Minggu, 25 Oct 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Irigasi Mengering, Petani Tanam Kacang Hijau

29 September 2020, 12: 10: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Petani

RISIKO TINGGI: Petani di Desa Oro-Oro Ombo, Ngetos memanen kacang hijau kemarin. Di musim kemarau, mereka memilih menanam jenis tanaman yang tidak membutuhkan banyak air ini. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Petani di Desa Oro-Oro Ombo, Ngetos, dan Desa Bendungrejo, Berbek harus merelakan tanah mereka menganggur di musim kemarau ini. Para petani yang tak mau menanggung risiko gagal panen ini berhenti bercocok tanam karena saluran irigasi di lingkungan mereka kering. Hanya sebagian kecil yang nekat menanam kacang hijau dengan alasan tak butuh suplai banyak air.

Pantauan koran ini, sejumlah lahan di dua desa yang berbatasan itu memang banyak yang ditanami kacang hijau. Meski demikian, tetap tidak sebanding dengan luas lahan yang dibiarkan bera.

Damina, 43, petani asal Desa Bendungrejo, mengaku terpaksa menanam kacang hijau setelah sebelumnya gagal panen padi. “Kalau kacang hijau tidak butuh banyak air,” ujar pria yang kemarin memanen kacang hijaunya yang kulitnya sudah mulai menghitam itu.

Petani

JADI TUMPUAN: Petani memanen kacang hijau di lahan mereka yang kemarau ini mulai kesulitan air. (Rekian - radarkediri.id)

Lebih jauh Damina menyadari jika saat ini harga kacang hijau mulai turun. Meski demikian, dia tak punya pilihan selain harus menanam tanaman tersebut. Dengan harga Rp 10 ribu per kilogram, dia mengaku sudah senang bisa memanen 50 kilogram kacang hijau. “Sebelumnya harganya Rp 12 ribu per kilogram,” lanjutnya.

Terpisah, Kepala Desa Oro-Oro Ombo Haji Bismoko mengungkapkan, kekeringan lahan pertanian di desanya memang siklus tahunan. Artinya, selalu terjadi tiap musim kemarau. Karena itu pula, dia sudah mengingatkan petani terkait risiko gagal panen jika nekat bercocok tanam.

Bismoko menjelaskan, total lahan pertanian di Desa Oro-Oro Ombo sekitar 102 hektare. Dari jumlah tersebut, ada belasan hektare yang masih dimanfaatkan para petani. Mayoritas memilih menanam kacang hijau. Selebihnya menanam jagung.

“Hanya sekitar 15 persen saja petani yang masih turun tanam. Sisanya ya menganggur,” urainya sembari menyebut petani akan menganggur pada musim tanam ketiga karena lahan mereka tidak lagi mendapat pasokan air.

Sejumlah petani yang nekat menanam jagung di musim kemarau, menurut Bismoko harus mengambil air dengan jarak sekitar tujuh kilometer dari lahannya. Biasanya mereka mengambil air dengan jeriken lalu menyiramkannya ke lahan jagung.

Yang tidak mau mengambil risiko besar memilih menanam kacang hijau. Sebab, tanaman ini hanya butuh sedikit air. Daya tahan kacang hijau juga dianggap lebih kuat dibandingkan dengan jagung. “Ada sekitar 10 hektare tanaman kacang hijau,” terangnya pria berambut pendek ini sembari menyebut kacang hijau hanya butuh satu kali penyiraman.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia