Jumat, 04 Dec 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Memeringati Hari Santri saat Aktivitas Terhadang Pandemi

Belajarnya Berjarak, Mandi pun Harus Berganti

22 Oktober 2020, 16: 59: 02 WIB | editor : Adi Nugroho

SUNYI: Salah satu santri Ponpes Mahir Arriyadl Ringinagung, Keling, Kepung membaca Alquran di serambi masjid tadi malam.

SUNYI: Salah satu santri Ponpes Mahir Arriyadl Ringinagung, Keling, Kepung membaca Alquran di serambi masjid tadi malam. (MOCH. DIDIN SAPUTRO/JP Radar Kediri.)

Share this          

Pandemi membuat sejumlah pondok pesantren memperketat keluar masuknya santri. Aktivitas mereka pun terbatas. Namun tak mengurangi kekhusyukan dalam menimba ilmu agama di pesantren.

Kehidupan para santri di pondok pesantren selama pandemi berbeda dari biasanya. Banyak aturan baru. Baik aturan internal pesantren maupun dari pemerintah.

Di Ponpes Mahir Arriyadl Ringinagung misalnya. Aktivitas pondok sempat libur. Lokasi pondok steril, terutama bagi warga luar pondok. Di pintu gerbang tertulis imbauan mereka yang tidak punya kepentingan tidak diperbolehkan masuk kawasan pondok.

"Alhamdulillah selama ini ponpes kondusif. Hanya di awal-awal saja santri sedikit kebingungan untuk mendapatkan surat rapid dan swab karena cukup mahal," ujar Pengasuh Pondok Khudaifah Muawam.

Mayoritas santri di sini berasal dari luar daerah. Terbanyak dari Sumatera, mencapai 50 persen lebih. Selama pandemi ini banyak santri memilih tetap tinggal di pondok. Sebagian ada yang pulang, tapi dengan syarat membawa surat hasil rapid test.

Pria yang akrab disapa Gus Led ini mengaku biaya rapid test dan swab test berbeda di tiap daerah. Ada yang sangat mahal. Sehingga jadi beban santri. Terlebih rata-rata santri di sini bersifat mandiri. Artinya tidak bergantung dengan orang tua.

Sejumlah upaya untuk mencegah penularan pun telah dilakukan. Termasuk melakukan karantina atau isolasi bagi mereka yang baru dari luar daerah. Sementara bagi yang tidak membawa surat dari daerah asal. Disarankan untuk pergi ke puskesmas terdekat yakni Puskesmas Keling.

Sementara bagi santri, pandemi ini merupakan ujian untuk lebih mendekatkan diri pada Allah. Seperti yang disampaikan Qotib, santri ini mengaku bahwa protokol kesehatan memang salah satu hal penting untuk mencegah diri dari Covid-19. "Tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita kusyuk mendekatkan diri pada Allah. Salah satunya dengan belajar ilmu agama di pesantren ini," ujarnya.

Di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri, juga melakukan hal yang sama.  “Kami berusaha menerapkan protokol kesehatan pada setiap kegiatan ponpes. Kami suruh para alumni di masing-masing kota untuk menyediakan rapid test pada santri baru,” ujar Ketua Bagian Humas Ponpes Lirboyo Irfan Zidni, 30.

Meskipun terhalang pandemi, Lirboyo tetap membuka pendaftaran santri baru. Hasilnya, ada 3 ribu santri baru yang masuk pada tahun ajaran ini. Meskipun, jumlah itu 30 persen lebih sedikit bila dibanding tahun sebelumnya.

Santri baru harus melalui protokol kesehatan yang ketat. Selain hasil rapid test juga menyertakan surat karantina selama dua minggu sebelum berangkat. Sesampai di Lirboyo mereka harus melakukan karantina lagi, selama dua minggu.

Aturan itu juga berlaku bagi santri lama. Total, ada 30 ribu santri lama yang  memilih balik lagi ke pondok.

Protokol kesehatan juga diterapkan dalam belajar. Jumlah santri hanya 50 persen dari kapasitas sebelumnya. Karena itu pihak Lirboyo harus menambah jumlah kelas sekaligus jumlah pengajarnya.

Demikian pula dalam kegiatan keseharian di dalam pondok, banyak perubahan yang terjadi. Soal mandi misalnya, kebiasaan para santri menjadi berubah. “Sebelum pandemi santri mandi pada bak mandi secara bersamaan. Saat ini disediakan pancuran dan mandinya pun bergantian,” jelas Irfan, yang memakai baju biru dan peci hitam saat wawancara ini.

Santri tidak diperbolehkan keluar pondok untuk urusan apapun. Termasuk acara mengaji yang biasa digelar di luar area pondok. Kecuali sakit atau ada keluarga yang meninggal. Sementara kunjungan keluarga juga dibatasi. Keluarga hanya boleh menitipkan barang di pos jaga.

Hal sama terjadi di Ponpes Al Amin, Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kota. Rizqi Abdul Latif, 24, ketua Satgas Covid-19 ponpes, mengatakan mereka menyediakan tempat cuci tangan portable beberapa titik. Tiap dua minggu sekali dilakukan penyemprotan disinfektan di area ponpes. Selain itu juga santri harus diwajibkan memakai masker dalam setiap kegiatan.

“Obat dan vitamin kami tambah dan bangun kantin tambahan agar para santri tidak mencari kebutuhan di luar ponpes. Bahkan kunjungan keluarga tidak diperbolehkan,” kata Rizqi yang ditemui di pos jaga.

Rizqi menjelaskan pihak ponpes membuat satgas covid-19 untuk mencegah penyebaran pandemi tersebut. Selain itu, dibuat karena anjuran dari pihak pengurus cabang nahdlatul ulama (PCNU) Kota Kediri.

Pembatasan kegiatan juga berlangsung di Pondok Pesantren Nurul Hakim yang ada di Desa Ngino, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri. “Waktu pandemi jelas saya rasakan sangat sepi. Biasanya ramai anak berlalu lalang. Sekarang sudah jarang,” aku Ketua Ponpes Nurul Hakim H Abdul karim.

Pria yang biasa disapa Abah tersebut menjelaskan selama korona segala bentuk kegiatan dibatasi. Salah satunya adalah kegiatan belajar mengajar (KBM).

Jika bisanya KBM berlangsung sejak pukul 07.30 hingga pukul 11.00. kini jam belajar pun diubah menjadi pukul 08.00 hingga pukul 10.00. pengurangan jam belajar ia lakukan, demi mengurangi aktivitas santri untuk berkumpul dalam ruangan secara bersama-sama.

Selain jam belajar yang dikurangi, posisi para santri juga ditata sedemikian rupa. Duduknya berjarak antara satu sama lain.

Sebenarnya, jumlah santri ponpes ini mencapai 600 orang. Selama pandemi hampir separonya memilih berada di rumah. Menjalani belajar daring.

Sama seperti ponpes lain, waktu menjenguk juga dibatasi. Wali santri dilarang menjenguk kecuali dalam keadaan mendesak. Itupun harus bertemu di gerbang pintu masuk ke dalam ponpes. Antara wali santri dan santri dibatasi satu meja .

Waktu pulang kampung juga ditiadakan. Bahkan, yang telanjur pulang sebelum masa pandemi tak bisa lagi balik ke ponpes. Jika terpaksa kembali harus menjalani tes kesehatan dan karantina selama 14 hari.

Gerbang pondok juga selalu tertutup. Kegiatan olahraga yang biasanya menggunakan lapangan di luar pondok ditiadakan. Berganti dengan kegiatan di halaman pondok. (din/jar/luk/fud)

Tetap Semangat dan Kusyuk Menimba Ilmu Selama Pandemi//

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia