Kamis, 22 Oct 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Rapid usai Amankan Unjuk Rasa

Amankan Pendemo Bawa Ketapel dan Batu

14 Oktober 2020, 17: 01: 52 WIB | editor : Adi Nugroho

BERDESAKAN: Personel Polres Kediri Kota mengamankan aski demo (8/10) lalu. Mereka menjalani rapid test untuk memastikan tak terpapar korona.

BERDESAKAN: Personel Polres Kediri Kota mengamankan aski demo (8/10) lalu. Mereka menjalani rapid test untuk memastikan tak terpapar korona. (ANDHIKA ATTAR/JPRK)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Polres Kediri Kota melakukan antisipasi setelah anggotanya melakukan pengamanan aksi massa menolak UU Ominbus Law Cipta Lapangan Kerja (Ciptaker) (8/10) lalu. Pasukan yang diturunkan dalam aksi unjuk rasa itu di-rapid test. Tujuannya agar segera diketahui bila ada yang menunjukkan gejala terinfeksi Covid-19.

Rapit test tersebut berlangsung kemarin (13/10) pagi. Yang di-rapid adalah 591 orang. Baik petugas kepolisian yang bertugas maupun keluarganya.

“Sebenarnya sehari setelah aksi demo itu kami telah merencanakan rapid test. Hanya saja dari pihak Rumah Sakit  Bhayangkara baru dapat jadwal hari ini,” ujar Kasubag Humas Polresta AKP Kamsudi yang ditemui di kantornya kemarin.

Kamsudi mengatakan, jumlah polisi yang diterjunkan mengamankan aksi di depan gedung dewan itu lebih dari 200 personel. Mereka dianggap rentan terkena virus Covid-19 karena berhadapan langsung dengan ribuan mahasiswa yang ikut dalam aksi demo.

Rapid test tersebut merupakan yang ketiga kalinya dilakukan oleh Polres Kediri Kota. Tes serupa juga telah dilakukan pada Juni dan September. Rapid test kemarin selain mengantisipasi terjadinya penularan saat mengamankan demo juga untuk melihat perkembangan kesehatan anggota. Hasilnya, kondisi personel dalam keadaan bagus.

“Dari rapid test yang dilakukan selama dua jam ini petugas medis dari rumah sakit tidak menemukan adanya anggota polresta yang reaktif,” terang polisi yang hobi bersepeda ini.

Sementara itu, pasca-aksi demo mahasiswa di depan area Pemerintah Kabupaten Kediri yang terjadi pada Senin (12/10), pihak Polres Kediri sempat mengamankan tujuh orang. Ketujuh orang itu ditangkap karena ketahuan membawa ketapel dan batu. Batu-batu itu dicurigai hendak digunakan untuk melakukan pelemparan saat mereka mengikuti aksi unjuk rasa.

Menurut polisi, tujuh orang itu ditangkap dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari pelajar dan warga yang berasal dari Desa Bangkok, Kecamatan Gurah.

Kelompok kedua yang ditangkap adalah mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Dari kelompok Desa Bangkok terdiri dari tiga orang. Yaitu WP yang masih berusia 16 tahun, AS, 15, dan AM, 20 tahun. Salah seorang di antaranya masih berstatus pelajar di salah satu SMK di Kabupaten Kediri.

“Kami menangkap tiga oknum dari Desa Bangkok itu ketika anggota kami melihat mereka sedang mencari batu di area aksi demo,” ujar Kapolres Kediri AKBP Lukman Cahyono.

Setelah itu mereka diamankan di Polsubsektor Ngasem untuk dilakukan penyelidikan. Menurut pengakuan WP, awalnya mereka mendengar kabar akan ada demo pada Minggu (11/10). Dia kemudian mengajak AS dan AM ikut dalam aksi demo itu. Keduanya setuju, hingga pada Senin pagi mengendarai motor langusng bergabung dengan para pendemo.

Kelompok kedua yang ikut diamankan dari mahasiswa yang tergabung dalam PMII.  Mereka berinisial JH dan MI mahasiswa IAIN Kediri semester tiga yang datang membawa motor bersama rombongan mahasiswa aksi demo yang lain.

Sebenarnya terdapat empat mahasiswa yang terlihat mencurigakan karena mengumpulkan batu. Namun dua mahasiswa itu berhasil kabur ketika akan ditangkap. Kepada polisi mereka mengaku membawa ketapel yang disembunyikan di jok motornya.

“Ketujuh oknum ini kami suruh untuk menulis surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya dan kami panggil orang tuanya untuk menjemputnya,” jelas Lukman. (jar/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia