Kamis, 22 Oct 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Konon, Ada Suara Gamelan dari Puthuk Gong

16 Oktober 2020, 16: 35: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

HANCUR: Kondisi struktur bata kuno yang disebut Puthuk Gong di Dusun Bumirejo, Desa Krecek, Kecamatan Badas.

HANCUR: Kondisi struktur bata kuno yang disebut Puthuk Gong di Dusun Bumirejo, Desa Krecek, Kecamatan Badas. (MOCH. DIDIN SAPUTRO/ JP Radar Kediri.)

Share this          

Di Desa Krecek, Kecamatan Badas terdapat struktur bata kuno. Berupa gundukan di areal persawahan. Banyak yang mengaku mendengar suara gamelan dari tempat ini pada hari-hari tertentu.

Peninggalan purbakala di Kecamatan Badas memang cukup banyak. Bahkan hampir terserak di semua desa di kecamatan paling utara Kabupaten Kediri ini. Salah satu desa yang memiliki jejak peradaban kuno itu adalah Desa Krecek.

Desa Krecek ini berada di sebelah timur dari Kecamatan Badas. Berbatasan dengan Desa Karangtengah, Kecamatan Kadangan.

Tepat di perbatasan Desa Krecek dan Desa Karangtengah itulah terdapat struktur bata kuno. Yang diduga dibangun pada zaman kerajaan. Lokasi tepatnya berada di Dusun Bumirejo.

Warga menyebutnya Puthuk Gong. Berupa susunan struktur bata kuno yang berada di areal persawahan. Hanya saja, susunan bata itu sebagian besar sudah hancur.

Candi ini baru dibersihkan satu tahun terakhir. Sehingga bentuk struktur bata kuno itu bisa terlihat. Sebelumnya, kata warga, hanya berupa gundukan tanah yang ditumbuhi semak belukar dan pohon mangga besar.

“Dari dulu sudah ada, tapi baru ramai ya akhir-akhir ini setelah dibersihkan,” ujar Suliyem, warga setempat.

Sebelum dibersihkan, susunan bata merah besar sudah terlihat. Hanya saja, warga belum memedulikan bahwa itu merupakan objek diduga cagar budaya (ODCB). Menurut Suliyem, dulu hanya gundukan tanah biasa yang ditumbuhi semak belukar.

Di lokasi tersebut, selain bata merah berukuran jumbo, ada juga sejumlah fragmen batu andesit dan fragmen gerabah. Saat ini pecahan batu tersebut dikumpulkan dan ditata di atas puthuk. Ada lumpang batu, pipisan, gandik, dan paling banyak adalah fragmen umpak. Yang menarik, di sebelah barat candi ada batu berbentuk lonjong.

Dalam beberapa waktu terakhir, kelompok masyarakat setempat memanfaatkan lokasi itu sebagai sarana wisata sejarah. “Awal bulan sering ada kunjungan dari Bali,” tambah Suliyem.

Terkait nama Puthuk Gong, ia menjelaskan bahwa hal ini karena dikaitkan dengan cerita masyarakat sekitar candi. Dahulu warga kerap mendengar suara gamelan di hari-hari tertentu. “Katanya dulu kalau malam Jumat Legi di sini ramai, ada suara-suara gamelan. Terdengar dari kejauhan,” ujarnya.

Berdasarkan cerita rakyat itulah lokasi tersebut dinamakan Puthuk Gong. Yang berarti gong pada gundukan tanah.

Dari sisi tata letak, lokasi Puthuk Gong ini memang tak jauh dari sejumlah peninggalan yang ada di sekitarnya. Seperti situs di Gua Kethek Desa Karangtengah atau fua dan Candi Surowono. Jika ditarik garis lurus, Puthuk Gong ini hanya berjarak 1,5 kilometer dari Kali Konto yang ada di sebelah utara kawasan ini.

Keberadaan Puthuk Gong yang merupakan struktur bata kuno ini menambah bukti sejarah di sekitar aliran Kali Konto. Sebagai aliran lahar besar yang kerap terjadi banjir besar yang dahulu pernah memendam peradaban disekitarnya (din/fud/bersambung)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia