Jumat, 04 Dec 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Mereka yang Menahan Rindu karena ‘Tertahan’ di Ponpes

Tangis pun Tumpah kala Ber-video Call

22 Oktober 2020, 16: 56: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

BERJARAK: Para santri Ponpes Nurul Hakim belajar dengan menerapkan physical distancing. Aturan ketat diterapkan selama pandemi.

BERJARAK: Para santri Ponpes Nurul Hakim belajar dengan menerapkan physical distancing. Aturan ketat diterapkan selama pandemi. (LU’LU’UL ISNAINIYAH/JPRK)

Share this          

Terpisah jauh dan dalam waktu berbulan-bulan tak bertemu membuat kerinduan para santri membuncah pada kedua orang tua. Karena itu, hanya mendengar suara saja bisa menjadi penyemangat mereka.

LU’LU’UL ISNAINIYAH, Kabupaten, JP Radar Kediri

Seorang santri belasan tahun duduk santai di sudut kantor Ponpes LDII Nurul Hakim. Di meja depannya tergeletak buku yang digunakan untuk mencatat setiap tamu yang datang.

Kemarin Wahyu Abdul Aziz, nama santri tersebut, mendapat giliran piket. Menjaga tempat penerimaan tamu. Namun, hingga beberapa lama tak banyak tamu yang datang.  Maklum, di masa pandemi ini kunjungan ke pondok yang berada di Desa Kaliawen, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri ini dibatasi.

Bagi Wahyu, pembatasan seperti itu juga berdampak bagi dirinya. Sejak pandemi menerjang tanah air di awal tahun ini belum sekalipun dia bertemu kedua orang tuanya. “Belum ketemu bapak dan ibu sama sekali, sampai sekarang,” aku remaja 17 tahun ini. Matanya berkaca saat bercerita. Hampir saja air menetes dari sudut matanya yang mengkilap.

Saat bercerita itu suaranya lirih. Kepalanya juga menunduk. Baginya, hampir setahun berpisah dengan kedua orang tuanya adalah sesuatu yang cukup berat.

Rumah Wahyu sangat jauh dari lokasi pondok. Keluarganya tigngal di salah satu desa di Kecamatan Baki, salah satu kecamatan di Kabupaten Sukaharjo, Jawa Tengah. Biasanya, selama enam bulan sekali dia mendapat kesempatan untuk meluapkan kangen itu. Yaitu saat para santri mendapatkan kesempatan libur.

Namun, hal itu tak bisa dia rasakan lagi saat ini. Pandemi korona yang menerjang membuat semua aturan berubah. Jatah pulang pun jadi hilang.

“Kalau biasanya bisa pulang ke rumah selama satu minggu sudah cukup. Sekarang sudah tidak bisa,” ucapnya dengan suara lirih.

Apalagi kunjungan orang tua juga tak diperbolehkan. Hal itu menambah beban rindunya yang tinggi pada orang tuanya. Lebih-lebih saat seperti Idul Fitri beberapa waktu silam. Waktu yang biasanya jadi momentum kebersamaan itu jadi hilang.

“Kalau dibilang kangen ya pasti kangen. Pas Lebaran kemarin saya harus di pondok juga sama teman yang lainnya,” ucapnya.

Yang paling dia rasakan hilang adalah perhatian besar sang ibu selama dia di rumah. Misalnya soal makan, apa kesukaannya selalu jadi pertanyaan.

Kini, Wahyu hanya dapat mengobrol dengan orang tuanya melalui telefon saja. Bahkan itupun ia mendapatkan giliran selama satu minggu sekali dengan santri lainnya. Hanya mendengar suara orang tuanya saat ini yang dapat ia rasakan. Tapi itu sudah mampu mengurangi rasa rindunya. Sekaligus menjadi motivasi bagi dirinya selama menuntut ilmu agama.

Hal serupa juga terlihat di Ponpes Al Amin yang ada di Ngasinan, Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kota Kediri. Para santri di sini juga hanya bisa melepas kerinduan melalui video call yang disediakan pondok. 

Tak hanya santri yang merasakan hal itu, pengurus pun juga demikian. “Ketika rindu orang tua saya melakukan video call,” terang Rizqi Abdul Latif, 24, lelaki asal Blitar yang juga pengurus di ponpes ini.

Rizqi mengatakan selama pandemi ini dia baru sekali pulang ke rumah. Itupun tak lama. Yaitu ketika Hari Raya Idul Fitri lalu.

Di ponpes Al Amin, santri tak diperbolehkan membawa ponsel. Bila ada orang tua yang menghubungi anaknya harus melalui pengurus. Kemudian baru diteruskan ke para santri.

Saat itulah sering Rizqi melihat para santri yang melakukan video call dengan menangis. Bahkan meminta waktu lebih untuk melakukan komunikasi dengan keluarganya. Selain itu, banyak santri yang menuliskan surat untuk keluarganya yang dititipkan ke pengurus. Lalu dibalas ketika wali santri melakukan penitipan barang.

“ Saya sering melihat wali santri ketika menitipkan barang untuk buah hatinya, juga melakukan menulis surat untuk merespon yang ditulis oleh anaknya,” terang Rizqi.

Bagi Rizqi, tetap ada hikmah di balik bencana seperti ini. Kini, para santri bisa semakin akrab dengan teman-temannya di ponpes. Karena mereka hanya berkegiatan di dalam ponpes. (fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia