Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Sego Tumpang
icon featured
Sego Tumpang

--Gradual--

17 September 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

--Gradual--

Share this          

Sudah jadi kecenderungan umum. Bahwa damai lebih menjadi pilihan daripada konflik. Bahwa harmoni lebih disuka daripada kekacauan. Bahwa yang moderat lebih mudah diterima dibanding yang ekstrem.

Itulah mengapa teologi sunni lebih banyak diterima oleh umat Islam dibanding aliran teologi yang lain. Karena sunni bisa merangkul lebih banyak pendapat. Tidak menang-menangan. Tidak condong ke satu sisi secara ekstrem.

Dalam usaha dan takdir, misalnya. Teologi ini tidak fatalistik, menyandarkan segala sesuatu kepada Tuhan tanpa ada kekuasaan manusia sedikit pun. Tidak juga liberal-rasionalistik, mengagungkan upaya manusia tanpa ada campur tangan Tuhan sama sekali.

Baca juga: Tak Hanya Berkutat dengan Donor Darah

Sunni ada di tengah-tengah. Moderat. Perubahan nasib tak mungkin terjadi tanpa manusia sendiri yang mengusahakannya. Karena itulah manusia diberi kemampuan oleh Tuhan. Tapi, jangan sombong, kemampuan manusia bukanlah yang mutlak dalam menentukan nasibnya. Sebab, di situ ada kemahakuasaan Tuhan yang berada di atas segalanya.

Makanya, masyarakat Jawa yang punya falsafah ngono ya ngono ning aja ngono sangat welcome terhadap teologi ini. Sebab, seperti teologi sunni, falsafah Jawa selalu menghendaki harmoni. Harmoni antarmanusia. Harmoni manusia dengan makhluk lain. Harmoni manusia dengan alam semesta.

Dalam harmoni, perubahan –semendasar apa pun—terjadi secara gradual. Bagi orang-orang yang tidak sabaran, mungkin itu akan terasa menjemukan. Kurang ngegas. Tapi, itulah yang menjamin kendaraan tidak oleng. Tidak terjadi guncangan. Dan, penumpang di dalamnya tidak mabuk, muntah-muntah. Hingga sampai tujuan.

Apa artinya cepat sampai tujuan tapi kendaraan remuk akibat terbentur-bentur dan penumpangnya lemes semua? Inilah yang tak dikehendaki madzhab harmoni. Mereka hanya akan ngegas, kalau perlu sekencang-kencangnya, ketika jalan benar-benar mulus dan semua dalam kendali. Karena itu pula mereka tidak pernah ngerem ndadak karena semua sudah masuk dalam perhitungan. Dengan demikianlah penumpang dijamin selalu merasa aman dan nyaman.

Bukankah Alquran diturunkan juga secara gradual, tidak langsung blek berupa satu kitab utuh? Bukankah demikian pula kerasulan dan dakwah yang dilakukan Muhammad kepada umatnya 1.400 tahun yang lalu? Begitu juga para rasul dan orang-orang suci yang pernah ada di dunia ini?

Mereka melakukan perubahan mendasar dalam kehidupan masyarakatnya secara gradual. Dengan jalan damai. Bukan dengan menyerang. Tetapi membangun kesadaran. Dengan jalan itulah mereka mendapat simpati luas dari masyarakatnya. Kalaupun kemudian ada yang memusuhi, adalah para elite yang merasa terancam oleh perubahan itu. Meski, nabi dan orang-orang suci itu tidak pernah mengancamnya.

Tentang jalan damai perubahan, sunni punya doktrin yang amat populer. Al muhafadhatu ‘ala qadiim al shalih wa al akhdzu bi al jadiid al ashlah. Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik.

Segala hal yang berbau lama tidak dibumihanguskan. Segala hal yang baru tidak diterima atau ditolak begitu saja. Semua dipilah dan dipilih. Yang baik dipakai, yang buruk ditinggalkan. Sehingga, poinnya bukan pada yang lama atau yang baru. Melainkan, nilai kebaikannya.

Sejarah sudah memberikan pelajaran. Perubahan yang dilakukan tanpa dilandasi doktrin di atas selalu menyisakan persoalan. Ibarat menyimpan bara dalam sekam. Apalagi jika landasannya adalah dendam. Tinggal menunggu waktu untuk membakar. Perebutan kekuasaan raja-raja di Jawa, peristiwa 1965 yang berujung tumbangnya Orde Lama di bawah Sukarno, serta reformasi 1998 yang mengakhiri Orde Baru di bawah Soeharto.

“Dunia ini tidak hanya terdiri dari hitam dan putih, Yo,” kata Mbok Dadap sambil nggrujuk sambel tumpang ke atas tumpukan nasi, kulupan capar, tewel, kangkung, dan lauk peyek plus trasi dele di piring untuk Kang Noyo.

“Kehidupan bukanlah ruang yang hampa,” lanjutnya, “Seburuk-buruk manusia, tidak mungkin tak ada yang baik sepanjang sejarah hidupnya. Begitu pula sebaliknya. Sebaik-baik manusia, tidak mungkin tak ada bagian yang buruk dalam dirinya.”

“Nobody’s perfect, Kang,” kata Dulgembul yang melek gara-gara ngambus aroma sego tumpang terhidang di sebelahnya.

“Lho, Mbul, wis tangi?,” Kang Noyo memandangnya heran. Kok nyandak… (tauhid wijaya)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news