Kamis, 22 Oct 2020
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Ngaku Cuma ‘Jual’ 3 Perempuan

Keuntungan Rp 100 Ribu dari Pekerja Seks Anak

16 Oktober 2020, 12: 55: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

Mucikari

SUNGGUH TEGA: Jumani memberikan keterangan pada Kanit PPA Satreskrim Polres Nganjuk Iptu Sudarsini yang memeriksanya kemarin. (Iqbal Syahroni- radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Satreskrim Polres Nganjuk terus mendalami kasus eksploitasi anak di bawah umur di eks lokalisasi Kandangan, Desa Kedungrejo, Kecamatan Tanjunganom. Kemarin (15/10), tersangkanya, Jumani, 44, melanjutkan proses penyidikan di unit perlindungan perempuan dan anak (PPA) mapolres.

Laki-laki asal Desa Kedungrejo, Tanjunganom itu disangka mengeksploitasi Bunga (nama samaran), gadis yang masih berumur 16 tahun,  secara ekonomi maupun seksual. Saat ini penyidik unit PPA satreskrim masih melengkapi data pemeriksaan tersangka.

Mucikari

Mucikari (Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub - radarkediri.id)

Hal tersebut untuk persiapan memasuki tahap pertama penyerahan berita acara pemeriksaan (BAP) ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Nganjuk. Untuk kepentingan tersebut, kemarin, Jumani menjalani pemeriksaan yang dilakukan Kanit PPA Satreskrim Polres Nganjuk Iptu Sudarsini.

Kepada petugas, Jumani mengakui bahwa dirinya memang ‘menjual’ beberapa gadis. Namun tak semuanya masih anak-anak. “Hanya satu yang di bawah umur. Dua sudah dewasa,” terang dia ketika memberikan keterangan di ruangan unit PPA.

Dari ketiga perempuan yang ‘diperdagangkannya’, Jumani mengatakan, baru menjalin hubungan profesional sekitar tiga hingga empat bulan. Sebelumnya, dia mengungkapkan, gadis yang berumur 16 tahun yang ‘dijualnya’ itu sudah pindah ‘kerja’ dari rumah ke rumah.

“Dia (Bunga) baru kerja dengan saya sekitar tiga bulanan,” paparnya sembari terus tertunduk di hadapan penyidik yang memeriksanya. Ketika dimintai keterangan di ruang unit PPA kemarin, kedua tangan tersangka tersebut terikat dengan borgol.

Atas bisnis gelapnya itu, Jumani berkilah, dirinya tidak mengambil untung besar. Dalihnya, dia hanya meminta Rp 20 ribu untuk sekali pemakaian kamarnya. Sedangkan uang dari pria hidung belang yang dibayarkan kepada Bunga sekitar Rp 150 ribu.

Dalam satu hari, menurut Jumani, Bunga bisa melayani sebanyak tiga sampai lima pria yang menggunakan jasanya. Sehingga dalam sehari, Jumani bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp 100 ribu dari praktik asusila tersebut. Itupun kalau ramai. “Baru pertama kali ini,” ujar pria yang berambut jabrik itu.

Seperti diketahui dalam pemberitaan sebelumnya, Jumani diamankan ketika petugas Unit PPA Satreskrim Polres Nganjuk bersama dengan personel Satpol PP Nganjuk sedang melakukan razia gabungan di eks Lokalisasi Kandangan pada Kamis malam (8/10).

Waktu itu, awalnya petugas satpol PP menjaring sebanyak 17 orang. Mereka terdiri atas 15 perempuan dan dua laki-laki. Dari kedua pria yang terciduk tersebut, salah satunya adalah Jumani.

Selanjutnya, sebanyak 17 orang yang kena razia tersebut dibawa ke Kantor Satpol PP Nganjuk. Di sana mereka didata. Kemudian, dilakukan pendampingan ke Rumah Singgah Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Nganjuk.

Jumani ini memang sangat mencurigakan sejak di tempat kejadian perkara (TKP) razia sampai dibawa dengan mobil Hilux Satpol PP Nganjuk. Pria ini tampak resah. Bahkan, ketika sampai di kantor satpol PP, Jumani nekat meloncat dari kendaraan operasional aparat penegak perda itu.

Dia berupaya kabur. Namun sial nasibnya. Belum sempat keluar dari halaman kantor satpol PP, Jumani terburu dihentikan oleh petugas yang lebih cekatan. Ia berkelit, awalnya hanya menjaga sepeda motor di sekitar lokasi saja.

Karena sikapnya yang mencurigakan, saat dilakukan asesmen di rumah singgah Dinsos Nganjuk, barulah ketahuan Jumani terlibat bisnis gelap perdagangan perempuan. Ia berlaku sebagai mucikari.

“Kita lakukan langkah cepat. Langsung kita tetapkan (Jumani) sebagai tersangka eksploitasi anak di bawah umur,” tegas Kasatreskrim Polres Nganjuk Iptu Nikolas Bagas.

Perwira polisi berpangkat dua balok di pundaknya itu juga menjelaskan bahwa ketiga perempuan yang terjaring razia masih berada di rumah singgah dinsos. Mereka didampingi oleh anggota agar lebih aman selama proses pemeriksaan tersangka berlangsung.

Akibat perbuatannya, Jumani dijerat dengan pasal 88 juncto 83 UU Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 35/2014 tentang perubahan menjadi pasal 12 jo pasal 2 UU Nomor 21/2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Bisnis Prostitusi Jumani

-         Menjadi mucikari di eks lokalisasi pekerja seks Kandangan

-         Mempekerjakan tiga perempuan, salah satunya masih anak-anak

-         Yang masih anak-anak baru kerja dengan Jumani sekitar tiga bulan

-         Mematok tarif kamar Rp 20 ribu untuk sekali sewa

-         Dalam sehari pekerja seks dapat melayani 3 sampai 5 tamu

-         Pengguna jasa membayar Rp 150 ribu untuk sekali pelayanan

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia