Kamis, 22 Oct 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Cari Referensi dari Koran Hindia Belanda

Telusuri Jalur Lori dan Trem Non-Aktif

14 Oktober 2020, 17: 06: 36 WIB | editor : Adi Nugroho

SERU: Para penelusur jalur lori dan trem nonaktif saat mengeksplorasi kawasan bekas Pabrik Gula Purwoasri Minggu (11/10).

SERU: Para penelusur jalur lori dan trem nonaktif saat mengeksplorasi kawasan bekas Pabrik Gula Purwoasri Minggu (11/10). (DIDIN SAPUTRO/JPRK)

Share this          

Melakukan penelusuran jalur-jalur trem non-aktif menjadi hobi mereka. Kegiatan yang bisa dibilang sangat jarang ditemui pemuda-pemuda masa kini. Keseruan pun dirasakan mereka. Apalagi saat yang dilacak berhasil ditemukan.

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.

Kegembiraan dan rasa puas dirasakan Tomi, Cholins, Iqbal, dan Aji. Saat fondasi jembatan kuno itu berhasil ditemukan dan tebak-tebakan itu akhirnya terpecahkan. Seperti Minggu (11/10) pagi . Cuaca sangat cerah. Langit biru tampak menghiasi kawasan utara Kabupaten Kediri. Sejuk disertai semilir angin yang membuat Minggu pagi itu semakin terasa segar.

Mereka pun sibuk menerka-nerka apa yang sedang mereka cari. Yah, pagi itu empat pemuda penghobi jelajah jalur trem mati di Kediri ini sedang eksplorasi kawasan bekas Pabrik Gula Purwoasri.

Salah satu tujuan utamanya adalah melihat bekas fondasi jalur lori yang ada di sana. “Sayangnya sudah tertimbun saat pembangunan jembatan baru,” ujar Tomi. Di Purwoasri, mereka mengunjungi bekas bangunan pabrik gula yang sudah puluhan tahun tak beroperasi itu.

Termasuk ke bekas depo lokomotif yang lokasinya tak jauh dari bekas pabrik gula. Hanya saja dua lokasi ini terhalang aliran Kali Konto. Dan di aliran itulah mereka mulai mencari bukti-bukti adanya jalur lori yang dulu melintas di atas aliran sungai tersebut. Yang dicari adalah bekas fondasi jembatan jalur lori.

Salah satu yang menarik di lokasi itu, adalah adanya turntable atau pemutar rel. Sementara bangunan depo, juga tampak masih utuh meski saat ini sudah beralih fungsi sebagai gudang pembuang sepah tebu milik PG Lestari.

Pemilik nama lengkap Yazid Bustomi ini memang menyukai bekas-bekas bangunan peninggalan Hindia-Belanda. Sebenarnya ia lebih fokus ke bekas pabrik gula yang ada di Kediri. “Kemudian tertarik ke angkutan zaman Belanda,” jelasnya.

Tomi bertemu teman-temannya yang juga hobi menjelajah jalur trem non-aktif di media sosial facebook. Aji Zufriani salah satunya. Kata Aji, selama ini ia memang gemar menelusuri bekas jalur trem yang dulu milik Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM). Bahkan hampir seluruh jalur mati itu pernah dikunjunginya. Ia hafal betul jalur mana yang sama sekali tak berbekas dan mana saja yang masih terlihat bukti-buktinya. “Jalur mati di Kediri yang sulit menemukan bekasnya bahkan sudah tidak ada adalah jalur Pesantren-Wates dan Pare-Papar,” ungkap Aji.

Kalau ke jalur lain seperti ke Kandangan, Kepung, Papar, Plosoklaten/Kwarasan itu masih ada. Bukti-bukti utama adalah fondasi jembatan yang ada di sejumlah sungai. “Bekas paling banyak adalah jalur Pare-Kencong-Kandangan,” tambahnya.

Menurutnya, hobi minat khusus ini sangat seru. Apalagi bisa melakukan penelusuran dengan kawan-kawannya yang sehobi. Dalam mencari bukti-bukti bekas jalur lori itu, awalnya mereka mengamati peta. Salah satu yang menjadi perhatian adalah keberadaan sungai. “Kalau jalurnya melintas sungai pasti ada bekas fondasi jembatan,” tuturnya.

Jalur yang dilihat dari peta lama itu dibandingkan dengan kondisi saat ini. Sesekali mereka juga mencari referensi lewat koran zaman Hindia-Belanda. Yakni surat kabar antara tahun 1910 hingga 1930 Javasche Kourant, Batavias News, De Indiche Courant dan masih banyak lagi, termasuk melihat referensi surat kabar D'Locomotiv. Surat kabar ini mereka temukan dari situs website museum surat kabar kuno yang di antaranya tentang Hindia Belanda. Selain itu juga situs lainnya, salah satunya KITLV yang memuat foto-foto kuno.

Kata Aji, yang paling seru saat jelajah jalur trem itu adalah memecahkan suatu bukti tentang jalur yang sedang ditelusuri. “Jadi kita tebak-tebak dulu, sampai buktinya terpecahkan,” tambah Aji. Apabila mereka berhasil menemukan bukti itu, perasaan puas yang diterima.

Begitu juga dengan Arie Yoga Cholins, setelah menjelajah, ia sesekali membandingkan foto lawas dengan kondisi saat ini. Kemudian diunggah di facebook sebagai bahan diskusi.

Bahkan Cholins mengakui bahwa dari media sosial itulah ia mengenal orang-orang yang sehobi dengannya. “Dari FB akhirnya saling bertemu dan menjadi tim blusak-blusuk jalur lori,” ungkapnya.

Selain jalur lori, selama penelusuran mereka juga kerap singgah di beberapa bangunan kuno, seperti bekas pabrik gula, rumah loji milik pejabat zaman Belanda, juga stasiun-stasiun non- aktif yang saat ini menjadi kediaman keturunan pegawai KSM.

“Selama ini kami juga melihat jadwal perjalanan kereta zaman dulu. Berhenti di halte mana saja, kemudian kami kunjungi halte tersebut untuk tahu kondisi saat ini,” tambah Iqbal.

Selama ini dari penelusurannya, jalur yang masih memiliki rel utuh adalah jalur utama KSM yakni Kediri-Pare-Jombang. Di sepanjang jalur ini, beberapa bekas stasiun juga masih bisa dijumpai. Seperti Stasiun Gurah, Pare, Badas, Kencong dan Kandangan. (dea)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia