Kamis, 22 Oct 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Sekali Kirim, Habis dalam 2 Hari

11 Oktober 2020, 17: 14: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

HANGUS: Bangkai mobil yang terbakar di depan SPBU Semampir beberapa waktu lalu. Mobil ini terbakar saat melakukan pemindahan bensin dari tangki mobil ke jeriken.

HANGUS: Bangkai mobil yang terbakar di depan SPBU Semampir beberapa waktu lalu. Mobil ini terbakar saat melakukan pemindahan bensin dari tangki mobil ke jeriken. (FAJAR RAHMAD/JPRK)

Share this          

Kasus terbakarnya mobil Honda Mobilio di depan SPBU Semampir (30/9) memunculkan fakta menarik. Mobil yang tergolong baru itu terbakar ketika tengah memindah bahan bakar dari tangki mobil ke jeriken. Dan yang ditap (dipindah) itu adalah BBM jenis premium. Kebetulan mobil itu memang baru mengisi di SPBU yang berada di Jalan Mayor Bismo Kota Kediri itu.

Memang, akhirnya pihak kepolisian menganggap tidak ada pelanggaran yang dilakukan oleh pengendara mobil. Terutama terkait memindah isi tangkinya ke dalam jeriken. Karena itu dilakukan di luar SPBU. Namun, fakta bahwa yang ditap itu adalah berjenis premium tetap saja menjadi menarik. Sebab, bensin jenis ini tergolong BBM bersubsidi. Yang pendistribusiannya dibatasi.

Soal distribusi premium ini, pihak Pertamina bersikap tegas. Bila diketahui ada pelanggaran mereka akan menindak. “Apabila benar terbukti melakukan hal tersebut (pelanggaran penjualan bensin bersubsidi, Red) maka SPBU tersebut akan mendapatkan sanksi,” terang Manager Communication Relations & CSR MOR V PT Pertamina (Persero) Rustam Aji.

Hanya saja, menurut Rustam, kewenangan Pertamina adalah sanksi administratif. Bukan pada ranah hukumnya. Karena soal itu adalah urusan penegak hukum.

Karena itulah, bila ada konsumen bermobil kemudian membeli premium, kemudian ditap di luar SPBU, pihak Pertamina tak bisa berbuat banyak. Karena mobil memang masih diperbolehkan membeli premium dengan batasan tertentu. Namun, bila terbukti ada kongkalikong antara SPBU dan konsumen, pihak Pertamina akan menindak.

Rustam mengatakan bahwa sudah ada SPBU yang mendapat sanksi administratif itu. Memang bukan di wilayah Kediri, tapi di beberapa daerah lain. Misalnya, ada seorang membeli solar subsidi di salah satu SPBU yang berada di Madura. Solar itu untuk dijual lagi. Setelah dilakukan penyelidikan, rupanya ada keterlibatan dari pihak SPBU. Akibat kejadian tersebut, SPBU yang bersangkutan mendapat sanksi penghentian pasokan BBM. Bila dianggap berat, Pertamina juga akan melakukan pemutusan usaha pada SBPU tersebut.

Kini, Pertamina berupaya agar seluruh konsumen yang tak berhak membeli premium beralih ke pertalite atau pertamax. Salah satunya dengan digitalisasi dan pembayaran non-tunai. Hal ini untuk memantau pola konsumsi dan pola penyaluran di SPBU.

Agar pengguna premium beralih menggunakan pertalite, salah satunya dengan adanya digitalisasi. Dengan digitalisasi, dapat melihat pola konsumsi dan pola penyaluran di sebuah SPBU. Salah satu digitalisasi ini dengan memberlakukan pembayaran non tunai. “Kewenangan pertamina ini hanya sampai di SPBU, yang hal tersebut dimanfaatkan oknum tertentu,” imbuhnya.

Soal pasokan, Rustam mengatakan yang dikirim sesua dengan delivery order (DO) atau permintaan SPBU. Sesuai dengan kapasitas tangki yang dimiliki.

Namun jika dirata-rata untuk wilayah Kabupaten Kediri, dalam satu hari mendapatkan pasokan 54 kiloliter. Sedangkan untuk di wilayah Kota Kediri, satu SPUB mendapatkan 14 kiloliter per harinya.

“Penyaluran dari kami sudah naik, namun ada beberapa hal yang menyebabkan antrean,” jelas Rustam.

Beberapa pihak tak boleh memanfaatkan BBM bersubsidi ini. Terutama milik instansi pemerintah. Mulai dari mobil dinas pemda, BUMD, BUMN, TNI, dan Polri tak boleh mengisi dengan premium atau solar subsidi. Demikian pula beberapa mobil yang CC-nya lebih dari 2000 atau beroda lebih dari enam.

Sementara itu, dari 48 stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) di Kediri, tidak semuanya menyediakan BBM premium. “Untuk pengiriman tidak seperti dulu dapat memesan, namun kini sesuai dengan jadwal Pertamina,” aku salah satu penangung jawab SPBU di Kediri yang enggan menyebutkan namanya.

Dari keterangannya, setiap SPBU mendapatkan pasokan BBM yang berbeda-beda. Untuk SPBU-nya mendapat jatah pengiriman lima kali dalam satu bulan. Dalam satu pengiriman, bisa habis dalam dua hari.

“Jika premium habis, maka kami menyarankan untuk menggunakan pertalite atau premium,” imbuhnya.(ara/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia