Jumat, 30 Oct 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Terdampak Cuaca, Produktivitas Melon Turun

Harga Melon Murah, Petani Tetap Untung

28 September 2020, 13: 16: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

Panen

SEGAR: Mungin, 72, memanen melon di sawahnya Desa Kedungrejo, Tanjunganom. Tahun ini harga buah wangi dan manis itu turun. Produktivitas tanaman juga turun akibat terdampak cuaca. (Iqbal Syahroni- radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Puluhan petani di Desa Kedungrejo, Tanjunganom yang melakukan panen raya melon akhir September ini tidak bisa mendapat keuntungan sebanyak tahun lalu. Pasalnya, selain produktivitas yang turun, harga buah wangi dan manis itu juga turun.

Sebelum September, harga melon di tingkat pengepul bisa menyentuh Rp 5 ribu per kilogramnya. Tetapi, akhir September ini harganya hanya Rp 3 ribu hingga Rp 4 ribu per kilogram. “Panen raya tahun ini harga melon turun,” ujar Mungin, 72, petani asal Desa Kedungrejo, Tanjunganom.

Terkait penurunan harga buah berwarna hijau itu, Mungin mengaku tidak tahu sebabnya. Hanya saja, menurutnya pada September ini memang merupakan panen raya melon. Bukan hanya petani di Desa Kedungrejo saja yang menanam melon. Melainkan juga banyak petani di desa lain yang melakukannya.

Setelah memanen padi pada Juli lalu, mereka ganti menanami lahannya dengan melon. Meski harga merosot, Mungin dan petani lain tidak resah. Sebab, dengan harga Rp 3-4 ribu per kilogram, mereka masih mendapat untung.

Pun demikian saat produktivitas panenan mereka tahun ini turun. Biasanya, lelaki tua itu bisa memanen melon hingga 15 ton dari lahannya yang seluas 200 ru. Tetapi, tahun ini dia hanya mendapat 13 ton. “Itu sudah termasuk yang disortir karena buah rusak dan layu,” lanjutnya.

Pada musim tanam melon tahun ini, daun melon yang ditanamnya cepat kering. Hal itulah yang membuat buah tidak bisa berkembang maksimal. Termasuk ada buah yang rusak dan layu.

Belum lagi, mereka juga harus berhadapan dengan hama tikus dan faktor cuaca yang panas. Meski demikian Mungin yang menjual buahnya ke distributor di Solo, Jakarta, dan Jogjakarta itu bersyukur karena dia masih mendapat harga bagus. “Harganya tergantung persetujuan dengan pengepul. Masih untung,” urainya tersenyum.

Dengan panenan sekitar 13 ton, dia masih mendapat uang sekitar Rp 50 juta. Dikurangi biaya tanam yang mencapai belasan juta, dia masih bisa untung puluhan juta rupiah.

Terpisah, Anang, 40, petani melon lainnya menuturkan, produktivitas panenan melon baru turun tahun ini. Kendala yang dihadapinya pun sama dengan Mungin. Yakni, cuaca panas yang membuat daun cepat layu dan buah tidak bisa maksimal.

Perkembangan melon yang kurang bagus itu menurut Anang sudah terlihat dari hari ke 50-60 penanaman. Meski sudah berupaya melakukan pengairan, perkembangan tetap tidak maksimal.  

Pantauan koran ini, hingga kemarin memang masih banyak petani di Desa Kedungrejo yang memanen melonnya. Sejumlah truk besar hilir-mudik mengangkut melon. Para kuli panggul melon juga hilir mudik mengangkut buah yang baru dipetik itu.

Bhabinkamtibmas Kedungrejo Brigadir Andhika Candra yang kemarin melakukan patroli mengatakan, dirinya memberi perhatian pada panen raya melon karena di lokasi tersebut juga jadi akses warga desa. Sehingga, selain truk pengangkut buah juga ada anak-anak dan warga yang melintas. “Patroli untuk memastikan keamanan,” tegasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia