Kamis, 22 Oct 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Demi Ngecer Rela Antre Berjam-jam

11 Oktober 2020, 17: 08: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

WARNA KUNING: Salah satu kios bensin eceran yang menyediakan bensin premium.

WARNA KUNING: Salah satu kios bensin eceran yang menyediakan bensin premium. (LU’LU’UL ISNAINIYAH/JPRK)

Share this          

Pemerintah melarang penjualan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, terutama jenis premium. Namun, para penjual eceran tidak kehilangan akal. Bensin ini tetap tersedia di penjual-penjual eceran di pinggir jalan.

Bila melintas di jalanan yang menembus wilayah Kecamatan Plemahan, kita bisa menjumpai beberapa rumah di tepi jalan yang menyediakan BBM eceran. Bensin-bensin itu dikemas dalam botol-botol bertubuh ‘gendut’ bekas tempat minuman. Berwarna-warni, bergantung jenis BBM yang disediakan.

Paling banyak tentu warna hijau yang menandakan bahwa itu jenis pertalite. Atau juga warna biru sebagai warna jenis pertamax. Namun, tak sedikit pula yang menyediakan botol yang berisi bensin berwarna kuning. Warna khas dari BBM subsidi jenis premium. Jenis BBM yang sejatinya tak boleh diperjualbelikan dengan cara eceran seperti itu.

Memang, sebenarnya ada aturan dari pemerintah yang melarang penjualan BBM dengan cara eceran. Namun, khusus untuk non-subsidi, aturan itu masih sangat longgar. Asalkan pembeli mematuhi ketentuan, pihak SPBU masih membolehkan. Berbeda dengan bensin subsidi. Untuk jenis ini Pertamina melarang keras diperjualbelikan di luar SPBU. Pembeliannya pun untuk kelompok terbatas.

Toh, aturan tinggal aturan. Tetap ada penjual eceran yang menjajakannya. Contohnya di jalanan yang ada di Desa Mojokerep, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri. Selain menyediakan jenis pertalite dan pertamax, ada penjual eceran yang menyediakan premium.

“Sudah lama jualannya. Sekitar satu tahun lebih lah,” aku pemilik kios bensin eceran yang tak mau namanya dikorankan.

Lelaki 35 tahun ini tahu bila menjual bensin eceran, apalagi premium, dilarang pemerintah. Namun, dengan alasan memenuhi kebutuhan ekonomi, pelarangan itu dia kesampingkan. Sebaliknya, dia pun rela antre berjam-jam hanya untuk mendapatkan premium.

Dia mengaku mendapatkan premium itu dengan cara berpindah-pindah dari SPBU satu ke SPBU lain. Mencari yang menjual premium dan boleh dibeli dengan jeriken. “Saya belinya pindah-pindah di pom (SPBU, Red) mana saja yang sedia premium,” aku pria yang mulai terlihat kesal karena coba dikorek keterangannya oleh wartawan koran ini.

Meskipun mulai seret dalam memberikan penjelasan, lelaki ini sempat mengatakan bahwa pihak SPBU yang menyediakan premium biasanya punya waktu-waktu tertentu melayani pembeli. “Jam bukanya tak tentu, sesuka operatornya,” jawab si penjual dengan nada ketus.

Ia mengatakan pernah ditolak oleh operator SPBU untuk membeli bensin premium. Padahal ia mengetahui jika stok bensin premium tersebut masih tersedia. Namun, ia tak dapat berbuat apa-apa dan harus pulang dengan tangan kosong.

Sempat ditolak bukan membuat pria tersebut berhenti untuk mencari premium dari berbagai SPBU. Mengenai caranya mendapatkan ia tak mau mengungkapkan. Ketika ditanya lebih jauh, lelaki ini justru ganti mengaku mendapat kiriman dari agen di Nganjuk.

“Saya dapatnya dikirim dari agen Nganjuk. Orangnya yang antar,” dalih pria tersebut, kemudian enggan melayani pertanyaan koran ini.

Di kios bensin eceran milik orang ini, premium dijual dengan dua ukuran. Ada yang satu botol berisi 1 liter. Untuk ukuran ini dia jual seharga Rp 8.500. Kemudian ada juga yang ukuran 1,5 liter dengan harga Rp 12.500. (luk/fud)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia