Jumat, 30 Oct 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Stok Melimpah, Harga Langsung Anjlok

06 Oktober 2020, 13: 34: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

Cabai

MURAH: Eko Priyono, 37, petani cabai asal Desa Sumbersono, Lengkong memanen cabai di sawahnya. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Sejumlah petani cabai di Desa Sumbersono, Lengkong tidak bisa meraup untung besar di musim panen akhir tahun ini. Pasalnya, sejak September lalu harga si pedas ini terus merosot. Jika awalnya menyentuh Rp 15 ribu per kilogram, kini hanya Rp 8 ribu per kilogram.

Penurunan harga cabai yang terjadi terus menerus ini membuat petani rugi dalam jumlah besar. “Di sini ada belasan hektare tanaman cabai. Kami rugi,” keluh Eko Priyono, 37, salah satu petani.

Eko menuturkan, setiap kali petik, dia bisa menjual hingga 70 kilogram cabai untuk satu bidang tanamannya. Dengan harga Rp 8 ribu per kilogram, dia hanya bisa mendapat uang Rp 560 ribu.

Jumlah tersebut menurut Eko sangat kecil dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan saat proses penanaman. Karenanya, jika dia masih memanen tanamannya. Tidak demikian dengan petani lain.

Pantauan koran ini, banyak tanaman cabai yang sudah memerah dan tidak dipanen. Jika harga cabai terus merosot, menurut Eko akan lebih banyak petani yang tidak akan memanen cabainya. “Biasanya dibiarkan sampai membusuk,” lanjutnya sembari menyebut hingga kemarin tidak ada tanda-tanda harga cabai akan naik.

Pada musim tanam akhir tahun ini menurut Eko kesulitan petani cabai seolah berlipat. Selain harga yang rendah mereka harus menghadapi kesulitan pupuk. Terutama pupuk bersubsidi urea yang menghilang dari pasaran.

Padahal, eko merupakan anggota kelompok tani aktif dan memegang kartu tani. “Kami petani biasa hanya bisa pasrah karena pupuk memang tidak ada di pasaran,” keluhnya.

Selain kelangkaan pupuk subsidi, ia harus berjuang lebih keras untuk memenuhi kebutuhan air di lahan pertaniannya. Setidaknya Eko harus menyiapkan selang sepanjang 300 meter untuk menyedot air demi mengaliri sawahnya. Sebab, selama musim kemarau ini air di tempatnya sudah sulit didapat.

Terpisah Kepala Dinas Pertanian Judi Ernanto melalui Kabid Hortikultura Agus Sulistiyono mengakui adanya penurunan harga cabai disebabkan karena pasar stagnan. “Saat ini pasokan dari berbagai daerah masuk,” urainya.

Jumlah pasokan yang besar itu tidak seimbang dengan kebutuhan pasar. Karenanya, harga cabai terus merosot.  “Jika seperti ini terus, tidak menutup kemungkinan harganya bisa turun lagi,” terang Agus.

Yang bisa dilakukan petani menurut Agus adalah mencari pasar baru untuk mendongkrak permintaan di pasar. Adapun dinas pertanian menurutnya tidak bisa mengintervensi mekanisme pasar.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia