Kamis, 22 Oct 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Anna Anggraini

Juara 2 UKM Jawa Timur Kategori Kerajinan Tangan

15 Oktober 2020, 17: 07: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

TERAMPIL: Anna merangkai kawat menjadi aksesoris kalung indah di workshopnya di Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota kemarin.

TERAMPIL: Anna merangkai kawat menjadi aksesoris kalung indah di workshopnya di Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota kemarin. (ANDHIKA ATTAR/JPRK)

Share this          

Anna Anggraini punya ‘ritual’ khusus agar menciptakan karya yang mendekati sempurna. Dia pandang lekat-lekat sang batu. Merangsang otak kreatifnya bekerja.

ANDHIKA ATTAR. KOTA, JP Radar Kediri.

Jemari Anna menari-nari di potongan-potongan kawat yang ada di genggaman. Dengan cekatan wanita asal Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota ini merangkai batang-batang kawat itu. Meliukkannya hingga membentuk lekukan-lekukan seperti daun.

Di tangan Anna, potongan kawat tembaga dan silver itu bisa berubah wujud. Dari sesuatu yang tak bernilai menjadi aksesoris indah penghasil pundi-pundi rupiah. Tentu saja setelah dipadu dengan benda-benda lain yang mampu menjadi pendongkrak nilai. Mulai memadukan dengan batu mulia hingga mutiara air tawar.

“Ada yang saya padukan dengan mutiara dan batu swarovski,” terang perempuan 34 tahun itu, ketika ditemui di workshopnya yang jadi satu dengan tempat tinggal.

Duduk di sebelah kipas angin yang menderu-deru, Anna bercerita, selain mutiara, batu mulia merupakan penyelaras dari kerajinan tangan yang dia buat. Mulai dari batu jenis druzy, kalsedon, oak, hingga batu-batu akik. Bila sudah dipadu dengan aneka bentuk yang terbikin dari kawat, karyanya yang berupa kalung, cincin, gelang, maupun anting itu bisa memanjakan mata.

Soal harga, tentu saja melihat bahan dan bentuknya. Semakin sulit serta dipadu batu mulia atau mutiara, tentu saja semakin mahal. Yang kelas premium harganya bisa mencapai Rp 3 juta. Harga ini bisa meningkat bila dijual di pameran seperti Inacraft.

Namun, Anna juga membuat aksesoris yang bernilai ekonomis. Yang dia jual di kisaran harga Rp 5 ribu. Seperti peniti atau bros.

Anna membuat kreasi tersebut sesuai dengan kategorinya. Semakin detail dan susah kreasinya, harganya semakin mahal. Terlebih jika melihat bahan dan barang yang digunakan. Seperti halnya penggunaan mutiara dan batu swarovski.

“Kalau saya pribadi lebih suka berkreasi dengan kawat silver. Kesannya lebih mewah dan elegan,” imbuh perempuan berkerudung ini.

Tiap lekukan kawat dibuatnya sesuai apa kata hatinya. Anna tidak pernah membuat sketsa terlebih dulu. Sedikit aneh sebenarnya. Biasanya perajin akan lebih mudah merealisasikan idenya jika ada sketsa. Tetapi hal itu justru membuatnya terpaku. Kurang bebas.

Anna menggunakan sektsa pada saat awal mendirikan AG Handycraft 2016 silam. Namun seiring waktu berjalan ia justru meninggalkan metode tersebut. “Sketsa yang saya buat dan hasilnya selalu berbeda. Pasti ada saja ide-ide di tengah jalan,” sambungnya.

Setahun berselang ia memilih tidak membuat sketsa. Ia lebih suka dengan “gaya bebas” tanpa ada patokan di awal. Anna justru merasa menumbuhkan kreasi dengan ide-idenya.

Menariknya, sebelum melakukan eksekusi, perempuan berkacamata itu punya ritual khusus. Bukan klenik, tapi dia akan memandangi batu yang akan dijadikan aksesoris itu dengan lekat.

Nah, saat memandang itulah ide  kreatifnya akan berlangsung. Di otaknya sudah terbayang batu tersebut akan diapakan agar lebih indah. Kalung, cincin, anting, atau yang lainnya.

Perjalanan usaha Anna tak langsung sebagai perajin aksesoris seperti sekarang ini. Wanita yang dulu bidan ini pernah berjualan jam  tangan. Juga pernah membuat boneka wisuda dan anniversary.

Hingga akhirnya pada 2016 silam ada pelatihan oleh Pemkot Kediri. Pelatihan membuat aksesoris. Ia mengikutinya. Ternya, justru dia menemukan kecintaan di dunia tersebut.

Ada cerita sedih yang mengawali bergelutnya wanita asal Sulawesi ini di bisnis ini. Usaha ayahnya bangkrut. Mau tak mau dia harus menjalani berbagai pekerjaan. Hingga akhirnya dia menemukan jalan dengan bisnis ini.

Hasil dari bisnis ini tak dia nikmati sendiri. Warga sekitar tempat tinggalnya juga merasakan imbasnya. Anna ikut mengajak ibu-ibu di lingkungannya bekerja. Belasan orang yang bekerja pada dirinya. Menjadi penjahit, tenaga administrasi, hingga pembuat aksesoris.

“Ada juga yang masih kuliah. Mereka juga bersemangat dalam menekuni kerajinan ini,” ungkapnya.

Sayang, saat ini badai pandemi juga memengaruhi laju bisnisnya. Dulu, omzetnya bisa mencapai Rp 12 juta per bulan. Kini menurun drastis. Sangat jarang ada pesanan. Meskipun demikian dia tak kekurangan akal. Ketika situasi sulit ini dia mencoba berkreasi dengan membuat masker dan apron. (fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia