfaat bagi orang lain,” pungkasnya. 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia