Jumat, 04 Dec 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Endro Puji Astoko, Pengembang Varietas Nanas Asal Ngancar

Bibitnya Didapat dari Hutan di Pulau Sumatera

17 November 2020, 16: 52: 51 WIB | editor : Adi Nugroho

BERKAT TELATEN : Endro Puji Astoko memperlihatkan nanas red honey yang berhasil dikembangkan di green house miliknya.

BERKAT TELATEN : Endro Puji Astoko memperlihatkan nanas red honey yang berhasil dikembangkan di green house miliknya. (HABIBAH A. MUKTIARA/JPRK)

Share this          

Perjuangan Endro Puji Astoko mengembangkan varietas baru nanas tidak mudah. Pria asal Desa/Kecamatan Ngancar itu sempat diejek. Lalu berburu sampai ke luar pulau. Kini, usahanya membuahkan hasil.

HABIBAH A. MUKTIARA, KABUPATEN, JP Radar Kediri

Green house di Desa/Kecamatan Ngancar itu berukuran 7 x 5 meter. Milik Endro Puji Astoko. Di dalamnya, terdapat berbagai jenis bibit nanas dalam  proses pengembangan. Di antara deretan bibit tersebut, terdapat satu buah nanas yang berbeda dari lainnya. Warnanya merah berukuran besar.

“Nanasnya masih dalam proses memperbanyak bibit,” terang Endro kepada Jawa Pos Radar Kediri.

         Pria 50 tahun ini mengatakan, varietas nanas tersebut diberi nama red honey. Dia mendapatkan bibit nanas tersebut saat berkunjung ke Riau di Pulau Sumatera. “Kira-kira di bulan April tahun lalu,” ungkap pria yang juga dosen Agrobisnis Universitas Islam Kadiri (Uniska) Kediri ini.

         Dia mengakui tidak mudah mendapatkan nanas jenis tersebut. Endro harus menjelajah hutan. Karena tidak ada yang merawat, dia membawa pulang ke Jawa. Sesampainya di Kediri, bibit tersebut langsung dilakukan proses stek batang. Dibutuhkan waktu sekitar 12 bulan untuk mengetahui hasilnya.

         Prosesnya memang memakan waktu lama. Namun, akhirnya membuahkan hasil. Bibit nanas yang dibawa dari Riau, berbuah. Seperti daunnya, buah nanas juga berwarna merah.

         Pada umumnya, kata Endro, warna merah pada nanas akan pudar ketika besar. Namun red honey berbeda. Warna tersebut bertahan hingga nanas tumbuh besar. Ketika dipanen, nanas memiliki rasa yang manis. Ketika dites, kadar gulanya 15-16 brix.

Karena percobaan tersebut berhasil, saat ini dia sedang mengembangkan bibit untuk dipasarkan. Selain rasanya, kata Endro, nanas red honey juga cocok sebagai tanaman buah hias yang diletakkan di meja.

Dalam mengembangkan nanas, Endro bukan kali pertama melakukannya. Sejak 2009, dia sudah mengembangkan nanas asal Kabupaten Subang, Jawa Barat (Jabar). “Ketika ditanam di sini, hasilnya berbeda karena pengaruh kondisi tanah di sekitar Gunung Kelud,” ujar bapak tiga anak ini.

Hasil panen nanas kemudian dijual pada pameran yang dilakukan di Surabaya. Bentuk nanas yang besar dan buah yang manis membuat banyak orang tertarik.

Mengetahui nanas tersebut dari Kelud, pengunjung sering menyebutnya nanas madu Kelud (MD). Sebelum MD, di Kabupaten Kediri hanya terdapat satu varietas nanas, yakni, queen.

Sebelum berhasil seperti sekarang, Endro mengakui perjuangannya tidak mudah. Banyak petani yang tidak menerima. Mereka menganggap Endro tidak mengerti nanas. Tapi, secara perlahan, anggapan tersebut mulai terkikis.

Memang, saat menjadi petani, usianya masih 27 tahun. Dia meneruskan lahan milik orang tuanya. Saat itu, pada 1997, sudah terbentuk kelompok petani nanas.

Atas kerja kerasnya itu, pada 2012, laki-laki kelahiran Kediri, 10 April 1970 ini mendapatkan penghargaan Adikarya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah mendapatkan penghargaan tersebut, pada akhir 2013, dia mendapatkan plasma sebanyak 1.000 dari Institut Pertanian Bogor (IPB). “Waktu itu, namanya masih PK. Kita tanam di lahan dengan luas 5 x 10 meter,” kata Endro.

Hanya saja, pada 2014 terjadi bencana erupsi Gunung Kelud. Peristiwa enam tahun silam itu membuat bibit nanas tertimbun abu vulkanik. Beruntung, dari 1.000 bibit, masih ada 700 batang yang selamat.

Batang yang selamat tersebut kemudian dipelihara hingga panen. Atas izin dari Bupati Haryanti, nanas tersebut diberi nama Pasir Kelud (PK).

Dari 700 batang tersebut, ada yang mengalami mutasi. Daun berduri hanya 10 persen. Tidak hanya itu, rasa buah nanas jauh lebih manis.  Sehingga nanas tersebut diberi nama Pasir Kelud Dua. Saat ini, suami dari Setyo Handari ini memiliki 9 varietas nanas. Tidak hanya sebagai budidaya varietas nanas, namun Endro juga membuka edukasi budidaya nanas. (baz)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia