Kamis, 22 Oct 2020
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Jangan Mudah Sebut Gila

14 Oktober 2020, 17: 10: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

Jangan Mudah Sebut Gila

Jangan Mudah Sebut Gila (Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri- Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Kediri berharap polisi tidak terlalu mudah menetapkan WA, 42, mengidap gangguan kejiwaan. Meskipun penilaian itu datangnya dari ahli kejiwaan. Karena itu mereka berharap agar penyidik menggunakan banyak psikiater dalam memeriksa ayah cabul tersebut.

“Kami mendesak kepada penyidik untuk menggunakan lebih dari satu psikiater,” tegas Divisi Advokasi dan Pendampingan Anak Berhadapan dengan Hukum LPA Kota Kediri Heri Nurdianto.

Heri mengatakan bahwa LPA Kota Kediri terus mengawal kasus ini hingga tuntas. Salah satu bentuk pengawalan itu adalah memberikan usulan terkait upaya pemeriksaan kejiwaan pelaku oleh penyidik.

Usulan agar jumlah psikiater didasarkan beberapa pertimbangan. Terutama agar hasil yang diperoleh bisa lebih objektif. Bila diagnosis dilakukan dua atau lebih psikiater maka hasilnya lebih kuat.

Bila hanya mendasarkan pada diagnosis satu psikiater, hasilnya bisa menimbulkan perdebatan. Karena tidak ada pembanding pada diagnosis itu. Sedangkan kasus ini merupakan perkara yang mendapat atensi tinggi dari masyarakat.

“Kalau dinyatakan mengalami gangguan jiwa dan perkara hukumnya selesai itu jelas akan menyakiti rasa keadilan bagi korban,” imbuh Heri.

Pihaknya mengaku memang memberi perhatian lebih terhadap kasus tersebut. Selain karena tindakan WA yang keji dan tak bermoral, antara pelaku dan korbannya memiliki hubungan sedarah. Korban merupakan anak kandung dari pelaku.

Heri menyatakan bahwa LPA mendorong agar ayah bejat asal Kecamatan Mojoroto itu dapat diberikan hukuman maksimal. “Jaksa nantinya harus memberikan tuntutan hukuman maksimal. Mengingat hal ini sangat tidak manusiawi,” tegasnya.

Pihak LPA sangat setuju dengan pasal yang dijeratkan oleh penyidik dari Satreskrim Polres Kediri Kota. Pelaku dijerat pasal 82 UU nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Dalam pasal tersebut diatur hukuman kurungan penjara bagi pelakunya antara 5 hingga 15 tahun penjara.

Bahkan ada penambahan jika pelaku tersebut tinggal satu rumah dengan korbannya. Hukuman kurungannya ditambah selama satu per tiga hukuman maksimal. Sehingga WA bisa saja terancam mendekam dibalik jeruji besi selama 20 tahun.

Kasatreskrim Polres Kediri Kota AKP Verawaty Thaib mengatakan bahwa pihaknya juga terus menjalin komunikasi dengan instansi dan lembaga terkait. Tak terkecuali hubungan komunikasi dengan LPA Kota Kediri.

Terkait desakan tersebut Vera mengatakan bahwa pihaknya akan mencatat apa yang disampaikan oleh LPA Kota Kediri. “Oke, noted (dicatat, Red),” tandas perempuan berkerudung tersebut.

Diberitakan sebelumnya, WA bisa saja lepas dari jerat hukum. Hal itu terjadi apabila pria bejat tersebut terbukti memiliki gangguan kejiwaan. Hal tersebut tertuang dalam Pasal 44 KUHP.

Dalam pasal tersebut tersangka digolongkan masuk ke dalam kategori orang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya. Sehingga akal yang tidak sehat tersebut menjadi penghapus pidana.

Alasan pemaaf dalam hukum pidana karena gangguan kejiwaan diri pelaku tersebut dinyatakan oleh hakim. Penilaian hakim itu didasarkan pada keterangan ahli. Dalam hal ini, ahli yang dimaksud adalah dokter spesialis kejiwaan atau psikiater. (tar/fud)

Perjalanan kasus WA

·      Kasus pencabulan pertama kali dilakukan WA sekitar 2013

·      WA dilaporkan ke Polres Kediri Kota pada 29 September 2020

·      Polres Kediri Kota merilis kasus pencabulan tersebut pada 5 Oktober 2020

·      WA menjalani pemeriksaan kejiwaan di RS Bhayangkara pada 8 Oktober 2020

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia