Kamis, 22 Oct 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Masih Kaget Jika Ada Kereta Lewat Tengah Malam

17 Oktober 2020, 13: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

NIKMATI HARI: Dua bocah yang tinggal di perkampungan dekat rel kereta api di Kelurahan Balowerti menikmati es krim sembari duduk di depan rumah.

NIKMATI HARI: Dua bocah yang tinggal di perkampungan dekat rel kereta api di Kelurahan Balowerti menikmati es krim sembari duduk di depan rumah. (ANDHIKA ATTAR/JPRK)

Share this          

Hidup dan tinggal di pinggiran jalur kereta api memiliki problematika tersendiri. Mulai lingkungan yang terkesan kumuh dan padat penduduk hingga sedikitnya lahan bermain.

Ada beberapa perkampungan di Kota Tahu yang terkenal berada di pinggiran jalur rel kereta api (KA). Antara lain yang cukup padat berada di Kelurahan Balowerti, Jagalan, dan Setonopande. Ketiganya tercatat masuk di Kecamatan Kota.

Ketiga kawasan tersebut memiliki ciri khas yang sama. Penduduknya sangat padat. Antara satu rumah dengan rumah lainnya memiliki jarak yang dekat. Bahkan nyaris berhimpitan. Jalan masuk ke perkampungan juga relatif sempit. Hanya cukup untuk sepeda motor. Tidak semua titik dapat dilalui kendaraan roda empat.

Kehidupan seperti itu telah dirasakan selama puluhan tahun oleh warga penghuninya. Supiati, 65, misalnya. Warga Kelurahan Balowerti ini mengaku telah tinggal di tempat ini sejak ia kecil. “Dari saya lahir tahun 1955 sudah tinggal di sini,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Nenek delapan cucu tersebut mengatakan bahwa rumah yang ditinggalinya tersebut warisan dari kedua orang tuanya. Baginya tinggal dan hidup di pinggiran jalur KA sudah bukan menjadi suatu permasalahan. Selain kondisi ekonomi yang pas-pasan, ia juga sudah telanjur betah.

Supiati dikaruniai empat orang anak. Keempatnya juga dibesarkan di kawasan tersebut. Praktis anak-anaknya tersebut merupakan generasi ketiga dari keluarganya yang tinggal di sana. Namun keempatnya yang telah berkeluarga dan tidak lagi tinggal bersamanya.

“Masih di Kediri tapi berbeda-beda tempat tinggalnya. Jadi cucu-cucu saya masih sering bermain ke sini,” imbuhnya. Apabila ditambahkan dengan cucu Supiati, mereka akan menjadi generasi keempat.

Hidup puluhan tahun di pinggiran rel membuat Supiati hafal dengan jadwal KA yang melintas. Mulai dari pagi hingga malam, ia mengatakan ada lebih dari 20 sepur yang melintas. Baik dari arah utara maupun selatan.

Tidak hanya dirinya, warga lainnya juga hafal dengan ciri-ciri KA yang akan melintas. Dari suaranya. Meski masih di kejauhan, bunyi gemeretak sudah terdengar. Bahkan dulunya bunyi tersebut diakuinya cukup keras. Namun seiring perbaikan yang dilakukan kini menjadi lebih teredam suaranya.

Lucunya meski telah tinggal di sana puluhan tahun ia masih saja kaget jika ada KA yang melintas di malam hari. Terutama pada saat ia tertidur lelap. Bunyi dan getarannya dikatakan Supiati terkadang berhasil membuatnya terjaga untuk beberapa waktu.

“Terkadang masih kaget kalau ada KA yang bunyinya keras gitu,” ungkapnya sembari duduk santai di teras rumah yang hanya berjarak sekitar enam meter dari rel tersebut.

Hal serupa juga diamini oleh Erna Novi, 55, warga Kelurahan Setonopande yang juga tinggal di pinggiran rel KA. Hanya saja kondisi rumah-rumah di tempat ini terlihat lebih bagus dibanding di daerah Balowerti. Tak hanya bentuk rumah, kondisi jalanan di sana juga lebih lebar. Jarak dengan rel pun lebih jauh.

Erna merupakan generasi ketiga yang tinggal di sana. Dimulai dari kakeknya yang asli warga setempat. Kini, bersama ketiga anak perempuannya ia tinggal bersama di rumah yang menghadap persis ke jalur KA tersebut. “Anak saya berarti generasi keempat yang tinggal di sini,” sambungnya.

Suasana padat memang tak bisa dipungkiri sangat terasa. Namun kondisi tersebut tidak lantas membuat permasalahan bagi warga setempat. Justru mereka menjadi guyub. Tidak seperti warga khas perkotaan yang cenderung individual.

Terkait pekerjaan, Erna mengatakan bahwa warga di sana mayoritas bekerja sebagai pedagang, wiraswasta, dan serabutan. “Apalagi di sini juga dekat dengan Pasar Setonobetek. Banyak warga di sini yang berjualan di pasar,” akunya.

Pemandangan bersantai di pinggir rel bukan hal yang tabu di sana. Begitu pula dengan anak-anak setempat yang asyik bermain di jalur KA tersebut. Seperti bermain layang-layang atau sekadar kejar-kejaran. (tar/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia