Kamis, 22 Oct 2020
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Cabut Kebijakan Isolasi Mandiri

Angka Kematian di Nganjuk Lebih Tinggi

19 September 2020, 12: 20: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Korona

TEGAS: Bupati Novi Rahman Hidayat membeberkan beberapa kebijakan baru dalam penanganan Covid-19 usai rapat di ruang Anjuk Ladang, kemarin. (Iqbal Syahroni- radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk–Penambahan kasus Covid-19 di Nganjuk direspons oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Nganjuk. Sejak kemarin mereka mencabut kebijakan isolasi mandiri bagi pasien terkonfirmasi positif tak bergejala. Alasannya, isolasi mandiri tersebut jadi penyebab penambahan klaster keluarga.

Keputusan pencabutan kebijakan isolasi mandiri itu diungkapkan oleh Bupati Novi Rahman Hidhayat usai memimpin rapat GTPP Covid-19 bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di ruang rapat Anjuk Ladang, kompleks Pemkab Nganjuk kemarin. “Kasus akan bertambah terus jika dilakukan isolasi mandiri di rumah. Menjadi klaster keluarga baru,” ujar pria yang juga ketua GTPP Covid-19 itu.

Dengan pencabutan kebijakan isolasi mandiri, lanjut bupati muda itu, penanganan pasien Covid-19 akan dilakukan di sejumlah tempat yang sudah ditetapkan. Kembali seperti sebelumnya.

Korona

Tegas Lawan Korona (Grafis: Dedi Nurhamsyah - radarkediri.id)

Yakni, untuk pasien reaktif dan tanpa gejala akan dirawat di RS Darurat Covid-19 Pu Sindok. Adapun yang bergejala berat bisa dirawat di beberapa RS rujukan. Mulai di RSUD Nganjuk, RSUD Kertosono, dan di RS Bhayangkara Moestadjab.

Lebih jauh Novi menjelaskan, pencabutan kebijakan isolasi mandiri dicabut berdasar banyak pertimbangan. Di antaranya, isolasi mandiri membuat penularan semakin tinggi. Keluarga yang sebelumnya tidak terinfeksi Covid-19 ikut terpapar.

Karenanya, mulai saat ini sejak pasien dinyatakan reaktif langsung dibawa untuk diisolasi. Tempatnya bisa di RS Darurat Covid-19 Pu Sindok atau beberapa RS lainnya. “Ini untuk mencegah transmisi lokal dan klaster keluarga,” terang bapak empat anak itu.

Lebih jauh Mas Novi mengungkapkan, tak hanya munculnya banyak klaster keluarga yang jadi perhatian GTPP. Melainkan juga angka kematian pasien Covid-19 di Kota Angin yang lebih tinggi dari Jawa Timur.

Pria yang gemar memakai topi merah ini menyebut, angka kematian pasien Covid-19 di Jatim di bawah tujuh persen. Sedangkan di Nganjuk mencapai 11 persen.

Dia pun meminta agar pengobatan pasien Covid-19 jadi perhatian. Termasuk penanganan pasien sebelum kondisi mereka menjadi parah. “Upaya pengobatan, dan pencegahan persebaran yang kami tekankan untuk saat ini,” jelasnya.

Selain beberapa langkah tersebut, Novi mengungkapkan, Kabupaten Nganjuk akan memperketat kedisiplinan penerapan protokol kesehatan. Terutama pemakaian masker dan penerapan physical distancing saat berada di tempat keramaian.

Usai me-launching mobil Covid Hunter Rabu (16/9) malam lalu, Novi berharap pengawasan terhadap masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan bisa lebih ketat dan tegas. “Pemakaian masker dan physical distancing bisa mencegah penularan Covid-19. Sangat efektif,” pesannya.

Tegas Lawan Korona:

-Pemkab mencabut kebijakan isolasi mandiri pasien Covid-19 tak bergejala

-Pasien tak bergejala akan dirawat di RS Darurat Covid-19 Pu Sindok agar tak menulari keluarganya

-Pasien bergejala berat akan dirawat di tiga RS rujukan

-Angka kematian pasien Covid-19 yang tinggi diantisipasi dengan mengoptimalkan pencegahan

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia