Kamis, 22 Oct 2020
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Tiga PSK Anak di Rumah Aman

Didampingi Hingga Proses Persidangan

17 Oktober 2020, 12: 42: 57 WIB | editor : Adi Nugroho

PSK

PSK Anak (radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk–Kasus eksploitasi yang melibatkan tiga pekerja seks komersil (PSK) anak di eks Lokalisasi Kandangan, juga ditangani Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Nganjuk. Mereka fokus melakukan pemulihan psikis dan membekali keterampilan tiga anak yang kini tinggal di rumah singgah dinsos PPPA tersebut.

Sesuai prosedur penanganan kasus anak lainnya, tiga PSK di bawah umur itu akan tinggal di sana hingga proses persidangan tersangka Jumani, 44, sang mucikari, selesai. “Tiga anak itu masih didampingi petugas di rumah aman,” ujar Kabid PPPA Dinsos PPPA Nganjuk Agus Sugianto.

Dinsos PPPA, lanjut Agus, fokus pada kesehatan mental tiga anak tersebut. Selama beberapa hari terakhir mereka diajak berdiskusi untuk menggali potensi yang dimiliki. Selebihnya, anak-anak dibekali keterampilan seperti halnya anak seusia mereka.

Mulai diajak memasak, senam, hingga kegiatan lain untuk menjaga kesehatan. Tiga anak perempuan yang semuanya lulusan SMP/MTs itu akan diminta untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atas (SMA). “Tapi itu juga tergantung dari kemauan individunya,” lanjut Agus tentang kemauan ketiganya untuk melanjutkan sekolah.

Berbeda dengan kasus lain, Agus menyebut dinsos didampingi aparat sekarang menjaga ketat lingkungan sekitar rumah singgah. Tujuannya agar tidak ada intervensi dari pihak luar selama proses rehabilitasi.

Untuk diketahui, selain Bunga (bukan nama sebenarnya, Red), 16, ada dua PSK anak yang semuanya berumur 18 tahun.  Ketiga PSK anak tersebut selama ini ada di bawah pengusaan Jumani. Pria yang juga memiliki warung kopi di eks Lokalisasi Kandangan itu yang menentukan transaksi ketiganya dengan pelanggan.

Seperti diberitakan, untuk setiap kali satu transaksi seksual, Jumani yang memiliki bilik ini mendapat uang Rp 20 ribu. Dalam sehari dia bisa mendapat uang minimal Rp 100 ribu hanya dari biaya sewa kamar.

Akibat ulahnya, Jumani dijerat pasal berlapis. Yakni, dengan pasal 88 Jo 83 UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana diubah dengan UU No. 35/2014. Kemudian, pasal 12 jo pasal 2 UU No. 21/2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Nganjuk Iptu Nikolas Bagas Yudhi Kurniawan mengungkapkan, hingga kemarin pihaknya masih terus melengkapi berkas kasus eksploitasi anak tersebut. Selain memeriksa tersangka, polisi juga menggali keterangan sejumlah saksi dan fakta di lapangan.

Apakah polisi sudah menjadwalkan pelimpahan berkas? Perwira kelahiran Jogjakarta itu menggeleng. Menurutnya, hingga kemarin anggotanya masih fokus mendalami kasus tersebut. “Masih belum (pelimpahan berkas, Red) tahap satu, Mas,” tandasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia