Minggu, 25 Oct 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Yang Gundul Makin Meluas

18 Oktober 2020, 16: 50: 52 WIB | editor : Adi Nugroho

KERING: Kondisi hutan di salah satu area lereng Gunung Wilis.

KERING: Kondisi hutan di salah satu area lereng Gunung Wilis. (MOCH. DIDIN SAPUTRO/ JP Radar Kediri.)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri- Masifnya pembukaan lahan di lereng Gunung Wilis membuat sejumlah aktivis lingkungan khawatir. Mereka takut jika penggundulan terjadi secara serampangan bakal menjadi ancaman bencana bagi warga di kaki gunung. Yang paling mungkin adalah banjir, tanah longsor dan minimnya ketersediaan air bersih.

         Ketua Pelestari Kawasan Wilis (Perkawis) Kediri Budiman Widyanarko mengatakan, alih fungsi lahan kawasan hutan menjadi lahan pertanian di Gunung Wilis kian mengkhawatirkan. Terbaru, ada 25 hektare (ha) hutan yang kini gundul. Rata-rata digunakan untuk budidaya tanaman sayur. “Itu bisa meningkatkan risiko bencana hidrometrologi seperti berkurangnya ketersediaan air, banjir dan longsor,” ungkapnya.

         Hal senada diungkapkan Tim Siaga Bencana Desa (TBSD) Kalipang, Kecamatan Grogol Khamid. Dia mengatakan, ketika musim hujan, beberapa tahun terakhir di lereng utara Gunung Wilis terjadi banjir. Terutama di desa-desa yang terletak di Kecamatan Banyakan, Grogol dan Tarokan.

PENJAGA HUTAN: Sejumlah aktivis lingkungan mendeklarasikan pernyataan sikap sebagai bentuk keprihatinan kondisi Gunung Wilis kemarin.

PENJAGA HUTAN: Sejumlah aktivis lingkungan mendeklarasikan pernyataan sikap sebagai bentuk keprihatinan kondisi Gunung Wilis kemarin. (MOCH. DIDIN SAPUTRO / JPRK)

“Tidak hanya pemukiman, lahan pertanian juga terdampak. Itu semua ulah manusia yang menggunduli hutan. Sehingga tidak ada lagi tanaman yang mampu menyimpan dan menangkap air,” jelasnya.

         Saat musim kemarau datang, lanjut Khamid, juga bisa menjadi ancaman. Pohon besar yang berfungsi menjadi penghasil sumber air sudah tidak ada. Dampaknya, kebutuhan untuk irigasi dan air bersih menjadi terganggu.”Ketersediaan air bersih di Desa Kalipang tahun lalu menjadi masalah serius,” imbuh Khamid.

         Menurut Khamid, jika alih fungsi itu tidak segera dihentikan, maka dari tahun ke tahun kawasan hutan yang gundul akan semakin meluas. Padahal dari 2019 di Desa Kalipang dan Parang sudah sekitar 60 ha lahan hutan yang dialihfungsikan sebagai lahan pertanian. “Tahun ini ada penambahan di dua wilayah tersebut. Jika tidak segera ditangani akan semakin meluas,” tandasnya.

         Kondisi itulah yang membuat sejumlah aktivitas lingkungan mendorong agar jangan sampai ada penggundulan hutan. Mereka yang tergabung adalah Suar Indonesia, Forum Komunikasi Hijau, TSBD Laras Wilis Kalipang, Yayasan Hijau Daun dan Forum Pojok Rembuk.

         Kemarin, mereka melihat langsung hutan yang sudah gundul. Para aktivis lingkungan tersebut mendorong instansi Perhutani untuk mengembalikan fungsi hutan kemudian menghentikan alih fungsi lahan di hutan lindung. Termasuk dorongan melakukan upaya penegakan hukum terkait kerusakan hutan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Kami juga mendorong stakeholder baik pemerintah kabupaten maupun provinsi untuk melakukan upaya edukasi pada masyarakat,” kata Budiman. (din/baz)

        

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia