Jumat, 04 Dec 2020
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Jadi Kurir Iblis karena Tergiur Upah

18 November 2020, 16: 44: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

ONLINE: Terdakwa Dwi saat sidang kemarin.

ONLINE: Terdakwa Dwi saat sidang kemarin. (FAJAR RAHMAD/JPRK)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Dalih karena kesulitan ekonomi menjadi alasan Dwi Purwanto, 30, melakoni perbuatan melanggar hukum jadi kurir sabu-sabu. Warga Desa Bendo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri ini mengaku jadi kurir karena tergiur upah besar. Apalagi dia baru saja dirumahkan dari pekerjaannya.

Karena itulah, begitu dia mendapat telepon dari Iblis-nama pengedar sabu yang menyuruhnya-Dwi langsung menyanggupi. Upahnya adalah sebesar Rp 500 ribu sekali antar.

“Iya benar yang mulia. Saya terpaksa (jadi kurir sabu) karena sudah tidak punya uang lagi,” dalih Dwi ketika ditanya oleh Hakim Ketua Widodo Hariawan dalam sidang di PN Kota Kediri kemarin (17/11).

Dwi kenal lelaki yang dia sebut bernama Iblis itu dari Facebook. Iblis itulah yang menawarkan bisnis distribusi sabu-sabu ini. Tepatnya pada 6 Juni, sekitar pukul 19.00 WIB. Ironisnya, sekali beraksi dia langsung tertangkap pada pukul 21.00 WIB.

“Saat itu Dwi tertangkap basah oleh warga karena ketahuan bergerak mencurigakan hingga akhirnya warga melaporkan ke petugas polisi,” ujar Dodik Eko Prasetyo, anggota polisi yang hadir sebagai saksi kemarin.

Menurut Dodik, dia bersama tiga rekannya langsung menanggapi laporan warga itu. Saat tiba di lokasi terdakwa sudah dalam keadaan babak belur karena dihakimi warga.

Saat tertangkap Dwi hanya seorang diri. Dia membawa tiga paket sabu dengan berat total 9,48 gram. Barang haram itu disimpan dalam bungkus rokok.

“Selain sabu juga ditemukan ponsel dan uang tunai sebesar Rp 500 ribu,” ujar Dodik.

Berdasarkan pengakuan terdakwa pada polisi, Iblis yang saat ini masih berstatus DPO itu memerintahkannya mengambil sabu-sabu di Stadion Brawijaya. Kemudian diminta dipindah ke kawasan Simpang Lima Gumul (SLG). Di tempat ini rencananya sabu akan diambil oleh orang lain.

Sayangnya nasib Dwi tidak beruntung. Sebelum sampai wisata SLG telah tertangkap oleh petugas kepolisian.

Lima menit sebelum sidang diakhir oleh hakim ketua, jaksa Penuntut Umum (JPU) bernama Munir Supriyadi bertanya ke Dodik. Dia menanyakan apakah kepolisian mengembangkan kasus ini sampai pemesan asli dari sabu-sabu yang dibawa oleh Dwi. “ Tidak ada pengembangan dari kasus ini. Jadi kami hanya menyelidiki Dwi saja,” terang Dodik.

Ketika Hakim ketua Widodo Hariawan mengkonfirmasi kebenaran pernyataan saksi kepada Dwi. Dia terlihat menyesali perbuatannya dengan wajah yang tertunduk dan mengakui bila sabu-sabu itu dalam penguasaanya. “Benar yang mulia,” jawab Dwi ketika ditanya oleh Widodo.(jar/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia