Kamis, 22 Oct 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Artefak Kala Melengkapi Tinggalan Sejarah Badas

17 Oktober 2020, 13: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Artefak Kala

Artefak Kala (Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub)

Share this          

Desa Bringin terletak di bagian selatan Kecamatan Badas. Di daerah ini juga terdapat bukti kuno yang diindikasi dari zaman kerajaan.

Artefak batu andesit hampir tersebar di seluruh desa di Kecamatan Badas. Keberadaannya menjadi salah satu bukti peradaban zaman kerajaan yang pernah berkembang di kawasan tersebut. Meski secara keseluruhan, rata-rata dikaitkan dengan keberadaan Candi Surowono yang bisa diketahui masa pembangunannya.

Termasuk di penemuan-penemuan benda kuno di Desa Bringin. Di wilayah ini, terdapat sejumlah peninggalan bersejarah. Salah satunya adalah artefak berbentuk kepala kala yang terbuat dari batu andesit. “Artefak ini diamankan di Balai Desa Bringin,” ujar Kabid Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Yuli Marwantoko.

Lokasi artefak saat ini bukan lokasi in situ (lokasi asli). Sebab, benda ini ditemukan beberapa tahun yang lalu di areal persawahan belakang salah satu pabrik di Bringin. Lokasi penemuan itu berjarak 1,5 kilometer dari Candi Surowono. Hingga penemuan benda ini diduga merupakan salah satu bagian dari candi tersebut. “Secara kontekstual, temuan artefak ini merupakan satu wilayah kebudayaan dengan Candi Surowono,” jelas Yuli.

Selama ini, wilayah Surowono diidentifikasi dibuka oleh Batara Wengker pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk Kerajaan Majapahit. Itu pada abad 14 atau di akhir tahun 1300 Masehi. Yakni pada 1350 M hingga 1389 M. Sehingga, jika dihubungkan dengan usia Candi Surowono yang diperkirakan dibangun pada tahun tersebut, maka usia artefak di Desa Bringin ini diidentifikasi lebih dari 628 tahun.

Artefak itu dicatat sebagai panil sebuah komponen bangunan. Bentuknya segitiga dengan salah satu ujung berukir. “Pahatan ornamen dari wajah kepala kala masih terlihat jelas,” tambahnya. Bahkan jika dilihat seksama, ukiran itu sangat indah dengan hiasan-hiasan yang diukir cerung.

Masih di Desa Bringin, di lokasi ini ada sebuah arung yang hingga kini dimanfaatkan masyarakat. Lokasinya adalah di Dusun Ketangi. Warga kerap menyebutnya Sumber Pentit. Di sumber air itu terdapat dua lubang. Bahkan salah satunya setinggi orang dewasa, yakni mencapai 180 sentimeter dengan lebar 120 sentimeter.

Arung tersebut mirip dengan yang ada di Surowono. Termasuk pemanfaatannya juga sama, yakni sebagai instalasi keairan yang diduga dibuat pada zaman kerajaan.

Keberadaan arung di Desa Bringin ini membuktikan bahwa masyarakat di kawasan itu sejak dulu telah berhasil mengendalikan lingkungannya untuk keberlangsungan hidup. Memiliki nilai tinggi untuk edukasi seperti sistem irigasi, ilmu geologi dan hidrologi. (din/bersambung/dea)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia