Jumat, 30 Oct 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Nestapa Petani Nganjuk Akibat Kelangkaan Pupuk Bersubsidi

Kantong Jebol karena Harus Beli Produk Impor

28 September 2020, 14: 25: 13 WIB | editor : Adi Nugroho

Pupuk

MENGHILANG DI PASARAN: Petani di Desa Blitaran, Sukomoro memupuk tanaman padinya. September ini pupuk bersubsidi menghilang di pasaran dan petani terpaksa menggunakan pupuk impor. (Sri Utami - radarkediri.id)

Share this          

Pengurangan kuota pupuk hingga separo oleh pemerintah pusat membuat pupuk langka di akhir tahun. Akibatnya, mereka harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk membeli pupuk impor.

Kelangkaan pupuk terjadi sejak 1,5 bulan terakhir. Bahkan bukan lagi langka. Melainkan stok pupuk di kios pengecer sudah habis. “Tidak ada lagi pupuk bersubsidi. Mau tidak mau pakai pupuk impor,” ujar Edi Suprianto, 28.

Petani asal Desa Sumengko, Sukomoro itu menuturkan, harga pupuk impor lebih dari dua kali lipat pupuk subsidi. Dia mencontohkan pupuk ZA bersubsidi hanya Rp 80 ribu per sak isi 50 kilogram. Tetapi, pupuk impor ZA per saknya paling murah Rp 150 ribu.

Pupuk

Kuota Pupuk Nganjuk (Grafis: Dedi Nurhamsyah - radarkediri.id)

Itu pun menurut Edi stoknya kosong September ini. Yang ada di pasaran adalah ZA merk berbeda dengan harga Rp 200 ribu per sak. Untuk memupuk tanaman wijennya hingga panen, sedikitnya diakui Edi dibutuhkan total tiga kuintal pupuk atau sekitar Rp 1,2 juta. “Kalau pakai pupuk subsidi cukup Rp 360 ribu,” keluhnya sembari menyebut biaya produksi langsung membengkak.

Yang membuatnya sedih, dengan biaya produksi yang mahal, dia belum bisa memperhitungkan keuntungan yang didapat. Apalagi, akhir September ini harga jual wijen merosot. Jika harga normalnya mencapai Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram, kini menjadi Rp 14.500 per kilogram. “Tidak tahu lagi nanti pas panen berapa,” lanjutnya sembari menyebut di Desa Sumengko ada puluhan hektare tanaman wijen siap panen sebulan lagi.

Untuk diketahui, sesuai E-RDKK (rencana definitif kebutuhan kelompok), tahun ini kebutuhan urea sebanyak 47.660 ton. Kemudian, ZA, 29.620. Adapun SP36, NPK, dan pupuk organik, masing-masing 20.350 ton, 43.998 ton, dan 19.599 ton.

Tetapi, alokasi pupuk bersubsidi 2020 ini hanya separo dari kebutuhan RDKK tersebut. Misalnya, urea mendapat 23. 149 ton, ZA justru kurang dari separo. Yaitu, 10.400 ton. Kemudian, SP36, NPK, dan pupuk organik masing-masing 3.024 ton, 22.801 ton, dan 5.149 ton.

Kepala Dinas Pertanian Nganjuk Judi Ernanto yang dikonfirmasi tentang kelangkaan pupuk di Nganjuk mengatakan, sejak Mei lalu pihaknya sudah mengajukan tambahan kuota ke Pemprov Jatim. Tetapi, ternyata belum ada tambahan kuota hingga sekarang.

Harapan akan penambahan kuota pupuk menurut Judi muncul dari Kementerian Pertanian (Kementan). Tetapi, hingga akhir September ini juga belum tahu berapa jumlah penambahannya. “Harapan kami sama dengan E-RDKK 2019,” terang pria berbadan kurus itu.

Apakah tidak ada penambahan kuota pupuk menggunakan APBD? Ditanya demikian, Judi menyebut hal itu tidak memungkinkan. Untuk anggaran daerah menurut Judi sudah dirupakan dalam pupuk bantuan Covid-19. Total ada sekitar 15 ribu petani yangmasing-masing menerima 50 kilogram urea dan 25 kilogram NPK.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia