Kamis, 22 Oct 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Usaha Perajin Genting yang Masih Bertahan

19 September 2020, 13: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

TELATEN: Sejak menikah dengan Kuswanto, Yatmi meneruskan usaha genting ibu mertuanya.

TELATEN: Sejak menikah dengan Kuswanto, Yatmi meneruskan usaha genting ibu mertuanya. (HABIBAH A. MUKTIARA)

Share this          

Mayoritas penduduk Dusun Templek, Desa Gadungan merupakan perajin genting tanah liat. Tetapi, seiring waktu, hanya tersisa 50 perajin. Salah satunya keluarga Yatmi.

HABIBAH A. MUKTIARA, KABUPATEN, JP Radar Kediri

Suara retakan kayu terbakar terdengar di antara alunan musik dangdut. Berasal dari tungku berisi tumpukan ribuan genting yang sedang dibakar. Tidak jauh dari tungku, terlihat seorang perempuan sedang sibuk melakukan aktivitasnya.

Kedua tangannya sibuk mengoperasikan alat cetak terbuat dari besi. Perempuan tersebut adalah Yatmi, perajin genting asal Dusun Templek, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu. “Pembakaran sudah dimulai kemarin, membutuhkan waktu 24 jam,” jelas perempuan berusia 46 tahun.

Ketika ditemui kemarin (18/9) Yatmi mengatakan bahwa dulu di Dusun Templek, semuanya adalah perajin genting tanah liat. Namun dengan perkembangan zaman, saat ini perajin genting hanya sekitar 50 orang. Sebagian besar warga beralih menjadi pembuat batu bata atau memilih melakukan pekerjaan lain.

Penyebabnya karena imbas dari krisis moneter. Pada saat itu genting yang per seribu buah biasa dijual dengan harga Rp 900 ribu hingga Rp 1 juta, hanya bisa dijual dengan harga Rp 400 ribu. Akibatnya banyak orang yang menjual alat cetaknya ke tukang rongsokan. “Setelah menikah baru meneruskan usaha pembuatan genting,” imbuhnya.

Yatmi menikah dengan Kuswanto ketika berusia 19 tahun, sehingga sudah 27 tahun ia menggeluti usaha pembuatan genting. Pembuatan genting yang ia lakukan saat ini meneruskan usaha mertuanya. Sebelumnya, Nur Khamid dan Sutinah terlebih dahulu menjadi pembuat genteng. Dari tujuh bersaudara, hanya empat anak yang meneruskan usaha pembuatan genting. Usaha yang dilakukan tersebut masih berada di satu lokasi, bahan dan peralatan digunakan sama. Bahkan ketika proses pembakaran dilakukan di tungku yang sama “Daripada saya tidak ada kegiatan, saya lebih baik mencetak genting” ungkap Yatmi.

Sementara ia membuat genting, suami dan anak pertamanya Baihaqi bekerja menjadi sopir. Mereka terpaksa bekerja karena hasil pembuatan genting tanah liat hanya mencukupi kebutuhan makan saja.

Terkait pembuatan genting dari tanah liat, Yatmi mengatakan bahwa saat ini bahan yang digunakan berasal dari luar kota. “Dulu tanah liat berasal dari sekitar rumah,” terang ibu dari dua anak tersebut.

Sebelumnya tanah liat ini diambil digali dari pekarangan. Namun karena sering digali, membuat tanah liat saat ini sudah habis. Sehingga tanah liat yang digunakan untuk membuat genting saat ini berasal dari luar kota. Untuk harga tanah liat satu truk dapat dibeli dengan harga Rp 200 ribu. (ara/dea)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia