Jumat, 30 Oct 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Optimistis Harga Terus Membaik

Semangat Menanam Brambang Lagi

29 September 2020, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Petani

MAHAL: Sugianto, 66, petani asal Desa Selorejo, Bagor memupuk tanaman bawang merahnya. Dia bersemangat merawat tanamannya karena tahun ini harga brambang terus tinggi. (Iqbal Syahroni- radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk–Tahun 2020 seolah menjadi milik petani bawang merah. Optimistis harga umbi andalan Kota Angin ini terus membaik, para petani bersemangat melanjutkan menanam bawang merah pada musim tanam ketiga tahun ini.

Para petani yang biasanya berganti tanaman lain saat air mulai sulit di musim kemarau, memilih tetap menanam bawang merah. Pasalnya, mereka yakin harga tidak akan anjlok hingga akhir tahun.

Seperti dikatakan oleh Sugianto, 66. Petani asal Desa Selorejo, Bagor itu mengaku semangat menanam bawang merah karena saat ini harga di pasaran mencapai Rp 22 ribu per kilogram. “Panen kemarin (Agustus, Red) masih sekitar Rp 15-16 ribu,” ujar pria berkaus biru itu.

Dengan break even point (BEP) sebesar Rp 10 ribu, Sugianto dan para petani bawang merah lainnya memang bisa meraup untung dalam jumlah besar tahun ini. Panen raya yang biasanya selalu diwarnai anjloknya harga juga tak terjadi tahun ini. Sebab, harga terendah bawang merah sebesar Rp 13 ribu per kilogram.

Melihat tren harga tersebut, Sugianto mengaku sengaja menyisihkan panenan kedua tahun ini untuk bibit. “Untuk mengurangi biaya. Bibit kan juga mahal,” lanjut pria yang kemarin tengah memupuk tanaman bawang merahnya itu.

Dikatakan Sugianto, tahun ini dirinya bisa memanen tujuh ton bawang merah. Dari jumlah tersebut, beberapa kuintal di antaranya disisakan untuk bibit. Bukan hanya untuk penanaman ketiga tahun ini. Melainkan juga untuk penanaman selanjutnya.

Hanya dengan menggantung dan memberi kapur, menurut Sugianto bibit hasil panenannya itu bisa awet hingga enam bulan. Sehingga, dia sudah memiliki stok untuk penanaman akhir tahun nanti.

Sementara itu, meski harga bawang merah relatif baik, menurut Sugianto para petani bawang merah tetap harus berjibaku dengan hama setiap kali musim tanam. Seperti kali ini, dia harus bisa melawan hama ulat agar panenannya maksimal. “Panenan turun karena hama ulat,” keluhnya.

Tak hanya Sugianto, Badiah, 46, petani lain asal Desa/Kecamatan Bagor juga mengeluhkan serangan hama ulat pada tanaman brambangnya. Meski demikian, dia mengaku tetap bisa tersenyum karena harga bawang merah tahun ini bagus. “Tetap untung karena harganya bagus,” urainya tersenyum.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia