Kamis, 22 Oct 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Sumur Bor Ngadat, Pasokan Air Kurang

BPBD Lakukan Asesmen di Dusun Geneng

13 Oktober 2020, 15: 13: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

Kekeringan

RUSAK: Tim BPBD Nganjuk mengecek kondisi sumur bor di Dusun Geneng, Desa Genjeng, Loceret yang tidak bisa maksimal berfungsi karena pompanya rusak. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

LOCERET, JP Radar Nganjuk-Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk turun ke Dusun Geneng, Desa Genjeng, Loceret kemarin. Mereka menindaklanjuti laporan kesulitan air bersih yang dialami oleh warga di lereng gunung Wilis tersebut. Hasilnya, pasokan air warga di musim kemarau ini sangat terbatas akibat sumur bor di sana yang pompanya rusak.

Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, total ada 10 tandon yang digunakan untuk mendistribusikan air bersih kepada ratusan kepala keluarga (KK) warga di sana. Selama lima hari terakhir, tandon-tandon tersebut tidak bisa terisi semuanya. “Hanya sebagian tandon saja yang terisi karena alat pompanya rusak. Pasokan air jadi kurang,” ujar Kasun Geneng Bambang Jaini.

Lebih jauh Bambang mengungkapkan, sumur bor di Dusun Geneng memiliki kedalaman 120 meter. Idealnya, air dari sumur itu cukup untuk memenuhi kebutuhan warga di sana. Tetapi, setelah sibel pompa air rusak, air yang keluar tersendat.

Kemarin, jelas Bambang, sibel di sumur bor tersebut sudah diperbaiki. Meski demikian, jumlah air yang keluar tetap tidak mencukupi untuk kebutuhan warga di Dusun Geneng. “Sumur pompa tidak bisa terus dinyalakan karena bisa terbakar dan rusak lagi. Terpaksa bergiliran,” lanjutnya.

Keterbatasan waktu menyalakan pompa air, membuat pengisian 10 unit tandon di Dusun Geneng digilir. Yakni, tiap pagi dan sore. Warga pun harus mengambil air secara bergiliran dengan jumlah terbatas selama musim kemarau ini.

Kondisi tersebut membuat Pemdes Genjeng mengajukan bantuan air bersih ke BPBD Nganjuk. Mereka berharap warga bisa mendapat air bersih hingga fungsi sumur bor bisa normal kembali.

Untuk diketahui, pengoperasian sumur bor dilakukan secara swadaya. Warga yang memanfaatkan air bersih harus membayar Rp 10 ribu tiap bulannya. Uang yang terkumpul digunakan untuk membayar listrik dan perawatan alat. “Berapapun ambil airnya, bayarnya sama. Rp 10 ribu tiap KK,” beber Kasiran, 80, warga setempat.    

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Nganjuk Soekonjono yang dikonfirmasi tentang asesmen tim BPBD di Dusun Geneng, Desa Genjeng, Loceret kemarin mengungkapkan, mereka dikirim untuk melihat langsung kondisi kekeringan di sana. Hingga kemarin sore menurut Soeko mereka belum mendapat laporan tentang hasil asesmen.

Rencana pengiriman air bersih ke Dusun Geneng, lanjut Soeko, menunggu kajian asesmen. “Berapa tangki air yang akan dikirim ke sana masih belum bisa ditentukan sekarang (kemarin, Red),” jelasnya.

Tahun lalu menurut Soeko BPBD mengirim empat tangki air bersih tiap dua hari sekali ke daerah tersebut. Adapun tahun ini pihaknya masih akan melihat perkembangan kondisi terkini.

Seperti diberitakan, Pemdes Genjeng mengajukan bantuan air bersih untuk 505 jiwa warga di Dusun Geneng. Jika di beberapa daerah lain BPBD masih terkendala jumlah tandon yang kurang, di Dusun Geneng yang jadi langganan kekeringan tiap tahun sudah menyiapkan sarprasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia