Kamis, 22 Oct 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Robohnya Churabana karena Pasukan Berkuda

12 Oktober 2020, 17: 28: 02 WIB | editor : Adi Nugroho

CAGAR BUDAYA: Struktur bangunan Candi Surowono, Kecamatan Badas yang masih bisa dinikmati keindahannya.

CAGAR BUDAYA: Struktur bangunan Candi Surowono, Kecamatan Badas yang masih bisa dinikmati keindahannya. (MOCH. DIDIN SAPUTRO/JPRK)

Share this          

Kondisi Candi Surowono memang tak utuh lagi. Itu tak jadi alasan hilangnya kesan indah relief yang terpahat di setiap bagiannya.

Peninggalan bersejarah yang terletak di Dusun Surowono, Desa Canggu, Kecamatan Badas ini merupakan bukti kekayaan bangunan zaman kerajaan yang ada di Kediri. Candi yang di bangun pada masa pemerintahan Majapahit itu masih bisa dinikmati keindahannya.

Baik secara arsitektural maupun relief yang terpahat pada Candi Hindu tersebut. "Keberadaan candi ini ditujukan sebagai tempat pendarmaan Bhre Wengker," ujar Kabid Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri Yuli Marwanto.

Bhre Wengker merupakan salah satu kerabat Hayam Wuruk. Bertahta sebagai raja vasal di daerah Wengker. Saat ini wilayah tersebut di sekitar Madiun dan Ponorogo.

Dari keterangan Yuli, Surowono memiliki relief yang menggambarkan sejumlah cerita. Relief yang menghiasi bagian tubuh candi itu adalah cerita Arjunawiwaha, Bubhuksah Gagangaking, dan cerita Sri Tanjung.

Untuk Arjunawiwaha dipahat di barat daya. Untuk Bubhuksah Gagangaking di timur laut, sementara Sri Tanjung di sudut tenggara."Sedangkan di bagian kaki dihiasi relief cerita Tantri," imbuhnya.

Jika mengacu Kitab Nagarakertahama, candi jni disebutkan dibangun 12 tahun setelah Bhre Wengker yang meninggal pada 1388 Masehi.  Beberapa ahli sejarah menyebutkan, di Surowono ini juga ditemukan tokoh misterius. Yakni lelaki bertopi atau bertekes.

Banyak yang berpendapat bahwa tokoh itu merupakan tokoh Panji. Hingga kini, adanya tokoh itu masih menyimpan misteri karena jarang ditemui di relief candi lain.

Sementara itu, sejauh ini tak banyak yang tahu robohnya candi yang berlokasi sekitar 3 kilometer dari Kali Konto tersebut. Beberapa menyebut hal itu tak terpengaruh dari banjir lahar Kelud. Sebab lokasinya yang tak berada di jalur lahar.

Namun, beberapa warga menceritakan bahwa robohnya candi yang memiliki nama lain Churabana ini karena terkena aktivitas perang pasukan berkuda kala itu. (din/ndr/bersambung)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia